Bagi siapa saja yang gemar nongkrong di kafe kekinian atau terjebak kemacetan sore sembari menyalakan radio mobil, daftar putar musik Indonesia belakangan ini kerap memicu sensasi déjà vu yang ganjil. Di sela-sela denting sendok kopi dan bising knalpot, telinga kita disuguhi progresi akor piano manis yang luar biasa akrab di kepala, diiringi vokal bertenaga penyanyi muda jebolan ajang pencarian bakat.

Sejenak kita merasa sedang mendengarkan karya anyar yang segar. Namun begitu bait kedua mengalun, memori kolektif kita langsung melompat mundur dua puluh tahun ke masa sekolah menengah pertama: ini kan lagu cinta zaman kaset pita yang liriknya dulu kita tulis di buku harian untuk meratapi cinta monyet yang kandas. Alih-alih terkejut, kita hanya bisa tersenyum simpul sembari bergumam pelan di dalam hati bahwa mesin waktu industri pop kita rupanya belum beranjak ke mana-mana.

Kolaborasi komposer Yovie Widianto dan Andi Rianto bersama trio vokal LTZ dalam penggarapan lagu daur ulang
Kolaborasi komposer Yovie Widianto dan Andi Rianto bersama trio vokal LTZ dalam penggarapan lagu daur ulang

Sensasi kaset kusut yang terus diputar ulang tersebut kembali menemukan buktinya pada pekan ini. Sebagaimana dicatat dalam laporan Medcom.id dan pantauan rilisan musik digital, maestro pop Yovie Widianto kembali mengumumkan proyek kolaborasi terbarunya bersama trio vokal LTZ—yang digawangi tiga solois muda bersuara emas, Lyodra, Tiara Andini, dan Ziva Magnolya. Kali ini, mereka menggandeng komposer kondang Andi Rianto dan Magenta Orchestra untuk meramu ulang tembang balada legendaris bertajuk Aku, Dirimu, Dirinya.

Kabar ini tentu disambut sorak-sorai para penggemar fanatik di media sosial. Siapa yang bisa meragukan kepiawaian Andi Rianto dalam menenun aransemen orkestrasi megah, atau meragukan teknik modulasi nada tinggi milik Lyodra dan kawan-kawan yang sanggup meremukkan sanubari pendengar? Namun di balik kemilau produksi mahal tersebut, pola ini sesungguhnya bukan kejutan baru. Formula daur ulang serupa sudah dipraktikkan berulang kali lewat lagu Menyesal, berlanjut ke tembang Apa Artinya Aku, hingga proyek kolaborasi Andi Rianto bersama Rony Parulian dalam nomor Salahi Aku. Strategi memoles ulang katalog lama seakan telah menjadi resep pabrikan yang wajib dikeluarkan setiap kali label rekaman membutuhkan suntikan angka keterlibatan pasar.

Kecenderungan mendaur ulang karya lama memperlihatkan kontradiksi menggelikan di tengah ekosistem industri kreatif hari ini. Di satu sisi, para petinggi label rekaman dan promotor festival tidak pernah lelah berpidato di hadapan publik tentang betapa kayanya bakat musik generasi baru tanah air. Kita memiliki barisan vokalis muda dengan musikalitas luar biasa, artikulasi vokal kelas dunia, dan basis penggemar militan yang siap menggerakkan algoritma internet dalam hitungan menit.

Namun ketika tiba saatnya membiayai proses produksi di bilik rekaman, nyali para pemodal mendadak ciut. Mengorbitkan lagu orisinal dengan komposisi baru yang berani menabrak kelaziman selalu dianggap sebagai perjudian yang terlalu mahal. Mengapa harus mengambil risiko merugi jika mendaur ulang katalog emas tahun 2000-an sudah menjamin jutaan angka pemutaran di Spotify dan TikTok tanpa perlu memeras otak?

Akibatnya, talenta vokal emas generasi muda justru direduksi fungsinya menjadi sekadar mesin penyegar katalog bagi maestro senior dan katalog korporasi. Generasi baru yang seharusnya diberi ruang seluas-luasnya untuk mendefinisikan keresahan, patah hati, dan bahasa cinta zaman mereka sendiri, malah dipaksa bernyanyi dengan kacamata nostalgia para pendengar paruh baya yang rindu masa remaja.

Bagi anak muda perkotaan yang sehari-hari dicekik kecemasan harga sewa tempat tinggal dan tekanan pekerjaan yang makin menuntut, ketergantungan industri pada nostalgia masa lalu ini terasa sangat kontras. Kita seolah-olah hidup dalam masyarakat yang enggan menatap masa depan karena terlalu nyaman berlindung di balik kejayaan masa silam. Fenomena ini terasa sangat relevan dengan dinamika kultur digital, sebagaimana daur ulang lagu pop galau yang mendadak meledak lagi di linimasa berkat video pendek lelucon warganet beberapa pekan terakhir.

Situasi tersebut kian mempertegas fakta bahwa di tengah banjir rilisan serentak tiap akhir pekan yang menenggelamkan ribuan karya baru, industri musik arus utama justru makin kehilangan keberanian estetika. Para musisi independen di berbagai kota harus berdarah-darah mengumpulkan recehan gigs demi merilis album penuh bermuatan kritik sosial, sementara label raksasa tetap puas memetik dividen dari balada cinta segitiga yang ditulis seperempat abad silam.

Menikmati versi orkestrasi megah dari lagu Aku, Dirimu, Dirinya memang akan tetap terasa nikmat di telinga, terutama saat kita butuh pelarian manis sehabis lembur di kantor. Namun kebiasaan industri yang gemar menghangatkan sayur basi pada akhirnya menyisakan satu pertanyaan getir: dua puluh tahun dari sekarang, lagu apa yang bakal didaur ulang oleh anak cucu kita jika musisi generasi hari ini tidak pernah diberi panggung untuk menulis karya besarnya sendiri?