Ada pemandangan yang selalu terasa kontras nan menggemaskan tatkala anak-anak band rock independen harus melangkahkan sepatu bot belel mereka ke atas karpet merah ruangan berpendingin udara mewah. Di sekeliling mereka, para pesohor industri hiburan berbalut busana perancang kenamaan tersenyum anggun di depan lampu kilat kamera. Namun aroma harum ruangan ballroom hotel berbintang itu mendadak terbelah oleh kehadiran kuartet berambut gondrong yang auranya lebih akrab dengan hawa sumpek studio latihan sempit dan deru knalpot jalanan ibu kota.
Pemandangan segar itulah yang tersaji dalam perhelatan Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards ke-29 yang dihelat di Ciputra Artpreneur Jakarta pekan ini. Unit classic rock asal Jakarta, Black Horses, sukses mengukir sejarah manis dalam perjalanan karier mereka dengan menyabet piala untuk kategori bergengsi Album Rock Terbaik lewat karya studio ketiga mereka yang bertajuk Jahanam. Kemenangan band yang digawangi oleh Dimas Oscario pada vokal, Kevin Indriawan pada gitar, Lucky Azary pada bas, dan Julian Aditya pada drum ini menjadi kejutan menyenangkan sekaligus pengakuan tulus bagi denyut musik arus bawah.
Sebagaimana dicatat dalam laporan liputan musik nasional, album Jahanam yang dirilis di bawah bendera FireFly Records dan diproduseri langsung oleh John Paul Patton alias Coki dari Kelompok Penerbang Roket berhasil mengungguli para pesaing tangguh lainnya di kategori tersebut. Black Horses mampu menyisihkan nama-nama berkarakter kuat seperti Akbar Bagus Giox lewat album ABG, Sukses Lancar Rejeki dengan Bisa Meledak, unit veteran pop punk Pee Wee Gaskins lewat Salute From Pee Wee Gaskins, hingga grup cadas 510 lewat album Spiritual.

Kemenangan ini terasa sangat melegakan bagi para penikmat musik tanah air yang sudah jenuh dengan dominasi lagu-lagu seragam hasil racikan algoritma media sosial. Selama beberapa tahun terakhir, panggung penghargaan musik kerap menuai sorotan tajam karena dianggap terlalu kompromistis terhadap angka tontonan digital yang sering kali semu. Publik tentu masih ingat betapa janggalnya situasi ketika lagu ciptaan pejabat kementerian memborong piala AMI Awards di saat para pencipta lagu independen pontang-panting memikirkan tagihan listrik studio yang terus menumpuk.
Hadirnya album Jahanam sebagai pemenang seakan menjadi penawar dahaga yang membuktikan bahwa kurasi juri AMI Awards tahun ini masih memiliki telinga yang peka terhadap keringat dan nyawa bermusik. Sound rekaman yang disuguhkan Black Horses dalam album tersebut tidak berupaya memoles distorsi menjadi steril demi ramah telinga penonton televisi. Mereka membiarkan raungan gitar Gibson menabrak ketukan drum berbobot berat ala Led Zeppelin era 1970-an, dibalut lirik lugas berbahasa Indonesia yang memotret kepenatan mental anak muda di tengah kerasnya rimba perkotaan.
Semangat perlawanan estetika ini sejalan dengan fenomena positif di mana ekosistem musik alternatif tanah air kian mandiri mencari jalurnya sendiri. Kegigihan Black Horses di jalur rock klasik senada dengan kabar membanggakan saat band metal asal daerah sukses menembus panggung KEXP di Amerika Serikat tanpa perlu mengemis restu produser mayor label di ibu kota. Keduanya menjadi bukti konkret bahwa karya yang jujur dan bertenaga akan selalu menemukan telinganya sendiri, tak peduli seberapa gencar pasar streaming membombardir telinga pendengar dengan musik pop saset instan.
Membawa pulang piala replika burung kuningan tentu tidak serta-merta membuat rekening tabungan anak-anak band rock langsung membengkak bak pengusaha tambang. Bayaran manggung di festival akhir pekan mungkin naik sedikit, tetapi sepulang dari panggung megah itu, mereka akan tetap kembali ke ruang studio berdebu untuk membetulkan kabel gitar yang berdengung. Setidaknya malam itu, trofi berkelas tersebut sempat singgah di tangan kawanan pembuat bising yang menolak tunduk pada keharusan memotong durasi lagu menjadi tiga puluh detik demi kepentingan konten video pendek.



