Beberapa waktu lalu, bintang pop yang terkenal gemar melontarkan kutipan seenaknya, Charli XCX, dengan santai berujar bahwa “lantai dansa telah mati”. Pernyataannya ini sontak memancing perdebatan sengit, banyak yang berkeras menentangnya. Namun, alih-alih langsung mengabaikan pernyataan bombastis para pesohor tentang budaya secara umum—kita belum sampai pada era Gen Z yang mendaku “Disco Sucks”—perkataan Charli terus terngiang setelah mendengarkan album keenam Jessie Ware, Superbloom. Rasanya getir untuk diakui, tapi kali ini, ada kemungkinan ia benar.
Tak Lagi Berjoget dalam Keringat
Ware debut pada tahun 2012, mengukuhkan posisinya sebagai pembawa obor sophisti-pop dan Big British Ballad. Namun, angin perubahan mulai terasa saat penampilan 2018 di Coachella menuai respons pedas. Acara tersebut begitu kacau secara teknis dan janggal dengan kerumunan, sampai-sampai ibunya menasihati, “Sayang. Berhentilah.” Rekaman berikutnya, What’s Your Pleasure?, memberikan kejutan yang sangat dibutuhkan pada gayanya, mempercepat tempo dan menyalakan percikan api yang mengubah tema-tema cinta dan pengabdian menjadi urgensi klub malam yang lebih berpeluh.
Satu hal yang selalu terasa janggal dari pergeseran Ware ke lantai dansa adalah gayanya yang lebih mirip tuan rumah yang anggun daripada penari. Tiga album awalnya begitu berselera dan matang, memadukan kepekaan teater West End dengan kemahiran vokal R&B. Ware, dengan komitmen tak terbatas, terjun ke kehidupan malam dalam pusaran mutiara, kaftan, dan tatanan rambut yang rumit, menjadi latar musik bagi kebebasan orang lain, sementara dirinya tetap tampil memesona. Ibarat episode Bridgerton yang diawasi oleh seorang Countess, Ware sebagai sang penyelenggara acara bisa jadi megah dan berlebihan, namun tak pernah cukup berantakan atau konyol untuk mewujudkan fantasinya.
Poliester di Era Mikroplastik
Dengan perilisannya yang ketiga ini, trilogi disko longgarnya akhirnya mencapai titik akhir. Superbloom menyajikan sajian poliester lain di tengah era mikroplastik, terbebani oleh kesan murahan dan jelas-jelas kekurangan kilau serta kecerdasan. Fantasi Ware tentang koneksi instan dan seks yang luar biasa nikmat didukung oleh musik yang sangat presisi, menciptakan suasana Studio 54 yang terasa se-VIP sebuah ruang tunggu bandara. Rekaman ini menandai titik di mana kemurnian disko sang penyanyi bergeser menjadi literalitas yang terang-terangan. Fakta bahwa album ini dirilis pada akhir pekan kedua Coachella tahun ini terasa begitu ironis.
Fantasi yang Terlalu Sopan
Terinspirasi sebagian oleh kompilasi fantasi erotis wanita karya Gillian Anderson, Want, serta My Secret Garden karya Nancy Friday, Superbloom seharusnya menjadi manifestasi hasrat terdalam Ware. Namun, terlepas dari lirik yang ramah anak dan produksi yang berkesan seperti wallpaper bunga, album ini seolah ragu-ragu secara patologis untuk mengungkap hasrat tersebut. Penulisannya begitu polos dan tanpa tubuh sehingga sensor Hollywood era lama pun takkan keberatan untuk menyetujuinya. Lengan dan sensasi digenggam olehnya menjadi tindakan erotis yang dominan dalam rekaman ini, muncul di lagu utama, “Automatic,” “Love You For,” dan “No Consequences.” Begitu pula dengan “sentuhan,” yang diekspresikan sedemikian rupa sehingga wajar jika dianggap sebagai bagian dari protokol Covid. Selain petualangan kamar mandi yang seru di “Sauna,” Ware tidak mengungkapkan satu pun pikiran yang dapat dianggap tidak pantas, aneh, atau menyimpang, yang berarti tidak relevan dengan audiens yang lebih luas.
Kilau yang Pudar
Kepergian Ware dari narasi yang lebih berani dan eksplisit terasa seperti sebuah kemunduran. Alih-alih mengeksplorasi kedalaman fantasi yang ia janjikan, Superbloom justru menyajikan permukaan yang dipoles tetapi dangkal. Kualitas produksi yang tepat, yang seharusnya meningkatkan pengalaman pendengaran, malah terasa dingin dan steril. Lagu-lagu tersebut terdengar seperti dicetak massal, kurang memiliki jiwa dan keunikan yang menjadi ciri khas karya-karya Ware sebelumnya. Kekurangan sentuhan personal ini membuat album terasa jauh dari harapan, apalagi jika dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya yang memiliki kekuatan emosional.
Kebuntuan Kreatif atau Strategi Bisnis?
