Kesehatan

Gigi Bolong Tetap Jadi Ladang Opioid: AS Masih Nomor Satu Dunia

Gigi Bolong Tetap Jadi Ladang Opioid: AS Masih Nomor Satu Dunia
Gigi Bolong Tetap Jadi Ladang Opioid: AS Masih Nomor Satu Dunia

Di Amerika Serikat, sepertinya ada pesta nyeri gigi yang tak kunjung usai, di mana obat pereda nyeri kelas berat, alias opioid, masih jadi primadona selepas cabut gigi atau sekadar tambal sulam. Lupakan sejenak kemajuan medis dunia, sebab tetangga sebelah, bahkan wilayah AS sendiri seperti Puerto Rico, sudah lama melirik alternatif lain. Bayangkan saja, sementara negara maju lainnya sibuk mengencangkan rem resep opioid, Paman Sam masih asyik dengan dosis dobelnya. Studi terbaru dari gabungan institusi akademis kelas kakap Amerika dan Australia mengupas tuntas fenomena ini, memperlihatkan jurang lebar antara praktik resep opioid di AS dengan negara-negara lain, meskipun ada penurunan angka yang patut dicatat. Namun, penurunannya ibarat menguras lautan dengan sendok teh: pelan dan belum signifikan.

Obat Sakit Gigi: Kopi Pagi atau Kaki Tangan Kecanduan?

Selama bertahun-tahun, para profesional gigi di seluruh dunia berjuang keras untuk menjauhkan praktik peresepan opioid dari rutinitas penanganan rasa sakit pasca-prosedur gigi. Pedoman perawatan gigi modern kian gencar menyarankan alternatif pereda nyeri yang lebih aman. Tujuannya jelas: meminimalisir risiko kecanduan, penyalahgunaan, keracunan tak disengaja, bahkan over dosis yang bisa berujung tragis. Risiko ini bukan isapan jempol belaka. Opioid, meski efektif meredakan nyeri, memiliki potensi adiktif yang sangat tinggi, mengubah pengguna menjadi budak zat kimia, sebuah kondisi yang dikenal sebagai opioid use disorder. Data terbaru memang menunjukkan adanya penurunan angka pasien yang mengisi resep opioid dari dokter gigi di AS, sebuah kabar baik yang disambut positif. Namun, angka ini jika dibandingkan dengan negara lain, ibarat pelari maraton yang baru mulai pemanasan sementara yang lain sudah di garis finis.

AS Masih Unggul (dalam Hal Resep Opioid Gigi)

Antara tahun 2021 hingga 2024, Amerika Serikat mencatat penurunan sebesar 27% dalam pengisian resep opioid untuk pasien gigi. Angka ini terdengar menggembirakan, tetapi jika melihat gambaran besarnya, AS masih memegang rekor dengan tingkat resep tertinggi di antara negara-negara maju yang diteliti, termasuk Kanada, Prancis, Australia, dan Jerman. Bahkan, wilayah teritori AS, Puerto Rico, juga menunjukkan penurunan 10% namun tetap berada di bawah AS. Negara-negara tersebut, satu per satu, berhasil menekan angka penggunaan opioid secara signifikan, memposisikan diri mereka jauh di depan AS dalam hal praktik resep yang lebih bijak dan aman. Tingkat penurunan double-digit di negara-negara lain menunjukkan bahwa perubahan paradigma dalam penanganan nyeri gigi bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah tujuan yang dapat dicapai dengan strategi yang tepat dan komitmen.

Belanda: Juara Ketenangan Nyeri Gigi

Di sisi lain spektrum, Belanda menjadi contoh cemerlang bagaimana praktik resep opioid gigi bisa ditekan hingga titik terendah. Tingkat pengisian resep opioid untuk prosedur gigi di Belanda tercatat 24 kali lebih rendah dibandingkan AS. Di tahun 2024 saja, hanya ada 83 resep opioid gigi yang terisi untuk setiap 100.000 penduduk Belanda. Bandingkan dengan AS yang mencatat 2.022 resep per 100.000 penduduk. Perbedaan angka ini begitu mencolok, hampir seperti membandingkan konsumsi gula di negara yang sadar kesehatan versus negara yang masih terbuai manisnya. Fenomena ini menyoroti keberhasilan Belanda dalam mengadopsi pedoman baru dan mengedukasi para profesional gigi serta masyarakat mengenai risiko opioid, sekaligus mempromosikan metode penanganan nyeri alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. Kesenjangan yang lebar ini memberikan pelajaran berharga bagi negara lain yang masih berjuang keras untuk keluar dari jerat opioid.

