Game

Blackbeard Assassin's Creed: "Tanpa Emas, Mungkin Kami Pahlawan?"

Blackbeard Assassin's Creed: "Tanpa Emas, Mungkin Kami Pahlawan?"
Blackbeard Assassin's Creed: "Tanpa Emas, Mungkin Kami Pahlawan?"

Lupakan sejenak soal "Nothing is true, everything is permitted" atau "We work in the dark to serve the light" yang sudah jadi klise. Di antara rentetan dialog legendaris dari franchise Assassin's Creed yang sudah berjalan dua dekade, ada satu kutipan yang meresap lebih dalam, lebih menggigit, dan bikin kita merenung: ucapan terakhir Blackbeard di Assassin's Creed 4: Black Flag. Ini bukan sekadar dialog pamungkas, tapi sebuah filosofi yang terbungkus ironi tajam, membuat karakter bajak laut legendaris ini terasa lebih manusiawi ketimbang sekadar ikon penjarah lautan.

Edward Thatch, alias Blackbeard, yang tampil sebagai karakter pendukung di Black Flag (2013), seharusnya jadi sekadar hiasan dalam era keemasan bajak laut di awal abad ke-18. Namun, perannya sebagai rekan seperjuangan Edward Kenway dalam misi mendirikan utopia bajak laut di Karibia justru memberinya panggung. Puncaknya, saat duo ini terdesak dalam pertempuran sengit melawan pasukan Inggris di atas geladak kapal, Thatch meneriakkan kalimat yang kini melegenda: “In a world without gold, we might’ve been heroes!” Sesaat setelah itu, peluru prajurit musuh merenggut nyawanya, mengiringi adegan slow-motion dramatis yang menghunjam hati para pemain.

Sebuah Paradoks Keemasan

Darby McDevitt, penulis skenario Black Flag, menjelaskan bahwa kutipan tersebut lahir dari hasrat untuk merangkum tema utama naratif Black Flag. Ide dasarnya adalah bagaimana para bajak laut ini, meskipun tidak semuanya, sebenarnya memiliki potensi untuk berjuang demi tujuan yang lebih mulia. Namun, takdir justru melemparkan mereka ke dalam lingkungan yang lebih menghargai kesenangan sesaat dan hal-hal dangkal daripada kebajikan yang hakiki. Blackbeard, dan tentu saja Edward Kenway sendiri, adalah representasi dari jiwa-jiwa yang terperangkap dalam dilema ini.

Kematian Blackbeard menjadi salah satu momen emosional paling signifikan dalam Black Flag. Kalimat terakhirnya terus bergema, menghiasi berbagai postingan di Reddit hingga konten video penggemar belasan tahun kemudian. Namun, ironisnya, ada kemungkinan besar kita tidak akan pernah mendengar kalimat tersebut dalam bentuknya yang ikonik. Naskah aslinya ternyata jauh lebih panjang: "In a world without wine, women, and gold, we might have been heroes!" Sebuah kalimat yang lebih menggambarkan keputusasaan bajak laut pada umumnya, namun kehilangan daya pukau dan kedalamannya.

Perubahan drastis ini terjadi saat proses latihan. Aktor Richard Mark Bonnar, yang memerankan Blackbeard, merasa dialog yang panjang itu tidak sesuai dengan intensitas adegan pertempuran hidup-mati. Bayangkan saja, di tengah serbuan musuh, seorang bajak laut masih sempat merangkai kalimat panjang nan puitis? Sutradara adegan, Kama Dunsmore, segera meminta revisi. Keputusan ini terbukti jitu, memangkas kalimat tersebut menjadi intisari yang lebih tajam dan menusuk.

