Bagi siapa saja yang sempat merasakan masa kejayaan komputer pribadi berprosesor Pentium atau masa-masa awal grafis VGA berwarna 256 piksel, ingatan tentang suara deru mesin pesawat luar angkasa di game simulasi tempur klasik selalu punya tempat istimewa di sudut kepala. Di era itu, memasukkan tumpukan disket liuk ke dalam drive komputer adalah ritual sakral yang menuntut kesabaran ekstra. Kita rela mengutak-atik berkas konfigurasi sistem di layar DOS hitam-putih hanya demi mendengar sebaris efek ledakan monokrom yang renyah.
Namun memasuki dekade modern, romansa masa lalu tersebut mendadak berubah menjadi mimpi buruk birokrasi digital. Bila Anda ingin memainkan kembali mahakarya lawas yang membentuk masa kecil Anda, rintangan yang dihadapi sering kali lebih rumit daripada melawan armada alien luar angkasa. Game-game bersejarah tersebut kerap disandera oleh penerbit raksasa yang membiarkan kodenya membusuk, atau kalaupun dirilis ulang, dipaksa berjalan di atas peluncur aplikasi pihak ketiga yang lambat dan mewajibkan koneksi internet tanpa henti.
Maka ketika salah satu korporasi paling rakus di industri video game tiba-tiba melonggarkan cengkeraman tangannya, wajar jika komunitas gamer sempat mengira ada kesalahan pada sistem server.

Kejutan menyenangkan tersebut resmi menjadi kenyataan pada pekan ini. Sebagaimana dicatat dalam laporan eksklusif jurnalis Kyle Orland di Ars Technica, Electronic Arts secara diam-diam meluncurkan kembali katalog mahakarya klasik era 1990-an milik studio legendaris Origin Systems ke etalase toko digital Steam dan GOG. Judul-judul legendaris seperti serial simulasi tempur antariksa Wing Commander hingga serial pelopor RPG fantasi Ultima kini bisa dibeli dan dimainkan secara langsung di komputer modern tanpa perlu memasang aplikasi EA App yang terkenal rewel.
Langkah ini terasa bagaikan mukjizat kecil bagi pegiat pelestarian game PC. Dalam wawancaranya, sang produser EA menceritakan bagaimana proses pemulihan berkas-berkas digital kuno tersebut membutuhkan perjuangan keras membongkar arsip lama, menyelamatkan kode sumber yang nyaris tercecer, serta menyesuaikan emulator DOSBox agar kompatibel dengan sistem operasi Windows mutakhir. Mereka bahkan merilisnya di etalase GOG lengkap dengan kemasan tanpa DRM (Digital Rights Management), memungkinkan pemain menyimpan berkas instalasi cadangan secara luring tanpa waswas dicabut sewaktu-waktu.
Bagi komunitas gamer yang sudah hafal tabiat korporasi video game, keterkejutan ini sangat beralasan. Electronic Arts selama bertahun-tahun memegang reputasi kelam sebagai kuburan bagi studio-studio pengembang terbaik di dunia. Kita tentu belum lupa bagaimana nasib tragis studio Origin Systems, Westwood Studios, hingga Bullfrog Productions yang satu per satu ditutup paksa setelah diakuisisi.
Kecemasan serupa juga sempat memuncak saat melihat rekam jejak buruk penerbit raksasa yang kerap mematikan studio legendaris demi memaksakan tren pasar sesaat. Selama bertahun-tahun pula, EA bersikukuh mengunci waralaba klasik ini di dalam ekosistem peluncur mandiri mereka, mengabaikan seruan ribuan penggemar yang mendambakan kenyamanan di platform bebas DRM seperti GOG yang ramah bagi pemain tanpa perlu diawasi algoritma pelacak.
Sikap melunak EA kali ini tentu bukan lahir dari panggilan moral murni untuk menjadi pahlawan kebudayaan digital. Ada realitas ekonomi yang sangat dingin di balik layar rapat dewan direksi. Di tengah lesunya industri game arus utama, di mana proyek-proyek game berbiaya triliunan rupiah kerap boncos di pasaran karena pemain sudah jenuh dengan formula live-service yang serakah, merilis ulang waralaba retro berbiaya murah adalah cara paling mudah untuk mendulang recehan keuntungan yang pasti.
Selama puluhan tahun, kerja keras melestarikan waralaba game klasik di atas panggung sejarah komputer sejatinya tidak pernah dipedulikan oleh para petinggi korporasi. Bila bukan karena kegigihan komunitas relawan, peretas emulator, dan penggemar fanatik yang sukarela merawat kode program tanpa bayaran sepeser pun, deretan game legendaris ini barangkali sudah lama punah ditelan bumi.
Melihat kembali kokpit pesawat Wing Commander terpampang megah di monitor komputer modern tentu memantik senyum lega bagi siapa pun yang mencintai sejarah video game. Namun sebelum Anda buru-buru menaruh hormat pada kedermawanan penerbit raksasa ini, ingatlah baik-baik satu kaidah dasar di tongkrongan gamer: korporasi baru akan membuka peti harta karun masa lalunya ketika kantong celana masa kininya mulai kehabisan uang receh.