Sang Pengamat: Profesor Chua dan Jaringannya

Kao-Ping Chua, M.D., Ph.D., seorang peneliti di University of Michigan Medical School, telah lama menjadi mata tajam yang mengamati tren peresepan opioid, khususnya di ranah kedokteran gigi, baik di AS maupun di kancah internasional. Studinya yang terbaru ini semakin mempertegas posisinya sebagai salah satu suara terdepan dalam isu krusial ini. Chua, yang juga menjabat sebagai Associate Professor of Pediatrics dan direktur di Susan B. Meister Child Health Evaluation and Research Center (CHEAR), kerap menekankan bahwa meskipun ada tren penurunan di AS, tingkat peresepan opioid gigi masih tergolong tinggi jika dilihat dari standar global. Pernyataannya yang tegas, "Our study shows that the US dental opioid dispensing rate is decreasing but remains high by international standards," mengindikasikan adanya praktik overprescribing yang masih mengakar di kalangan sebagian dokter gigi di Amerika Serikat. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator adanya potensi masalah yang perlu segera ditangani.

Jalan Panjang Menuju Pengurangan: Tinjauan Historis

Upaya pengurangan resep opioid gigi di AS bukanlah fenomena baru. Sebelumnya, pada tahun 2023, tim riset yang sama dengan Dr. Chua di dalamnya telah menunjukkan bahwa angka peresepan di AS telah menurun drastis sebesar 45% antara tahun 2016 dan 2022. Sebuah pencapaian yang cukup impresif, bukan? Namun, kemajuan ini melambat pasca-pandemi COVID-19, seolah-olah pandemi menjadi alarm yang membuat fokus bergeser. Walaupun demikian, data tahun 2022 di AS masih empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan angka di Inggris pada tahun 2016, sebuah perbandingan yang cukup mengejutkan mengingat rentang waktu yang berbeda. Studi kali ini tidak menyertakan data dari Inggris, namun perbandingan historis ini memberikan gambaran tentang seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh dan seberapa jauh lagi tantangan yang masih menghadang dalam upaya global mengurangi ketergantungan pada opioid.

OPEN: Gerakan Edukasi Tanpa Biaya

Di balik upaya pengurangan opioid ini, ada inisiatif penting bernama OPEN (Opioid Prescribing Education Network). Dipimpin oleh Chad Brummett, M.D., seorang Profesor Anesthesiology di U-M yang juga menjabat sebagai co-director di U-M Opioid Research Institute, OPEN berdedikasi untuk menyediakan panduan dan materi edukasi yang fokus pada penanganan nyeri yang hemat opioid bagi pasien bedah gigi dan oral. Yang menarik, semua materi ini tersedia secara gratis dan telah melalui beberapa kali pembaruan, menunjukkan komitmen berkelanjutan untuk menyediakan informasi terkini dan relevan. Keberadaan OPEN menunjukkan adanya kesadaran di kalangan akademisi dan praktisi medis akan pentingnya edukasi dalam mengubah praktik klinis yang berpotensi membahayakan. Ketersediaan sumber daya ini menjadi angin segar bagi para profesional kesehatan yang ingin mengadopsi pendekatan yang lebih berhati-hati dalam meresepkan opioid.

Jejaring Para Peneliti: Kolaborasi Lintas Negara

Studi komprehensif ini merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara yang solid. Selain Dr. Chua dan Dr. Brummett yang berasal dari University of Michigan, turut berkontribusi pula Romesh Nalliah, DDS, seorang mantan anggota fakultas U-M. Tak ketinggalan, tiga peneliti dari University of New South Wales di Sydney, Australia: Claudia Bruno, Ph.D.; Sallie-Anne Pearson, Ph.D.; dan Jonathan Brett, MBBS, Ph.D., serta Siljia He, M.S., seorang ahli statistik dari CHEAR, turut memperkaya analisis data dan metodologi penelitian. Kolaborasi internasional semacam ini sangat krusial dalam memahami masalah kesehatan global yang kompleks seperti epidemi opioid, karena memungkinkan adanya pertukaran perspektif dan data yang lebih luas, serta memperkuat validitas temuan penelitian. Dukungan pendanaan dari Benter Foundation, National Institute on Drug Abuse, dan Australian National Health and Medical Research Council semakin menegaskan urgensi dan pentingnya penelitian ini.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.