Sinyal bahaya mulai bergaung dari film biopik Michael Jackson, "Michael." Sebuah klip yang menampilkan Jaafar Jackson memerankan sang Raja Pop dalam adegan ikonis "Billie Jean" baru saja dirilis, dan responsnya? Lebih sepi daripada konser solo setelah badai. Dengan jutaan pasang mata menyaksikan, audiens dunia maya kompak berteriak, "Kok gini amat?" Rasanya seperti menunggu pertandingan besar, tapi yang disajikan malah drama lokal dengan kualitas produksi seadanya. Sebuah keajaiban visual yang dinanti-nantikan justru terasa seperti adegan cut-scene di game lawas yang buru-buru dirilis.
Klip tersebut mengabadikan momen krusial ketika Jaafar, keponakan sang legenda, mengenakan sarung tangan putih dan jaket bertabur kristal yang menjadi ciri khas Michael. Adegan ini adalah rekonstruksi penampilan legendaris Michael di "Motown 25: Yesterday, Today, Forever," momen di mana moonwalk pertama kali diperkenalkan ke publik. Jaafar berhasil mereplikasi setiap gerakan, termasuk moonwalk-nya yang mengesankan, namun justru di sinilah kritik mulai mengalir deras. Ini bukan soal performa Jaafar, melainkan soal bagaimana performa itu direkam dan diedit.
Sinematografi yang Membuat Mata Menangis
Para penonton, yang rupanya memiliki mata lebih jeli daripada tim editornya, melayangkan protes keras terhadap penggarapan visual klip tersebut. Frasa seperti "sinematografi paling tidak inspiratif yang pernah ada" muncul berulang kali. Komentar pedas lain menyandingkan kualitas klip baru ini dengan rekaman asli "Motown 25," dan ironisnya, footage lawas itu justru dinilai lebih superior. Bayangkan menonton aksi spektakuler dengan bidikan kamera yang begitu datar, membosankan, dan terputus-putus. Ini seperti menonton konser orkestra dari balik tirai jendela yang kotor; esensi dan energinya hilang.
Perbandingan muncul dengan film biopik Freddie Mercury, "Bohemian Rhapsody." Sebagian menganggap klip "Michael" memiliki nuansa yang serupa: eksekusi visual yang "aneh" namun diselamatkan oleh kekuatan magnetis sang artis yang dihidupkan kembali. Namun, tak sedikit pula yang langsung memberi label "mengerikan" dan "tidak dapat ditoleransi." Jika film biopik seharusnya membuat kita merinding dan terhanyut dalam kehebatan sang musisi, klip ini justru membuat penonton geleng-geleng kepala karena alasan yang salah.
Beberapa kritikus secara spesifik menyoroti perpindahan fokus kamera yang tiba-tiba ke arah penonton. Tindakan ini, alih-alih menambah dramatisasi, justru merusak aliran energi dan momentum penampilan. Seolah-olah di tengah klimaks lagu, sutradara memutuskan untuk menunjukkan wajah penonton yang sedang makan popcorn. Pertanyaan yang menggantung adalah, apa sebenarnya yang dipikirkan tim produksi saat memilih gaya pengeditan seperti ini? Apakah tujuannya untuk membuat Michael Jackson terlihat seperti sedang tampil di acara reuni keluarga yang canggung?
Drama di Balik Layar, Hingga ke Layar Lebar
Bukan hanya elemen visual yang menjadi sorotan. Film "Michael" ini sendiri tampaknya telah dibayangi oleh serangkaian drama produksi yang tak kunjung usai. Desas-desus tentang perombakan besar-besaran, reshoot yang memakan biaya jutaan dolar, bahkan pembatalan babak akhir film, semua mengindikasikan adanya ketidakpastian dalam proses pembuatannya. Penundaan rilis yang sempat terjadi juga menambah daftar panjang masalah yang menyertai proyek ambisius ini.
Perjalanan menuju layar lebar sepertinya lebih berliku daripada moonwalk Michael Jackson di atas panggung. Jika film ini dimaksudkan untuk menghormati warisan sang King of Pop, maka pondasi pembuatannya sendiri terasa rapuh. Ada kekhawatiran bahwa segala drama ini akan tercermin dalam kualitas akhir film, menjadikan upaya Jaafar Jackson sebagai bintang utama terasa kurang maksimal karena dibalut oleh produksi yang bermasalah.
