Berita

Oligarki Hungaria Kabur: Angin Perubahan Tiupkan Kepanikan Kekayaan

Oligarki Hungaria Kabur: Angin Perubahan Tiupkan Kepanikan Kekayaan
Oligarki Hungaria Kabur: Angin Perubahan Tiupkan Kepanikan Kekayaan

Begitu kabar berakhirnya era Viktor Orbán berembus di sepanjang tepi Sungai Danube, seolah alarm kebakaran hutan berbunyi, memicu pesta jam-jaman yang menggema di seluruh Hongaria. Sorak-sorai, pelukan, dan tos bertebaran bagai confetti pasca pesta. Namun, di balik gegap gempita itu, bagi sebagian kalangan, kekalahan telak ini justru memicu mode darurat: sebuah lompatan panik untuk menyelamatkan aset.

Bayangkan saja, jet-jet pribadi yang konon dilapisi "harta karun" dari para konglomerat yang kekayaannya membengkak selama 16 tahun kekuasaan Orbán, dilaporkan mulai mendarat dan lepas landas dari Wina bak taksi bandara yang super mewah. Sementara itu, individu-individu lain sibuk memindahkan aset mereka ke luar negeri, seperti investor yang buru-buru mencairkan saham sebelum market crash. Sumber terpercaya membisikkan ke telinga Guardian, petinggi-petinggi dekat Orbán pun dikabarkan sedang menjajaki opsi visa AS, berharap bisa menemukan "tempat berlindung" di institusi-institusi yang terafiliasi dengan gerakan MAGA.

Ini adalah gambaran singkat dari gelombang kejut yang melanda Hongaria saat bersiap membalik lembaran baru dari kekuasaan Orbán. Sejak ia berkuasa di tahun 2010, lingkaran kecil kroni yang terjalin erat dengan sang pemimpin dan partainya, Fidesz, telah mengumpulkan kekayaan selangit. Sumber utamanya? Tentu saja, kontrol yang semakin luas atas denyut nadi ekonomi negara dan kontrak-kontrak infrastruktur publik yang didanai Uni Eropa, sebuah praktik yang sudah menjadi rahasia umum.

Lompatan Uang Jauh ke Ujung Dunia

Sejak pemilihan umum usai, laporan-laporan mulai muncul: setidaknya tiga anggota lingkaran dalam ini telah memulai manuver pemindahan aset mereka ke luar negeri. Destinasinya pun tak main-main, mulai dari Timur Tengah seperti Arab Saudi, Oman, dan Uni Emirat Arab, hingga Australia dan Singapura. Fidesz sendiri mengonfirmasi, dua sumber di internal partai menyebutkan bahwa negara-negara ini menjadi tujuan utama para "pemain besar" tersebut.

Péter Magyar, sang tokoh oposisi dari partai Tisza yang sukses meraih kemenangan telak bulan ini, tak tinggal diam. Ia telah membunyikan sirene peringatan, menuduh para loyalis Fidesz berpacu dengan waktu untuk mengamankan kekayaan mereka sebelum pemerintahannya yang baru berkuasa di awal Mei. Magyar terang-terangan menuding para oligark yang terhubung dengan Orbán tengah mentransfer puluhan miliar forint ke berbagai negara tujuan eksotis seperti Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Uruguay. Ia pun mendesak Kejaksaan Agung, Kepala Polisi, dan Kepala Kantor Pajak untuk "menahan para kriminal ini" sebelum mereka kabur ke negara-negara yang sulit diekstradisi.

Magyar bahkan secara spesifik menyebut keluarga Lőrinc Mészáros, salah satu sahabat terdekat Orbán. Perjalanan Mészáros dari seorang montir gas menjadi orang terkaya di Hongaria tak lepas dari kucuran kontrak pengadaan publik. Belum ada tanggapan resmi dari perusahaan Mészáros mengenai tudingan ini. Magyar menambahkan, informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa beberapa keluarga oligark lainnya telah meninggalkan Hongaria, bahkan dilaporkan telah menarik anak-anak mereka dari sekolah dan mempersiapkan pengamanan pribadi untuk keberangkatan mereka.

Menelisik Jejak Kekayaan dan Kekuasaan

Upaya pemindahan aset besar-besaran ini sejatinya sudah lebih dulu diendus oleh jurnalis investigasi independen di Hongaria, termasuk Vsquare. Outlet ini melaporkan bahwa para figur kunci yang terafiliasi dengan Orbán berupaya mengamankan aset mereka sebelum pemerintah Magyar bertindak lebih jauh, seperti membekukan, menyita, atau bahkan menasionalisasi aset tersebut. Situs berita 444.hu pun di bulan Maret lalu sudah mengklaim adanya transfer aset ke Dubai oleh figur-figur penting tersebut.

Namun, manuver mereka mungkin tak semulus yang dibayangkan. Vsquare mencatat, banyak birokrat dan aparat penegak hukum yang memiliki pengetahuan parsial tentang berbagai praktik selama era Orbán. Hal ini "mempersiapkan panggung untuk upaya bertahun-tahun guna memulihkan kekayaan publik yang diduga dicuri dan menangkap para pelaku kejahatan finansial," tulis Vsquare. Sebuah skenario yang kompleks, mirip dengan alur cerita heist movie, namun kali ini berlatar di dunia nyata birokrasi dan korupsi.

