Game

Jankos Blak-blakan: Jadi Content Creator, Prediksi Final LEC, & Asa EU di Worlds!

Jankos Blak-blakan: Jadi Content Creator, Prediksi Final LEC, & Asa EU di Worlds!

Dunia esports itu penuh drama, intrik, dan tentu saja, pemain-pemain legendaris. Tapi, pernahkah Anda bertanya-tanya, apa jadinya kalau seorang legenda memutuskan gantung keyboard dan beralih jadi content creator? Apakah hidupnya jadi lebih santai sambil sesekali nyinyir soal meta? Atau justru lebih berat karena harus mikirin ide konten tiap hari? Nah, kali ini kita bakal ngobrol santai tapi serius dengan Marcin “Jankos” Jankowski, mantan jungler kelas dunia yang sekarang lagi asyik bikin konten. Siap-siap dengerin curhatan seorang legenda yang (mungkin) kangen nge-gank.

Jankos, bagi yang belum kenal (ke mana aja selama ini?), adalah salah satu pemain League of Legends paling ikonik dari Eropa. Kariernya panjang dan berliku, penuh dengan kemenangan, kekalahan, dan momen-momen epik yang bikin merinding. Tapi, semua ada masanya. Setelah malang melintang di dunia kompetitif, Jankos memutuskan untuk mencoba peruntungan di dunia konten. Sebuah keputusan yang, kalau dipikir-pikir, cukup berani. Bayangin aja, dari yang tadinya fokus latihan 14 jam sehari, sekarang harus mikirin gimana caranya bikin video yang engaging dan nggak bikin penonton kabur.

Keputusan Jankos untuk jadi content creator ini sebenarnya cukup menarik. Soalnya, banyak pemain profesional yang setelah pensiun, memilih untuk jadi coach atau analis. Tapi, Jankos justru memilih jalur yang lebih tricky: menghibur orang. Ini bukan cuma soal main game dan pamer skill, tapi juga soal membangun personalitas, berinteraksi dengan penonton, dan tentu saja, tetap relevan di tengah gempuran streamer dan YouTuber baru yang muncul tiap hari. Ibaratnya, dari yang tadinya fokus nge-push turret, sekarang harus nge-push algoritma.

Dari Pro Player Jadi Content Creator: Lebih Enak Mana?

Pertanyaan ini mungkin menggelitik banyak orang. Lebih enak mana sih, jadi pemain profesional yang hidupnya diatur jadwal latihan ketat, atau jadi content creator yang bebas berkarya tapi juga harus mikirin engagement rate? Menurut Jankos, keduanya punya pro dan kontra masing-masing. Jadi pemain pro, kita bisa fokus 100% untuk jadi yang terbaik di game. Tapi, stresnya juga nggak main-main. Latihan bisa sampai belasan jam sehari, belum lagi tekanan untuk selalu menang.

“Dengan content creation, aku merasa punya lebih banyak waktu luang,” ujar Jankos. “Aku masih streaming cukup sering, tapi aku juga bisa tinggal di Polandia, menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-teman. Selama 10, 11 tahun jadi pemain pro, aku selalu bepergian dan tinggal di Berlin, jadi aku nggak punya banyak waktu untuk keluarga.” Jadi, bisa dibilang, Jankos memilih untuk menyeimbangkan hidupnya. Karier tetap jalan, keluarga juga nggak terbengkalai. Sebuah pilihan yang bijak, mengingat kesehatan mental itu penting, gaes.

Namun, bukan berarti jadi content creator itu tanpa tantangan. Jankos mengakui bahwa transisi ini tidak mudah. “Dulu, aku merasa jadi pemain dulu, baru streamer. Sekarang, aku jadi streamer dulu, baru pemain,” katanya. Prioritasnya berubah. Sekarang, yang lebih penting adalah menghibur penonton, bukan cuma pamer gameplay yang jago. Ini juga berarti Jankos harus mencoba hal-hal baru di luar main game. Sebuah tantangan yang terus ia coba taklukkan.

Co-streamer: Mengancam atau Membantu Official Broadcast?

Fenomena co-streaming ini memang lagi ramai dibicarakan. Banyak yang bilang, co-streamer itu mengancam official broadcast karena penonton lebih milih nonton streamer favorit mereka daripada nonton siaran resmi. Tapi, ada juga yang bilang, co-streamer itu justru membantu karena bisa menjangkau audiens yang lebih luas. Nah, sebagai orang yang baru terjun ke dunia co-streaming, apa pendapat Jankos?

“Sulit bagiku untuk punya pendapat yang kuat karena aku baru melakukannya sekitar setahun,” kata Jankos. “Tapi, aku merasa ini membuat orang lebih sulit untuk menonton official broadcast karena ada streamer besar yang mengambil alih. Setiap bahasa punya streamer besar seperti Caedrel, Kameto, Ibai, dan lain-lain. Mereka juga mewakili tim sekarang.” Jankos melihat bahwa orang-orang lebih memilih menonton co-streamer karena personalitas mereka dan karena mereka membawa semangat ke proyek tersebut.

Namun, Jankos juga punya kekhawatiran. Ia merasa bahwa jika co-streamer punya jumlah penonton yang besar tapi tidak mendukung proyek-proyek kecil yang dibuat oleh penyelenggara liga, maka akan sulit bagi liga untuk menjadi lebih besar. “Ada pro dan kontra untuk itu,” ujarnya. “Aku berada di skala yang lebih kecil dari co-stream, jadi aku sadar akan hal itu. Aku mencoba melakukan hal-hal yang aku nikmati dan aku suka. Aku berasumsi bahwa jika aku lebih besar, aku mungkin akan tetap menggunakan logika yang sama.”