Filosofi Bajak Laut yang Terpinggirkan

McDevitt sendiri mengakui bahwa ketika melihat kembali dialog yang diperpanjang itu, ia menyadari bahwa inti dari kesedihan Blackbeard bukanlah sekadar hilangnya kesenangan duniawi seperti anggur dan wanita. Jauh lebih dalam, keserakahan akan emaslah yang menjadi sumber korupsi dan menghalangi para bajak laut ini menjadi sosok yang lebih terhormat. Dengan memotongnya menjadi "In a world without gold," esensi pesan moralitas yang terdistorsi oleh kerakusan menjadi sangat jelas. Penampilan Bonnar yang memukau pada pengambilan gambar berikutnya menegaskan bahwa keputusan tersebut adalah langkah yang tepat.

Antusiasme pemain terhadap kutipan ini menjadi bukti sahih bahwa tim Black Flag telah membuat pilihan yang cerdas. McDevitt, yang telah menulis naskah Assassin's Creed selama 15 tahun, bahkan menyebutkan bahwa kutipan ini adalah yang paling sering ia dengar dari para penggemar. Alasannya sederhana: singkat, padat, dan mudah diingat. Cocok disematkan di kartu Instagram, poster motivasi, atau sekadar dibagikan antar pemain. Kutipan yang mampu menyampaikan ide besar dalam bahasa yang lugas dan efisien.

Namun, di balik kilau emas dan kehebatan bajak laut, McDevitt mengingatkan bahwa mereka tetaplah penjahat di lautan lepas. Pesona dan citra ikonik yang melekat tidak seharusnya membutakan kita dari kenyataan tersebut. Meski begitu, ada secercah nurani yang terpancar dari ucapan Blackbeard. Ia jelas menunjukkan keinginan untuk melepaskan diri dari kehidupan bajak laut, sebuah pergulatan batin yang menarik untuk dikaji lebih dalam dari karakter yang identik dengan kekerasan dan penjarahan.

Simbolisme dalam Dunia Assassin's Creed

Esensi dari kutipan Blackbeard ini, sejatinya, adalah fondasi penceritaan Assassin's Creed itu sendiri. Tindakan membunuh, betapapun dibungkus dengan tujuan mulia seperti memperjuangkan kebebasan, tetaplah sebuah kejahatan di mata masyarakat. Namun, sejarah, seperti yang selalu ditekankan dalam narasi Assassin's Creed, bukanlah entitas yang statis dan tak tergoyahkan. Melalui konflik fiksi abadi antara Assassins dan Templars, seri ini selalu piawai dalam menjelajahi area abu-abu moralitas.

Penggunaan tokoh-tokoh sejarah yang terkenal menjadi semacam studi kasus bagi penulis untuk menggali alasan di balik perilaku manusia. Ditekankan bahwa sebuah kejahatan jarang sekali sepenuhnya merupakan kesalahan individu semata. Lebih sering, kejahatan itu lahir dari kondisi sosial yang menciptakan kebutuhan atau pembenaran atas tindakan tersebut. Blackbeard, dalam konteks ini, bukan sekadar bajak laut, melainkan korban dari sistem yang memberinya label demikian, namun juga memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang lebih dari itu.

Kehadiran Assassin's Creed IV: Black Flag Remastered, yang diumumkan Ubisoft pada Maret lalu, menimbulkan pertanyaan apakah kutipan legendaris ini akan tetap hadir. Meskipun McDevitt enggan berkomentar soal detail remake, satu kalimat tersebut berhasil merangkum seluruh etos Assassin's Creed dalam sebuah wadah kecil yang kuat. Sulit membayangkan sebuah versi gim tanpa adegan epik tersebut, yang memberikan dimensi baru pada sosok Blackbeard dan memperkaya narasi Assassin's Creed secara keseluruhan.

Penting untuk diingat, seperti yang McDevitt sendiri akui, ucapan Blackbeard di gim ini tidak memiliki kemiripan apa pun dengan catatan sejarah mengenai kalimat terakhirnya. Namun, justru di sinilah letak kejeniusan naratifnya. Mungkin saja, penyimpangan dari fakta sejarah ini adalah pengaruh dari intrik Templars yang ingin membelokkan persepsi publik terhadap sosok Blackbeard, menjadikannya hanya sekadar penjahat rakus dan mengabaikan potensinya yang tersembunyi.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.