Dunia gaming itu penuh drama, layaknya sinetron kejar tayang. Ada saja tren yang datang dan pergi, bikin para petinggi perusahaan ngiler pengen ikutan. Dulu VR digadang-gadang bakal jadi masa depan, sekarang malah jadi pajangan di gudang. Metaverse? Ah, itu sih cuma lahan basah buat jualan tanah virtual. Tapi, kok ya ada saja yang ketipu?
Mantan Bos Nexon Bongkar Borok Industri Game
Owen Mahoney, mantan CEO Nexon yang baru pensiun tahun 2024, tiba-tiba bikin geger jagat maya. Lewat tulisan di blog pribadinya, ia menguliti habis kebiasaan buruk industri game yang gampang banget kemakan hype. Mulai dari esports, cloud gaming, sampai blockchain, semuanya kena sentil. Katanya sih, ini semua gara-gara para eksekutif yang kurang piknik, jadi gampang dibodohi konsultan abal-abal.
“Gampang memang kalau kita nengok ke belakang terus nyalahin semua orang,” tulis Mahoney, sambil sedikit menyindir dirinya sendiri. “Tapi, fenomena hype cycle di industri game itu masalah serius. Miliaran dolar modal lenyap, ribuan karir hancur berantakan.” Tuh, kan, nyesek dengernya.
Mahoney juga nggak segan buat ngasih validasi buat para pengkritik. Katanya, ngetawain tren yang udah lewat itu penting. Soalnya, investasi bodong itu udah ngerusak duit pensiun, rekening tabungan orang biasa. Katanya lagi, buat yang invest duit, ngabain pertanyaan soal pengalaman pengguna itu bukan cuma naif, tapi juga pengkhianatan kepercayaan.
Padahal, kata Mahoney, duit yang kebuang percuma itu bisa dipakai buat bikin “hal yang beneran dibutuhin orang”. Bukannya malah buang-buang waktu sama perhatian developer dan ahli teknologi yang jago.
Empat Tahapan Hancurnya Industri Game Akibat Hype
Mahoney ngasih tahu pola yang sering kejadian di industri game pas lagi kena hype cycle. Pertama, ada “glamour shot”, yaitu gambaran produk yang sempurna banget. Kedua, ada “fake news”, alias cerita bohong tentang teknologi baru yang katanya bakal mengubah dunia. Ketiga, ada fase “OK Boomer”, di mana “konsultan nerbitin laporan glossy dengan grafik yang naik terus.” Dan terakhir, ada “validasi M&A”, pas perusahaan bikin langkah mahal yang bikin hype makin kuat.
Mahoney pakai contoh Bobby Kotick, mantan CEO Activision Blizzard, yang getol banget jualan esports ke pemilik klub olahraga tradisional. “Dia butuh duit, mereka butuh pertumbuhan. Pemilik tim lihat anak mereka main game, terus mikir, ‘Nanti anak-anak bakal nonton esports kayak kita nonton bola.’ Dua-duanya pengen percaya hype, padahal yang untung cuma penjualnya.” Makanya, jangan gampang kemakan omongan sales.
Fad Audit: Jurus Ampuh Lolos dari Jeratan Hype
Nah, biar nggak gampang ketipu, Mahoney nyaranin buat ngelakuin “fad audit”. Ini semacam tes buat ngetes apakah sebuah tren itu beneran bagus atau cuma omong kosong belaka. Ada tiga pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, apakah tren itu beneran baru dan bikin pengalaman pengguna lebih baik? Kedua, apakah produknya bisa dicoba sendiri? Katanya sih, “Indra kita sendiri biasanya lebih bisa diandelin daripada omongan orang banyak.”
Mahoney bilang, kalau kita analisa tren-tren kayak VR, blockchain, metaverse, esports, sama cloud streaming, nggak ada satu pun yang lolos dari tes ini. Semuanya gagal total.
VR itu berat, bikin pusing, dan kontennya gitu-gitu aja. Blockchain ribet, boros listrik, dan nggak ada yang beneran butuh. Metaverse sepi, mahal, dan nggak ada yang bisa dilakuin selain joget-joget nggak jelas. Esports cuma seru buat yang main, yang nonton sih banyakan ngantuk. Cloud streaming lemot, mahal, dan bikin kuota jebol.
Industri Game: Antara Inovasi dan FOMO
Industri game emang penuh inovasi, tapi juga penuh FOMO (Fear of Missing Out). Para petinggi perusahaan seringkali latah ikutan tren tanpa mikir panjang. Akibatnya, duit investor kebuang percuma, developer jadi stres, dan pemain juga nggak dapet apa-apa.
Padahal, kata Mahoney, yang penting itu bikin game yang beneran seru dan bikin nagih. Bukannya malah ngejar teknologi yang belum jelas juntrungannya. Bener juga sih. Mending fokus bikin game yang asik daripada sibuk bikin metaverse yang nggak ada isinya.
Kenapa Game dengan Pay-to-Win Lebih Laris daripada Game Inovatif?
Ini pertanyaan yang menggelitik. Kenapa ya, game yang jelas-jelas pay-to-win (bayar buat menang) malah lebih laku daripada game yang inovatif dan seru? Apa karena manusia emang dasarnya pengen menang instan? Atau karena marketing-nya lebih gencar?
Mungkin juga karena game pay-to-win itu lebih gampang dimainin. Nggak perlu mikir strategi, nggak perlu jago main, cukup modal duit aja. Cocok banget buat orang yang nggak punya waktu buat main game tapi pengen tetep eksis.
Sudah Saatnya Industri Game Berbenah Diri
Mahoney ngingetin, di tengah revolusi teknologi yang lagi gencar-gencarnya, penting banget buat bisa bedain mana yang beneran bagus dan mana yang cuma omong kosong. "Membedakan yang nyata dari yang hampa lebih penting dari sebelumnya, di awal siklus hype terbesar - dan revolusi teknologi yang mengubah dunia - dalam hidup kita," pungkas Mahoney. "Itulah tantangan saat ini, dan subjek dari esai masa depan."
Intinya sih, jangan gampang kemakan hype. Mikir panjang sebelum investasi, dengerin kata hati, dan jangan lupa piknik biar nggak gampang dibodohi konsultan abal-abal. Kalau kata anak zaman sekarang sih, be smart, not FOMO!



