Dulu, menghina selera orang lain itu hobi. Sekarang? Dosa! Tapi, tunggu dulu... di tengah gempuran slop dari AI dan TikTok, jangan-jangan kita butuh lagi sedikit kesombongan budaya biar nggak makin dongo?
Dulu Snob, Sekarang Sobat: Evolusi Selera Kita
Ingat Zev, mantan toxic di rom-com Lena Dunham yang jijik banget sama Vanderpump Rules dan lagu Miley Cyrus? Dulu, kita mungkin simpati sama Jess yang merasa bodoh karena suka "sampah" budaya. Tapi, Zev ini sebenarnya fosil hidup dari zaman ketika selera dibagi berdasarkan "kelas". Sekarang, semua dianggap valid: film superhero dibahas kayak tesis, Taylor Swift masuk kurikulum kuliah, dan reality show jadi potret kondisi bangsa. Tapi, apakah semua ini benar-benar bikin kita pintar?
Dulu, ada istilah "guilty pleasure". Sekarang? Lebih baik ngaku dosa daripada ngaku suka sesuatu yang "rendahan". Kita hidup di era poptimisme, di mana semua budaya dianggap setara. Musik pop dinilai punya value intrinsik, dan jijik sama genre tertentu dianggap sama dengan bigot. Anti-snobisme ini bahkan dianggap sebagai bentuk pembebasan dari prasangka misoginis. Tapi, kebebasan ini malah bikin kita kehilangan kompas?
Ketika "Let People Enjoy Things" Jadi Agama Baru
"Let people enjoy things" adalah mantra sakti yang menutup semua perdebatan selera. Kritik dianggap serangan personal, dan superstar nggak segan-segan nge-tweet balik kritikus. Akibatnya, antusiasme jadi standar baku. Ironisnya, band-band lawas kayak Oasis malah untung karena kita fokus nostalgia daripada nyinyirin lirik mereka yang gitu-gitu aja. Tapi, apakah kita benar-benar menikmati, atau cuma pura-pura biar nggak dicap sombong?
AI Datang, Standar Hilang?
Era baru sudah di depan mata: musik AI merajalela, dan YouTube ngasih warning soal konten "tidak otentik" dan "repetitif". Istilah "slop" lahir untuk menggambarkan konten sampah yang kosong dan nir-inspirasi. Apakah kita harus membiarkan orang menikmati ini juga? Jangan-jangan, "brain rot" yang jadi Word of the Year Oxford itu bukan cuma perasaan kita aja. Konsumsi dross media sosial ternyata emang nggak sehat secara biologis!
Standar Ganda: Dulu Anti Komersil, Sekarang...?
Lucunya, ciri-ciri slop AI dan medsos justru sama dengan yang dulu dibenci kaum snob: komersialisme brutal dan imitasi tanpa jiwa. AI bikin konten tanpa mikir panjang, medsos hidup dari views, dan keduanya cuma mendaur ulang tren. Dulu, "selling out" itu dosa besar. Sekarang, anak muda bingung kenapa bikin karya yang "laku" itu masalah. NFT yang dulu dijual jutaan dolar akhirnya jadi sampah digital ketika bubble-nya pecah. Harga menggantikan ide, dan yang tersisa cuma kehampaan.
Kebangkitan Snobisme: Mungkinkah?
Jika standar snobisme lama bisa jadi kritik rasional buat slop AI dan medsos, kenapa nggak kita terapkan lagi di semua lini? Toh, imitasi dan obsesi angka juga menjangkiti budaya populer konvensional. Perusahaan teknologi yang bikin TV cuma peduli viewership dan hobi ngeksploitasi selera yang sudah ada. Hasilnya? "Mid TV" kata kritikus New York Times: tontonan yang kompeten tapi nggak ambisius, aman tapi nggak berkesan. House of the Dragon dan Mr. and Mrs. Smith jadi contohnya.
Musik pop juga jadi korban algoritma Spotify. Lagu dibuat generik demi memuaskan selera pasar, dan kita terjebak dalam siklus reboot, adaptasi, dan spin-off yang nggak ada habisnya. Hollywood terlalu budak branding, sampai-sampai satire kayak The Studio di Apple TV+ menjadikan obsesi ini sebagai bahan lawakan. Awalnya, Matt Remick (Seth Rogen) jijik disuruh bikin film Kool-Aid. Tapi, di era pasca-Barbie, dia belajar berkompromi. (Maklum, dia cuma pionir kapitalis di perusahaan telepon yang pengen punya citra budaya).
Nilai Seni Itu Subjektif, Tapi...
Nilai seni memang subjektif, tapi ada kriteria umum yang bisa kita pertahankan. Adam Curtis dalam Shifty menampilkan Martin Amis yang bilang bahwa "ada konvulsi kebodohan besar di dunia, terutama karena TV". Amis memang terkesan kuno, tapi dia ada benarnya. Kita butuh hiburan di masa sulit, tapi jangan-jangan masa sulit itu justru produk budaya kita yang dongo dan mata duitan?
Melawan Arus: Snobisme Sebagai Benteng Terakhir?
Dalam wawancara tahun 1993, David Foster Wallace bilang bahwa budaya "rendah" (TV dan film populer) itu laku karena penonton maunya 100% kesenangan. Seni yang serius justru bikin nggak nyaman dan butuh kerja keras untuk dinikmati. Di era ketika nonton TV tanpa lihat HP aja udah kayak bertapa, etos Foster Wallace tetap relevan. Semakin mudah seni diproduksi dan dikonsumsi, semakin sedikit yang kita dapat: nggak ada makanan buat otak, cuma penegasan di tengah echo chamber.
Snobisme budaya mungkin nggak bisa ngalahin raksasa teknologi, AI, dan scroll medsos yang nggak ada habisnya. Tapi, sebagai benteng melawan seni hampa, komersial, dan tanpa intelek yang dibuat robot atau manusia, ada baiknya kita mempertimbangkan kembali. Jadi, jangan buru-buru ngecap orang yang punya standar itu sombong. Siapa tahu, mereka justru penyelamat kita dari kebodohan massal.



