Coba ingat kembali rasa takjub saat pertama kali menyalakan video game klasik di era PlayStation 2 atau PC lawas: layar pembuka menampilkan ilustrasi karakter utama berlatar pemandangan temaram, musik orkestra atau petikan gitar lembut mengalun perlahan, dan hanya ada tiga atau empat opsi menu yang bersih: New Game, Load Game, Options, dan Credits. Ada keheningan khidmat yang mengundang pemain untuk melangkah masuk ke dalam dunia naratif baru.
Bandingkan kesyahduan tersebut dengan pengalaman menyalakan game aksi modern hari ini. Belum sempat menekan tombol apa pun, layar televisi atau monitor langsung dihujani tiga hingga lima jendela sembulan (pop-up) bertubi-tubi: penawaran bundel kostum diskon berbatas waktu, hitungan mundur musim kompetisi, ajakan membeli koin mata uang virtual, serta banner promosi acara akhir pekan yang berkedip menyilaukan mata.
Transformasi Antarmuka Menjadi Mesin Pengait Kasino
Perubahan drastis desain antarmuka (UI/UX) game modern ini mencerminkan pergeseran identitas dari karya seni interaktif menjadi etalase ritel agresif:
- Pengepungan Ruang Pandang Pemain: Opsi untuk memulai permainan (Play) kini kerap disembunyikan di sudut kecil layar atau digeser ke tab sekunder, sementara panggung utama antarmuka diserahkan sepenuhnya kepada karakter 3D yang mengenakan kostum berbayar mahal dengan tombol pintas menuju toko digital (Item Shop).
- Pemanfaatan Bunyi Rangsangan Dopamin (Casino Sound Effects): Setiap kali pemain mengeklik menu toko, terdengar denting suara koin emas atau kembang api digital yang dirancang khusus oleh pakar psikologi perilaku untuk memicu dorongan belanja impulsif di alam bawah sadar.
- Perusakan Imersi Sebelum Permainan Dimulai: Atmosfer mencekam dari game perang atau cerita distopia seketika hancur berkeping-keping ketika menu utama justru memamerkan karakter mengenakan kostum berwarna neon cerah hasil kolaborasi promosi jenama makanan cepat saji.
Menyelamatkan Kesakralan Pintu Gerbang Virtual
Menu utama sebuah video game adalah jembatan sakral antara realitas sehari-hari dengan dunia imajinasi penciptanya. Ketika pintu gerbang tersebut dicemari oleh spanduk komersial yang rakus, rasa hormat terhadap karya seni yang ada di baliknya ikut terkikis habis.
Komunitas gamer berhak menolak antarmuka game yang memperlakukan mereka layaknya dompet berjalan. Kita merindukan kembali era di mana menu pembuka adalah karya seni yang bernyawa, bukan etalase toko serba ada yang berisik.