Sejak pemilihan, Magyar konsisten menegaskan niat pemerintahannya untuk memberantas korupsi dan kronisme yang ia anggap telah merajalela selama era Fidesz. "Negara kita tidak punya waktu untuk disia-siakan. Hongaria dalam masalah di segala aspek. Ia telah dijarah, dirampok, dikhianati, dijerat utang, dan dirusak," ujar Magyar kepada awak media sehari setelah kemenangannya. Ia bahkan tak ragu menyebut Hongaria sebagai negara paling miskin dan paling korup di Uni Eropa. Sebuah pernyataan yang keras, namun mungkin sesuai dengan realitas pahit yang dihadapi sebagian warganya.

Dokumen "Terbang", Pejabat "Membantah"

Magyar juga berulang kali menuding adanya pemusnahan dokumen-dokumen krusial selama minggu-minggu terakhir kekuasaan Orbán. Laporan mengenai penghancuran dokumen berskala besar dari berbagai kementerian, institusi terafiliasi, dan perusahaan dekat Fidesz terus berdatangan. Sebuah tuduhan serius yang tentu saja langsung dibantah oleh pihak-pihak yang dituduh.

Menteri Luar Negeri yang akan segera lengser, Péter Szijjártó, yang kementeriannya termasuk salah satu yang dituduh melakukan penghancuran dokumen rahasia, menyebut tuduhan tersebut "omong kosong" dan "keterlaluan." Kemenlu menyatakan bahwa mereka hanya membuang versi cetak yang sudah tidak relevan dari dokumen yang tersimpan secara elektronik. Sebuah penjelasan yang terkesan hati-hati, namun mungkin tidak cukup untuk meredakan kecurigaan.

Kementerian Luar Negeri dan kantor kepresidenan Orbán, yang sejatinya selalu menolak tuduhan korupsi dan pelanggaran, tidak memberikan komentar resmi kepada Guardian terkait isu ini. Sikap diam ini, dalam dunia politik, seringkali berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Babak Baru dan Potensi Perjalanan Jauh

Hasil pemilihan umum ini tentu saja memunculkan spekulasi tentang langkah selanjutnya bagi Orbán, pemimpin kuat yang visinya mengubah Hongaria menjadi "petri dish bagi iliberalisme" telah menginspirasi banyak pemimpin sayap kanan global, termasuk pemerintahan Donald Trump. Sebuah warisan yang kompleks dan kontroversial, yang jejaknya masih akan terasa dalam waktu lama.

Pada hari Sabtu, Orbán mengumumkan melalui media sosial bahwa ia tidak akan mengambil kursinya di parlemen, namun bertekad tetap memimpin Fidesz dalam proses "pembaharuan." Sebuah langkah strategis untuk mempertahankan pengaruhnya dari balik layar, sambil menata ulang kekuatan partainya.

Sang pemimpin terlama di Uni Eropa ini dikabarkan akan melakukan perjalanan ke Amerika Serikat bersamaan dengan dimulainya Piala Dunia FIFA. Ia diperkirakan akan menghabiskan beberapa minggu di sana. Sumber yang dekat dengan Fidesz menyebutkan bahwa rencana perjalanan ini sudah disusun jauh sebelum pemilu 12 April. Ke mana tepatnya Orbán akan pergi masih menjadi misteri, meskipun putri sulungnya dan menantunya telah pindah ke New York sejak musim panas lalu.

Menantu Orbán, István Tiborcz, memang sosok yang cukup dikenal publik. Pada tahun 2018, kantor anti-penipuan Uni Eropa, Olaf, menyatakan bahwa investigasi dua tahun terhadap kontrak pengadaan lampu jalan kota-kota Hongaria yang didanai UE menemukan "tidak hanya kejanggalan serius di sebagian besar proyek, tetapi juga konflik kepentingan." Meskipun Olaf tidak mempublikasikan laporan lengkapnya, Guardian memahami bahwa kejanggalan tersebut berkaitan dengan kontrak yang ditandatangani saat Tiborcz masih menjadi pemilik perusahaan terkait.

Perwakilan Tiborcz merujuk Guardian pada sebuah wawancara di bulan Juli, di mana Tiborcz menggambarkan penyelidikan UE tersebut bermotif politik. Kasus ini juga diselidiki oleh jaksa Hongaria, yang dipimpin oleh loyalis Orbán, dan tidak menemukan adanya pelanggaran hukum. Sebuah pola yang familiar, di mana investigasi internasional berbenturan dengan sistem peradilan domestik yang loyal.

Sementara itu, figur-figur tingkat tinggi lainnya yang berafiliasi dengan Fidesz dilaporkan tengah mengajukan visa kerja ke AS. Harapannya, mereka dapat memanfaatkan keahlian mereka di institusi-institusi yang terafiliasi dengan Partai Republik. Sumber pemerintah AS di Washington dan sumber internal Fidesz membenarkan adanya koneksi yang sudah terjalin kuat. Bertahun-tahun lobi oleh Orbán dan Fidesz memungkinkan para pejabat Hongaria membangun jaringan yang luas dalam gerakan MAGA. Koneksi ini semakin terlihat jelas menjelang pemilu, ketika Wakil Presiden AS, JD Vance, bahkan terbang ke Budapest untuk mendukung kampanye Orbán yang sempat tertinggal.

Beberapa hari setelah pemilu, salah satu jurnalis investigasi paling terkemuka di Hongaria, Szabolcs Panyi, melaporkan bahwa AS telah lama dianggap sebagai "rencana B" bagi banyak orang yang terafiliasi dengan Orbán, terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang terus mengemuka mengenai koneksi Orbán dan pemerintahannya dengan Moskow. "Selama pemerintahan Trump masih berkuasa, bahkan Amerika Serikat pun bisa menjadi surga aman bagi petinggi rezim Orbán," ujar Panyi, sebuah pengamatan yang cukup provokatif.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.