Tech

Iklan AI The First Descendant Diduga Kloning Kreator Konten Indonesia

Iklan AI The First Descendant Diduga Kloning Kreator Konten Indonesia

Game yang lagi hype, The First Descendant, baru-baru ini jadi sorotan, bukan karena gameplay-nya yang bikin nagih, tapi karena iklan TikTok mereka. Bayangkan saja, lagi asyik scrolling FYP, eh, malah disuguhi iklan yang kayaknya…dibuat oleh AI. Awkward banget, kan?

Iklan adalah jendela sebuah produk. Iklan yang menarik bisa bikin kita kepo, tapi iklan yang fail bisa bikin kita ilfeel. Di era digital ini, iklan game bukan lagi sekadar tempelan di website. Iklan sudah merambah ke media sosial, terutama TikTok, tempat Gen Z dan Millenial nongkrong virtual.

Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam marketing sebenarnya bukan barang baru. Banyak perusahaan menggunakan AI untuk analisis data, personalisasi iklan, dan bahkan pembuatan konten sederhana. Tapi, garis antara inovasi dan faux pas itu tipis banget.

Dulu, iklan game isinya cuplikan gameplay yang keren, atau live action yang bombastis. Sekarang? Ya, mungkin beberapa masih gitu, tapi ada juga yang nyoba jalan pintas dengan AI. Masalahnya, jalan pintas ini kadang malah jadi bumerang.

Nexon, pengembang sekaligus publisher The First Descendant, dituduh menggunakan serangkaian iklan TikTok yang dihasilkan AI. Yang bikin heboh, salah satu iklan diduga meniru seorang content creator tanpa izin. Ini, guys, udah masuk ranah yang lebih serius.

Seorang pengguna Reddit dengan username iHardlyTriHard menemukan empat iklan AI dan dua iklan low effort lainnya setelah scrolling TikTok selama 15 menit. Bayangkan, cuma 15 menit! Itu artinya iklan AI ini spammed banget di TikTok.

Reaksi para pemain? Tentu saja beragam. Ada yang merasa jijik, ada yang merasa kasihan sama content creator yang ditiru, dan ada juga yang mikir ini cuma strategi marketing murahan. Yang jelas, image game ini jadi sedikit ternoda.

Iklan AI: Solusi Cepat atau Bumerang Marketing?

Masalahnya bukan pada penggunaan AI itu sendiri, tetapi pada ethics dan impact dari penggunaan AI tersebut. Apakah penggunaan AI ini merugikan content creator lain? Apakah iklan AI ini menyesatkan? Apakah ini cuma cheap trick untuk menarik perhatian?

Salah satu iklan diduga menggunakan kemiripan dengan content creator bernama DanieltheDemon. Sampai saat ini, belum ada konfirmasi apakah Nexon meminta izin atau tidak. Kalau tidak, ini jelas pelanggaran etika dan berpotensi melanggar hukum.

Postingan Reddit tersebut mendapat banyak tanggapan negatif. Banyak yang berpendapat bahwa Nexon seharusnya menggandeng content creator asli, apalagi Nexon Creators punya lebih dari 8.800 anggota. Ini kesempatan bagus untuk kolaborasi dan mendukung komunitas game.

Dampak Negatif Iklan AI Terhadap Citra Game

Seorang pemain berkomentar, "Jika saya melihat iklan ini sebelum memainkan game-nya, saya akan menganggap game ini 1) palsu, 2) semacam scam, virus, atau upaya phishing." Serem, kan? Iklan yang seharusnya menarik pemain, malah bikin curiga.

Beberapa pemain melaporkan bahwa tim TikTok The First Descendant menghapus komentar yang mengkritik iklan AI tersebut, dan mengunggah ulang iklan AI yang sama setelah mendapat banyak backlash. Ini namanya damage control yang salah alamat. Seharusnya, mereka dengerin feedback pemain, bukan malah ngilangin jejak.

Sampai saat ini, Nexon belum memberikan komentar resmi terkait masalah ini. Eurogamer sudah menghubungi Nexon untuk meminta klarifikasi. Kita tunggu saja bagaimana tanggapan mereka. Public relations yang buruk bisa merusak segalanya.

Alternatif Lebih Baik: Kolaborasi dengan Content Creator

Penggunaan AI dalam marketing memang menawarkan banyak keuntungan, seperti efisiensi biaya dan kecepatan produksi konten. Tapi, ada harga yang harus dibayar. Kehilangan sentuhan manusia, kurangnya kreativitas, dan potensi misrepresentation adalah beberapa risikonya. Mengingat bagaimana pentingnya brand awareness dan user engagement untuk video game marketing, ada baiknya mengutamakan pendekatan yang lebih manusiawi.

Sebaiknya, Nexon belajar dari kesalahan ini dan fokus pada content marketing yang lebih authentic. Gandeng content creator yang memang passionate dengan game The First Descendant. Biarkan mereka berbagi pengalaman bermain mereka. Ini lebih efektif daripada iklan AI yang creepy. Gunakan social media marketing secara bijak dan hindari digital advertising yang merugikan.

Pelajaran Berharga: Authenticity Lebih Penting dari Algoritma

Kasus The First Descendant ini jadi pengingat buat kita semua bahwa authenticity itu penting, apalagi di era digital ini. Pemain game itu cerdas. Mereka bisa membedakan mana iklan yang tulus dan mana yang cuma dibuat-buat. Jangan meremehkan kekuatan word of mouth. Jika pemain merasa senang dan dihargai, mereka akan jadi brand ambassador yang paling efektif. Jangan lupa untuk melakukan online reputation management agar citra produk terjaga.

Jadi, developer dan publisher game, pikirkan baik-baik sebelum menggunakan AI untuk marketing. Jangan cuma mikirin keuntungan jangka pendek, tapi juga perhatikan dampak jangka panjangnya terhadap citra game dan hubungan dengan komunitas pemain. Ingat, content is king, tapi authenticity is the queen.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.