Membuka etalase digital Steam di akhir pekan biasanya menjadi ritual pelepas penat yang menyenangkan bagi para gamer komputer. Di tengah tumpukan daftar keinginan (wishlist) yang tak kunjung dibeli, kita selalu berharap ada keajaiban berupa potongan harga menggiurkan untuk judul-judul game incaran terbaru. Namun pemandangan di beranda toko daring milik Valve akhir pekan ini justru memantik tawa getir sekaligus rasa kesal yang sulit disembunyikan.
Banner raksasa yang terpampang di halaman depan bukan memamerkan tanggal rilis karya agung masa depan, melainkan promosi obral game-game uzur waralaba Grand Theft Auto yang sudah tamat dimainkan orang sejak zaman rental PlayStation atau warnet berlayar tabung cembung.
Sebagaimana dicatat dalam laporan PC Gamer dan GamesRadar pekan ini, Rockstar Games secara mengejutkan meluncurkan diskon besar-besaran untuk katalog game GTA klasik khusus di platform PC. Dua paket utama diobral dengan harga miring: Grand Theft Auto: The Trilogy – The Definitive Edition (berisi GTA 3, Vice City, dan San Andreas) dipangkas 67 persen menjadi sekitar 19 dolar, sementara Grand Theft Auto 4: Complete Edition beserta dua ekspansi ceritanya dilepas dengan diskon 70 persen di angka 6 dolar saja. Catatan dari situs pelacak harga Isthereanydeal menunjukkan bahwa banderol ini merupakan titik harga terendah sepanjang sejarah penjualan bundel tersebut di PC.
Kabar potongan harga ini di atas kertas terdengar seperti kabar gembira bagi siapa saja yang ingin bernostalgia menyusuri jalanan Liberty City bersama Niko Bellic. Namun bagi komunitas pengguna komputer pribadi yang paham duduk perkaranya, diskon mendadak ini terasa tak ubahnya lelucon satir bernada ejekan (trolling) dari Rockstar Games. Pasalnya, diskon istimewa tersebut hanya diberikan untuk etalase PC—satu-satunya platform yang secara resmi dianaktirikan dan ditinggalkan dari jadwal peluncuran akbar Grand Theft Auto 6 pada 19 November mendatang.

Situasi ini menghadirkan ironi komedi tingkat tinggi di panggung industri video game. Para pemilik konsol PlayStation 5 dan Xbox Series X/S yang siap menyambut petualangan Jason dan Lucia di kota Vice City sama sekali tidak kebagian diskon game jadul ini. Sebaliknya, jutaan gamer PC yang selama berbulan-bulan gigit jari karena komputernya tidak dianggap layak mencicipi GTA 6 di hari pertama, justru disodori tumpukan kaset lama yang sudah berdebu. Sikap Rockstar seolah berbisik dengan santai ke telinga para pemain PC: "Kalian memang tidak boleh main GTA 6 tahun ini, tapi ini kami beri diskon murah meriah untuk memainkan kembali game yang sudah kalian khatamkan sepuluh tahun lalu."
Bagi siapa pun yang rutin mengikuti dinamika industri, perlakuan diskriminatif semacam ini tentu bukan barang baru. Pola lama ini menegaskan kembali catatan tentang ketika mayoritas gamer PC rela pasang badan menunggu GTA 6 daripada harus merogoh kocek belasan juta rupiah demi membeli mesin konsol baru yang hanya dipakai untuk satu judul game. Komunitas komputer sudah kenyang dengan siasat licik penerbit yang sengaja menunda versi PC selama satu atau dua tahun. Tujuannya sangat transparan dan sudah terbaca sejak era peluncuran GTA 5: memancing rasa tidak sabar para pemain agar mereka rela membeli game yang sama sebanyak dua kali alias double dipping.
Obsesi bisnis yang serba diperhitungkan ini semakin melengkapi manuver korporat yang sebelumnya terlihat saat bos Take-Two santai hadapi pembajakan GTA 6 tapi bikin pemain waswas. Di mata para pemegang saham, loyalitas komunitas pengguna PC hanyalah angka statistik cadangan yang baru akan diperas ketika grafik penjualan konsol mulai melandai. Mengobral game lawas di Steam pada hakikatnya hanyalah trik kehumasan murah untuk menjaga nama waralaba tetap menjadi topik perbincangan harian di internet tanpa harus mengeluarkan biaya produksi tambahan sepeser pun.
Gamer PC di tanah air barangkali bisa tersenyum kecut melihat tawaran obral tersebut. Mengulang kembali misi mengantar ambulans di Vice City atau mendengarkan stasiun radio Vladivostok FM di GTA 4 memang tetap menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Namun bagi Rockstar Games, sebaiknya jangan terlalu percaya diri mengira bahwa obral game uzur ini sanggup membasuh rasa kecewa para pemain yang dianaktirikan. Sebab di era modern saat ini, pemain komputer bukanlah pasar pinggiran yang gampang disuap dengan diskon enam dolar sementara hidangan utamanya disembunyikan di meja sebelah.



