Bagi siapa saja yang masih memiliki kebiasaan membaca koran cetak di teras rumah sambil menikmati pisang goreng hangat, membuka laman portal berita di peramban ponsel hari ini adalah pengalaman yang menguji kesabaran jiwa. Niat hati ingin membaca ulasan mendalam soal kondisi ekonomi terkini, layar ponsel kita justru langsung dihajar oleh pemutar video otomatis yang mengambang menutupi separuh teks, lengkap dengan iklan pop-up berisik yang memekakkan telinga. Belum sempat jari kita menggulir paragraf kedua, sebuah video vertikal berdurasi tiga puluh detik sudah memaksa tampil, memperlihatkan seorang pembawa berita muda yang berbicara dengan gaya terburu-buru bak dikejar penagih utang.
Kekacauan visual ini bukan sekadar ketidaknyamanan teknis peramban, melainkan gejala dari penyakit korporasi menahun yang kini kambuh kembali di ruang-ruang redaksi digital. Rasa panik para pemilik modal terhadap hilangnya atensi pembaca membuat mereka rela menumbalkan kenyamanan dasar audiens demi mengejar ilusi metrik keterlibatan.
Sebagaimana dicatat dalam kolom ulasan The Verge pekan ini, industri media global kini resmi terjerumus ke dalam fenomena yang dijuluki sebagai pivot-to-video babak kedua. Hampir tepat sepuluh tahun lalu, sekitar pertengahan dekade 2010-an, para pemilik modal dan eksekutif media berbondong-bondong memangkas ribuan staf penulis teks demi membangun studio rekaman video mewah. Keputusan panik itu dipicu oleh janji manis para petinggi Facebook yang mengklaim bahwa konsumsi video tumbuh luar biasa pesat. Belakangan terbukti di pengadilan bahwa data metrik tontonan tersebut digelembungkan hingga 900 persen oleh pihak platform. Ratusan ruang redaksi independen telanjur bangkrut dan jurnalis andal kehilangan nafkah, sementara para bos Silicon Valley cuma tersenyum meminta maaf atas kesalahan kalkulasi teknis.

Bukannya memetik pelajaran berharga dari kuburan massal media digital satu dekade silam, para direksi media massa hari ini justru mengulangi kekonyolan yang sama dengan antusiasme yang lebih gila. Kali ini kiblat pemujaan mereka berpindah ke aplikasi video pendek TikTok dan format gulir vertikal Instagram Reels. Di mata para manajer ruang redaksi yang terpaku pada grafik grafik kunjungan semu, teks panjang dianggap sudah kuno dan membosankan bagi generasi muda. Akibatnya, jurnalis investigasi yang semestinya dikirim ke lapangan untuk membongkar kongkalikong proyek pemerintah daerah malah dipaksa duduk di depan ring light, merias wajah, dan menghafal naskah ringkas demi memancing algoritma rekomendasi berdurasi satu menit.
Dinamika ini memperlihatkan betapa rapuhnya kedaulatan industri informasi ketika seluruh nasib dapur redaksi diserahkan kepada kemauan tuan tanah platform digital. Kita melihat kemiripan pola ini dengan ekspansi rakus aplikasi belanja TikTok yang membajak waktu luang di mana perhatian pengguna diperlakukan bagaikan komoditas tambang yang harus dikuras habis sampai tetes terakhir. Alih-alih membangun loyalitas pembaca organik lewat laporan yang bernas dan berbobot, media arus utama memilih menjadi buruh konten lepas yang mengemis recehan impresi dari algoritma yang aturannya bisa diubah semena-mena oleh sang pemilik server setiap pekan.
Ketergantungan buta terhadap tren algoritma kilat ini juga mengingatkan kita pada kegagalan kecerdasan buatan dalam memahami nuansa pekerjaan manusia di mana otomasi dan metrik angka kerap dianggap sebagai jawaban tunggal untuk segala urusan. Padahal esensi utama jurnalisme bukan terletak pada seberapa cepat gambar bergerak di layar kaca ponsel, melainkan pada ketajaman sudut pandang dan keberpihakan moral terhadap kebenaran publik. Ketika berita investigasi yang rumit disunat menjadi potongan video vertikal yang dangkal cuma demi menghindari tombol lewati, publik sejatinya tidak sedang disuguhi informasi, melainkan sekadar dibius oleh tontonan komedi pengisi waktu luang.
Di tongkrongan warkop, orang-orang sebetulnya masih menghargai tulisan yang jernih dan berbobot untuk memahami mengapa harga beras melambung atau kenapa tarif listrik diam-diam naik. Mereka tidak butuh reporter yang berpose heboh sambil menunjuk-nunjuk teks melayang di layar. Namun selama dewan redaksi masih dipimpin oleh manajer yang lebih takut pada grafik algoritma ketimbang kehilangan martabat pers, ruang redaksi akan terus disulap menjadi pabrik konten kilat.
Bila para pengelola media digital tetap bersikukuh bahwa jurnalisme masa depan harus berwujud reporter yang berjoget canggung mengikuti tren audio viral, jangan heran jika suatu hari nanti pembaca mereka benar-benar lenyap dari muka bumi. Membaca teks berita berkualitas butuh waktu dan ketenangan berpikir, sementara menyuruh seluruh dunia menatap video vertikal tanpa henti hanyalah cara paling cepat untuk memastikan bahwa otak generasi kita mencair sebelum sempat membedakan mana fakta dan mana lelucon.