NAVI: Masa Depan Cerah atau Sekadar Beli Slot?

Tahun ini, Jankos bergabung dengan NAVI, sebuah organisasi esports yang baru masuk ke LEC (liga League of Legends Eropa). NAVI menggantikan Rogue, tim yang sebelumnya memberikan Jankos kesempatan untuk jadi content creator. Tapi, apa sih yang bikin Jankos tertarik dengan NAVI? Apakah NAVI punya visi yang lebih jelas dalam mengembangkan konten?

“NAVI benar-benar berusaha keras untuk membuat roster yang kompetitif untuk tahun depan,” kata Jankos. “Mereka tidak ingin cuma beli slot dan jadi tidak relevan. Meskipun summer split 2025 tidak berjalan baik bagi kami, aku yakin bahwa tahun depan roster-nya akan lebih kompetitif. Aku bersemangat. Aku pikir ini akan luar biasa.” Jankos percaya bahwa NAVI punya ambisi yang besar dan tidak main-main dalam membangun tim yang kuat.

Selain itu, NAVI juga merekrut Rhilech, seorang pemain muda berbakat yang akan menjadi jungler tim. Jankos sendiri berperan sebagai mentor bagi Rhilech. “Aku tidak akan bilang bahwa aku mentor yang hebat, tapi aku sangat berpengalaman sebagai pemain,” kata Jankos. “Jika NAVI bisa menggunakan aku dan jika pemain ingin berbicara denganku tentang potensi, jalur karier mereka, atau bagaimana aku bisa bertahan di level tertinggi begitu lama, aku bisa membantu mereka. Aku senang untuk berbicara dengan mereka.”

Prediksi Final LEC dan Harapan untuk EU di Worlds

Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia kompetitif, tentu saja Jankos punya prediksi untuk final LEC dan harapan untuk tim-tim Eropa di Worlds. Sayangnya, prediksi awalnya meleset. “Aku memprediksi KC (KOI) akan berada di final, jadi prediksi itu mati sekarang,” ujarnya sambil tertawa.

Namun, Jankos tetap punya prediksi baru. Ia memprediksi G2 akan menjadi juara LEC setelah mengalahkan MKOI di final dengan skor 3-2. “G2 tidak mengejutkan di final. Aku pikir mereka akan memenangkan semuanya,” kata Jankos. “Aku pikir mereka meningkat pesat. Mereka adalah tim yang sangat solid, terutama SkewMond. Labrov juga sangat solid sekarang, tapi SkewMond terlihat gila. Aku pikir dia mungkin berpotensi menjadi jungler terbaik saat ini, tapi Elyoya juga mendekatinya.”

Untuk Worlds, Jankos tidak terlalu optimis dengan peluang tim-tim Eropa. “Ini sangat sulit karena kita tahu bahwa kita tidak yang terkuat saat ini. Kita tidak dalam kondisi terbaik,” katanya. “Aku sangat berharap kita bisa kompetitif. Aku berharap G2 bisa tampil baik tahun ini. Mengingat pertumbuhan yang mereka alami dari Januari hingga sekarang, ada harapan.” Jankos berharap setidaknya satu tim Eropa bisa masuk ke 8 besar Worlds. Sebuah target yang realistis, mengingat performa tim-tim Eropa dalam beberapa tahun terakhir kurang memuaskan.

Refleksi Karier dan Harapan untuk Masa Depan EU

Di akhir wawancara, Jankos merefleksikan kariernya sebagai pemain profesional. Apakah ia puas dengan apa yang telah ia capai? Apakah ada hal yang ingin ia ubah? “Tentu saja ada hal-hal yang aku merasa bisa aku lakukan lebih baik atau lebih banyak,” kata Jankos. “Tapi, aku merasa aku selalu melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan pada saat itu. Aku tidak terlalu memikirkan masa lalu dan aku tidak terlalu memikirkan ‘Bagaimana jika’. Aku merasa aku memberikan yang terbaik.”

Jankos juga mengungkapkan harapannya untuk masa depan esports Eropa. Ia berharap tim-tim Eropa bisa bersaing dengan tim-tim dari LCK (Korea) dan LPL (Tiongkok). “Aku merasa LPL sedikit melemah, tapi LCK masih tetap kuat. Jadi, aku pikir jika kita bisa bersaing melawan LTA dan LPL, itu sudah tidak buruk karena kita bisa kembali menjadi wilayah terkuat kedua,” kata Jankos. “Sayangnya, selama dua tahun terakhir, kita belum benar-benar ada di sana. FlyQuest tampil jauh lebih baik secara internasional, jadi itu LTA, dan LPL juga mengalahkan kita. Jadi, kita adalah wilayah terbaik keempat. Beberapa dari kita bahkan mengatakan kita adalah wilayah kecil saat ini.”

Pada akhirnya, Jankos tetap optimis dengan masa depan esports Eropa. Ia berharap pemain-pemain muda berbakat bisa membawa Eropa kembali ke puncak. “Selalu baik untuk berpikir bahwa mungkin para rookie bisa membawa kita di masa depan. Orang-orang seperti SkewMond bermain dengan Hans Sama, Caps, dan BB (BrokenBlade), dan Caliste juga,” kata Jankos. Dengan kombinasi pemain muda dan pemain berpengalaman, Jankos berharap Eropa bisa kembali bersinar di panggung internasional.