Tech

Audemars Piguet RD#5: Era Baru Mekanisme Ikonik Royal Oak "Jumbo"

Audemars Piguet RD#5: Era Baru Mekanisme Ikonik Royal Oak "Jumbo"
Audemars Piguet RD#5: Era Baru Mekanisme Ikonik Royal Oak "Jumbo"

Audemars Piguet, jam tangan yang harganya bikin kita bertanya-tanya, "Ini jam bisa transfer data KTP juga, ya?" Kembali berulah dengan Royal Oak “Jumbo” Extra-Thin Selfwinding Flying Tourbillon Chronograph RD#5. Panjang betul namanya. Tapi, yang jelas, ini bukan sekadar jam tangan. Ini adalah perpisahan dari era RD series. Pertanyaannya, perpisahan ini akan semelow lagunya Tulus atau justru se-hype konser কোল্ডপ্লে? Mari kita bedah.

Selamat Tinggal, RD Series!

Setelah 10 tahun berinovasi, Audemars Piguet memutuskan untuk mengakhiri RD series dan menggabungkan inovasinya ke AP Fabrication Laboratories. Ibarat kata, mereka pensiunkan tim inti dan membentuk squad baru yang lebih canggih. Fab Labs ini akan melanjutkan warisan RD melalui riset, prototipe, dan kolaborasi lintas disiplin. Semoga saja hasilnya tidak malah jadi inovasi yang nggak jelas kayak fitur "Metaverse" itu, ya.

RD#5 hadir sebagai penutup yang spektakuler. Chronograph ini hadir dalam Royal Oak “Jumbo”, ikon yang lahir tahun 1972. Dulu, ukuran 39mm dianggap “Jumbo”, sekarang malah terlihat seperti jam tangan anak SD. Tapi, jangan salah, “Jumbo” ini tetap jadi incaran. Apalagi dengan mekanisme yang dikembangkan selama lima tahun: Calibre 8100, menampilkan flying tourbillon dan flyback chronograph. Kombinasi yang baru pertama kali muncul di Royal Oak.

Tunggu dulu, flying tourbillon? Kedengarannya seperti jurus pamungkas di anime. Tapi, intinya, ini adalah komplikasi jam tangan yang rumit dan indah. Flyback chronograph? Oke, ini mulai terdengar seperti nama gadget di film James Bond. Yang jelas, semua ini bikin jam tangan ini makin mahal dan eksklusif. Tapi, memangnya apa yang baru?

Pencetannya Kok Empuk Banget?

Tujuan utama RD#5 adalah menciptakan chronograph yang nyaman digunakan. Caranya? Dengan menyempurnakan respons taktil pada pusher alias tombol pencetannya. Dulu, tombol chronograph butuh tekanan 1,5 kg dengan jarak 1mm. Sekarang, terinspirasi dari tombol smartphone, tekanannya jadi 300g dengan jarak 0,3mm. Hasilnya? Pencetan chronograph jadi seenak mencet tombol like di Instagram. Tinggal sekali sentuh.

Perubahan ini memang terkesan sepele, tapi dampaknya signifikan. Bayangkan, Anda lagi nyetir mobil sambil pakai jam ini. Mau mencet chronograph buat ngukur kecepatan? Nggak perlu lagi tenaga Hercules. Cukup sentuhan lembut ala-ala jari influencer. Inovasi yang sangat relevan dengan gaya hidup modern, bukan?

Selain itu, ada kaca safir di bagian depan dan belakang jam, memberikan ruang bagi jarum dan oscillating weight untuk bergerak bebas. Ibaratnya, panggung teater yang luas untuk para pemainnya. Kita bisa melihat semua mekanisme rumit itu dengan jelas. Sebuah pertunjukan yang hanya bisa dinikmati oleh para pemilik jam tangan seharga rumah mewah.

Zero-Setting System: Lebih Cepat dari Kilat

Audemars Piguet nggak berhenti di situ. Mereka juga merancang ulang sistem zero-setting untuk presisi dan intuitivitas yang lebih baik. Mekanisme yang dipatenkan ini mengoptimalkan energi melalui sistem rack-and-pinion. Energi disimpan dalam rack untuk menjaga gear train tetap tegang dan mencegah getaran yang nggak perlu pada jarum chronograph.

Fungsi flyback memanfaatkan energi yang disimpan dalam rack untuk kembali ke nol secara instan. Giulio Papi, direktur desain pembuatan jam, menjelaskan dengan analogi yang menarik: “Bayangkan chronograph tradisional sebagai mobil yang melaju dengan rem tangan aktif. Calibre 8100 menghilangkan rem tangan itu; sebaliknya, bayangkan terikat pada karet gelang saat keluar dari garasi. Ia akan menggunakan energi yang tersimpan, yang akan hilang karena gesekan saat rem tangan dilepaskan, dalam elastis untuk kembali ke garasi.”

Reset Sekejap, Lompatan Menit Instan

Bersama dengan jarum titanium ringan dan roda chronograph, reset memakan waktu kurang dari 0,15 detik dan bahkan memberikan lompatan menit instan, fitur yang sangat dihargai oleh kolektor. Ini dibantu oleh sistem clutch vertikal inovatif yang menggabungkan clutch tradisional dan friksi, memungkinkan roda clutch bergerak vertikal untuk meningkatkan stabilitas.

Singkatnya, semua inovasi ini membuat jam tangan ini lebih cepat, lebih presisi, dan lebih nyaman digunakan. Tapi, pertanyaannya, apakah semua itu sepadan dengan harganya? Tentu saja, itu tergantung pada isi dompet dan prioritas masing-masing. Tapi, satu hal yang pasti, Audemars Piguet Royal Oak “Jumbo” Extra-Thin Selfwinding Flying Tourbillon Chronograph RD#5 adalah bukti nyata bahwa inovasi nggak pernah berhenti. Bahkan, di dunia jam tangan mewah sekalipun.

Lalu, Apa Artinya Bagi Kita?

Audemars Piguet Royal Oak “Jumbo” Extra-Thin Selfwinding Flying Tourbillon Chronograph RD#5 mungkin nggak akan jadi jam tangan yang bisa kita beli. Tapi, inovasi di dalamnya bisa jadi inspirasi. Bahwa, bahkan di bidang yang sudah mapan sekalipun, selalu ada ruang untuk perbaikan dan inovasi. Asalkan kita berani berpikir di luar kotak dan nggak takut untuk mencoba hal-hal baru.

Jadi, meskipun kita nggak punya uang untuk membeli jam tangan ini, kita tetap bisa belajar darinya. Bahwa, kesempurnaan itu bukan tujuan akhir, tapi perjalanan yang nggak pernah selesai. Dan, kadang-kadang, inovasi terbaik datang dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Seperti, misalnya, tombol pencetan yang lebih empuk. Siapa sangka, dari situ bisa lahir mahakarya?

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.