Pertanyaannya kemudian, apakah ini adalah kebuntuan kreatif murni, ataukah sebuah keputusan strategis yang terukur untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan aman? Ketika bintang pop secara konsisten menghindari risiko, menciptakan musik yang terdengar familiar namun tanpa terobosan, hasilnya adalah lanskap budaya yang semakin homogen. Superbloom, dalam segala upayanya untuk terdengar elegan dan menawan, justru terperosok ke dalam lubang kebiasaan dan kurangnya ambisi artistik yang berani. Industri musik kerap kali mendorong standar yang aman, dan Ware tampaknya memilih jalur yang sama, mengorbankan potensi gebrakan demi kenyamanan.
Di Mana Urgensi Klub Malam yang Baru?
Saat Charli XCX menyatakan lantai dansa mati, mungkin ia tidak sepenuhnya salah. Namun, bukan berarti tidak ada lagi tempat bagi musik yang menggerakkan tubuh dan jiwa. Justru, musik semacam itu mungkin sedang bersembunyi, menunggu untuk ditemukan oleh mereka yang masih mencari keajaiban dalam irama dan lirik yang berani. Superbloom, sayangnya, gagal menjadi penemu atau bahkan penanda arah bagi pergerakan tersebut. Album ini lebih terdengar seperti bisikan yang enggan terdengar di tengah hiruk pikuk pesta yang sesungguhnya. Kegagalan ini tidak hanya merugikan Ware, tetapi juga menandakan tren yang mengkhawatirkan dalam musik pop kontemporer.
Kesetiaan pada Pola Lama
Mengandalkan inspirasi dari buku-buku fantasi erotis mungkin terdengar menjanjikan, tetapi eksekusinya di Superbloom terasa seperti membaca daftar belanja daripada menyelami kedalaman hasrat manusia. Referensi yang digunakan, yang seharusnya menjadi titik awal untuk eksplorasi yang kaya, malah berakhir menjadi bahan yang terlalu diolah. Akibatnya, pendengar disajikan dengan sensasi yang steril, kurang memiliki kejutan atau kebaruan. Seolah-olah Ware takut untuk benar-benar masuk ke dalam dunia fantasi yang ia coba gambarkan, memilih untuk tetap berada di pinggiran yang aman dan terhormat.
Pesan yang Terlalu Halus
Di saat musik yang lebih mentah dan jujur mulai mendapatkan daya tarik di skena independen, pendekatan Ware yang terlalu hati-hati terasa semakin ketinggalan zaman. Sensualitas yang ia coba hadirkan terasa seperti sebuah formalitas, sebuah elemen yang dimasukkan karena dianggap perlu, bukan karena lahir dari dorongan artistik yang tulus. Lagu-lagu seperti “Sauna” memberikan secercah harapan, menunjukkan potensi Ware untuk melepaskan diri dari kungkungan kesopanan. Namun, momen-momen seperti ini tenggelam dalam lautan lagu-lagu yang aman dan dapat diprediksi.
Warisan yang Terancam Redup
Album seperti Superbloom berisiko menempatkan Jessie Ware di jalan yang sama dengan artis-artis lain yang terjebak dalam formula yang terbukti, tetapi mulai kehilangan daya tariknya. Ketika musik mulai terasa repetitif dan kurang berani, warisan artistik bisa terancam. What’s Your Pleasure? adalah bukti bahwa Ware mampu menciptakan sesuatu yang segar dan menggairahkan. Kegagalannya untuk mengulang atau melampaui pencapaian tersebut dengan Superbloom menimbulkan pertanyaan serius tentang arah karirnya di masa depan. Keengganan untuk bereksperimen lebih jauh adalah musuh bagi evolusi artistik.
Sebuah Paradoks dalam Produksi
Ironi terbesar dari Superbloom adalah bagaimana produksi yang sangat detail dan presisi justru mengurangi dampak emosionalnya. Musik yang diciptakan untuk merayakan kebebasan dan gairah malah terasa terkendali dan terukur. Seolah-olah, setiap not dan setiap irama telah dihitung dengan cermat untuk menghindari kontroversi, alih-alih untuk menciptakan pengalaman yang mendalam. Ini adalah paradoks yang menyakitkan bagi seorang artis yang dulunya dikenal karena kemampuannya menyentuh hati pendengar dengan kerentanan dan kekuatan vokal.
Menanti Kebangkitan Sejati
Meskipun Superbloom mungkin menjadi bukti yang menyedihkan bahwa lantai dansa tidak lagi menggairahkan bagi sebagian orang, ini juga menjadi pengingat bahwa selalu ada ruang untuk inovasi. Musik yang otentik dan berani akan selalu menemukan jalannya. Jessie Ware memiliki bakat luar biasa, dan harapan terbesar adalah bahwa Superbloom hanyalah sebuah persimpangan jalan yang sementara, bukan akhir dari sebuah perjalanan yang menarik. Kekosongan dalam rekaman ini, meskipun mengecewakan, setidaknya membuka celah bagi kejutan yang lebih besar di kemudian hari, jika saja Ware berani untuk benar-benar keluar dari zona nyamannya dan merangkul kekacauan yang indah dari fantasi yang tak terduga.



