Setelah berbulan-bulan menenggelamkan diri dalam lautan nostalgia, merayakan ulang tahun album ikonik dengan tur tanpa henti, merilis ulang materi lama, dan bahkan membiarkan generasi baru mengeksplorasi katalog mereka melalui album cover dan novel grafis, Broken Social Scene seolah bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana cara mengulang kejayaan masa lalu?". Alih-alih terjebak dalam dilema eksistensial ala band yang kehabisan bensin kreatif, para jenius asal Toronto ini justru memilih jalur yang tak terduga: membangun studio di desa terpencil Warkworth, Ontario, dan membiarkan suasana pedesaan yang kaya akan produk lokal – mulai dari sirup mapel hingga festival 'pai sempurna' – meresapi karya terbaru mereka, Remember the Humans, album perdana dalam sembilan tahun terakhir.
Keputusan untuk membangun markas baru di tengah keindahan alam Ontario tampaknya menjadi katalisator bagi Broken Social Scene. Lingkungan yang tenang ini menjadi wadah bagi dinamika band yang selalu berputar, tempat ide-ide mengalir dan terukir selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kehadiran para musisi yang silih berganti, semuanya dipandu oleh intuisi dan kejujuran musikal, berhasil melahirkan Remember the Humans, sebuah album yang bukan sekadar pengulangan formula lama. Judulnya memang sengaja dibuat sebagai permainan kata dari album legendaris You Forgot It in People, namun isinya adalah penegasan bahwa band ini tidak berputar di masa lalu.
Kembali Menemukan Ritme, Bukan Mengulang
Berbeda dengan album-album sebelumnya yang cenderung meningkatkan volume hingga mencapai titik didih sonik, Remember the Humans mengambil pendekatan yang lebih terkendali. Broken Social Scene tidak sepenuhnya kembali ke akar post-rock instrumental mereka, namun mereka jelas merangkul kembali keinginan untuk berjam-jam, menciptakan lanskap suara yang mengalir dan menenangkan. Jika dulu mereka dikenal dengan teriakan lepas dan dinding gitar yang memekakkan telinga, kini mereka terdengar lebih...sadar diri. Namun, jangan salah paham; ini tetaplah esensi Broken Social Scene yang autentik. Lagu-lagu patah hati, citra sureal yang menggugah imajinasi, kerinduan akan koneksi yang tak terhindarkan terbentur pada kegagalan diri sendiri – semua elemen itu hadir, hanya saja menuntut tingkat pendengaran yang lebih sabar dari pendengar.
Langkah berani ini terlihat jelas ketika mempertimbangkan keputusan Kevin Drew untuk memotong lagu yang menampilkan Emily Haines (Metric) dan Amy Millan (Stars) dari daftar lagu. Keputusan sulit ini diambil demi menjaga kohesi emosional dan naratif album. Setiap pembukaan lagu di Remember the Humans diatur dengan cermat, dimulai dengan serangkaian instrumen yang berputar lembut, seperti mengundang pendengar masuk ke dalam dunia mereka. "Not Around Anymore," misalnya, mengalir dari simfoni seruling, trombon, dan flugelhorn yang halus, sebelum meledak menjadi gelombang gitar dan saksofon yang megah. Di tengah kesedihan Drew atas kehilangan ibunya dan keruntuhan sosial, musik kolektif ini bertindak sebagai jangkar yang kokoh, mengangkatnya kembali.
Lagu "Not Around Anymore" menjadi cerminan dari tema-tema yang berulang di seluruh album: jam-jam panjang yang membebaskan, instrumentasi yang kaya dan berlapis, serta pencerahan yang matang. Kombinasi elemen-elemen kunci ini menghasilkan pengalaman mendengarkan yang mulus, bahkan cenderung sensual, sangat kontras dengan daya tarik instan dari pop hooks mereka di masa lalu. "And I Think of You" membawa nuansa pastiche elevator music era '80-an, lengkap dengan melodi saksofon ceria, congas, dan klarinet. "This Briefest Kiss," yang awalnya berdurasi sembilan menit, merambah ke wilayah R&B berkat bassline Brendan Canning yang santai dan performa vokal Ariel Engle yang penuh jiwa.
Keheningan Meditatif di Tengah Keramaian
Album ini dipenuhi dengan momen-momen keheningan meditatif, sebuah pencapaian luar biasa mengingat banyaknya musisi yang terlibat dalam setiap sesi rekaman. Ambil contoh "Life Within the Ground," di mana falsetto halus Jill Harris berpadu dengan percikan nada piano, menciptakan tekstur suara yang mengingatkan pada tetesan hujan di atas kaca. Menganggap palet suara yang lebih lembut ini sebagai monotonitas adalah kelalaian yang fatal; itu berarti mengabaikan keindahan setiap panorama sonik yang disajikan.
Evolusi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Broken Social Scene tampaknya telah menemukan keseimbangan yang sempurna antara evolusi artistik dan pemeliharaan identitas mereka. Mereka tidak takut untuk bereksperimen dengan pendekatan yang lebih tenang, namun tetap mempertahankan inti emosional dan liris yang telah mendefinisikan mereka selama bertahun-tahun. Album ini bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang menavigasi masa kini dengan kebijaksanaan yang diperoleh dari pengalaman masa lalu.
Setiap trek di Remember the Humans terasa seperti sebuah perjalanan tersendiri. Ada momen-momen introspektif yang mendalam, diselingi dengan ledakan energi kolektif yang khas. Hal ini menunjukkan kedalaman dan kedewasaan band dalam mengolah materi mereka, membiarkan setiap elemen musik bernapas dan berkembang secara organik.
Potensi Terpendam dan Penataan yang Cermat
Kehadiran musisi tamu seperti Haines dan Millan, meskipun akhirnya tereliminasi demi kesatuan album, menegaskan ambisi Broken Social Scene untuk terus berkolaborasi dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Keputusan Drew untuk memprioritaskan kekompakan nuansa album di atas kehadiran bintang tamu adalah bukti kedewasaan artistik yang patut diapresiasi.
Mulai dari alunan flute yang mengawang hingga dentuman drum yang menghentak, setiap instrumen ditempatkan dengan presisi. Penggunaan ruang negatif dalam aransemen sering kali sama pentingnya dengan nada yang dimainkan, menciptakan atmosfer yang kaya dan sugestif.
Album ini memaksa pendengar untuk melambat dan menyerap detail-detail halus. Bukan jenis musik yang cocok untuk didengarkan sambil lalu di tengah keramaian. Ia membutuhkan perhatian, dedikasi, dan kemauan untuk tersesat dalam labirin suara yang dibangun oleh para musisi.
Perjalanan Melalui Ruang dan Waktu
Remember the Humans terasa seperti sebuah meditasi tentang keberadaan, tentang hubungan antar manusia, dan tentang tempat individu dalam skema besar kehidupan. Lirik-liriknya sering kali bersifat puitis dan introspektif, mengundang interpretasi pribadi dari setiap pendengar.
Penggunaan berbagai instrumen tiup, perkusi yang rumit, dan garis bass yang berdenyut secara konsisten menciptakan fondasi yang kokoh bagi melodi vokal dan gitar yang terkadang melayang. Ini adalah bukti nyata dari kedalaman musikalitas tim Broken Social Scene.
Pada akhirnya, Remember the Humans bukan sekadar koleksi lagu; ia adalah pengalaman yang kohesif dan imersif. Broken Social Scene sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan yang harus diperhitungkan dalam kancah musik independen, sebuah band yang terus berkembang dan menantang ekspektasi, bahkan setelah bertahun-tahun berkarya.