Antoine Fuqua didapuk sebagai sutradara, dengan naskah ditulis oleh John Logan. Barisan pemain pendukung yang mumpuni, seperti Colman Domingo sebagai Joe Jackson, Nia Long sebagai Katherine Jackson, dan Miles Teller sebagai pengacara John Branca, menjanjikan potensi besar. Namun, bakat para aktor ini tentu saja tidak akan cukup jika naskah dan arahan visualnya tidak mampu menopang. Ini seperti memiliki tim esports bintang lima, tetapi mereka dipaksa bermain dengan koneksi internet yang buruk.
Harapan yang Tipis, atau Sekadar Optimisme Buta?
Di tengah gelombang kritik yang menghujani, masih ada segelintir suara yang mencoba memberikan optimisme. Salah satu komentar di media sosial bahkan memprediksi kesuksesan film ini di kancah internasional, mengacu pada potensi daya tarik global Michael Jackson. Argumen ini seolah berkata, "Meskipun filmnya jelek, orang akan tetap datang karena Michael Jackson." Ini adalah strategi yang mengandalkan nostalgia dan nama besar, bukan kualitas film itu sendiri.
Namun, klaim tersebut terdengar seperti mencoba menjual tiket konser band yang personelnya sudah tidak bisa bermain alat musik. Michael Jackson adalah ikon yang tak terbantahkan, namun generasi sekarang membutuhkan lebih dari sekadar pengulangan momen klasik. Mereka butuh cerita yang dikemas dengan baik, visual yang memukau, dan performa akting yang mendalam. Jika film ini hanya mengandalkan "nama besar" tanpa eksekusi yang memadai, ia berisiko menjadi sekadar tontonan yang terlupakan.
Fenomena "Bohemian Rhapsody" memang menunjukkan bahwa film biopik musisi bisa sukses besar meskipun tidak sempurna secara artistik. Film tersebut berhasil menangkap esensi Freddie Mercury dan Queen, serta menyajikan drama dan musik yang menghibur khalayak luas. Akan tetapi, perbandingan ini juga sekaligus menyoroti apa yang mungkin kurang dari "Michael." Klip "Billie Jean" ini memberikan sinyal bahwa film tersebut mungkin terjebak dalam upaya meniru, alih-alih menciptakan kembali keajaiban.
Masa depan film "Michael" masih menjadi tanda tanya besar. Penonton telah memberikan suara mereka melalui komentar dan reaksi daring, dan suara itu mayoritas terdengar kecewa. Harapannya, tim produksi dapat mengambil masukan ini sebagai bahan evaluasi kritis. Jika tidak, film ini berpotensi menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa bahkan nama sebesar Michael Jackson pun tidak dapat menyelamatkan karya yang mengecewakan dari sisi teknis dan artistik.
Setiap karya seni, terutama yang berani mengangkat kisah ikon sebesar Michael Jackson, harusnya menjadi sebuah perayaan. Perayaan yang diwujudkan melalui detail-detail kecil: pencahayaan yang tepat, sudut kamera yang dinamis, dan editing yang mengalir mulus. Klip "Billie Jean" ini, sayangnya, terasa seperti perayaan yang dipaksakan, sebuah upaya yang kurang matang untuk menghidupkan kembali momen legendaris yang seharusnya menjadi puncak dari sebuah film.
Pada akhirnya, film "Michael" harus membuktikan bahwa kontroversi dan kritik awal hanyalah riak kecil sebelum gelombang kesuksesan. Namun, dengan melihat reaksi terhadap klip "Billie Jean" ini, gelombang tersebut tampaknya lebih mirip ombak tsunami kecil yang siap menenggelamkan kapal produksi sebelum sempat berlayar jauh. Publik kini menanti, dengan keraguan yang kian membuncah, apakah film ini akan menjadi sebuah tribute yang layak, atau sekadar catatan kaki yang mengecewakan dalam sejarah perfilman biopik musisi.



