Bagi siapa saja yang masa kecilnya sempat dihabiskan dengan berlari tanpa alas kaki di atas tanah lapang kampung menjelang waktu magrib, mantra hompimpa alaium gambrang selalu membawa getaran nostalgia yang hangat. Kita semua ingat betapa sederhananya aturan hidup saat itu: cukup ayunkan tangan bersama-sama, perlihatkan telapak tangan putih atau punggung tangan hitam, dan dalam hitungan detik urusan siapa yang harus menjaga pos ronda langsung tuntas tanpa debat kusir. Tidak ada rasa dendam kesumat, tidak ada drama blokir nomor kontak, dan tidak ada air mata yang tumpah hanya karena punggung tangan kita berbeda warna dengan teman sebaya.
Namun di tangan para peracik lagu pop melankolis ibu kota, kepolosan ritual dolanan anak-anak tersebut kini diseret masuk ke dalam pusaran asmara dewasa yang penuh keluh kesah.
Fenomena tersebut tercermin jelas dalam pergerakan tangga nada musik tanah air pekan ini. Sebagaimana dicatat dalam laporan tangga lagu resmi yang dilansir dari RRI, tembang terbaru bertajuk Tak Semudah Hompimpa yang dibawakan oleh penyanyi muda Nabila Taqiyyah resmi memuncaki tangga lagu Top 20 Indonesia. Lagu yang mengandalkan aransemen piano lembut berbalut gesekan dawai biola mendayu-dayu ini berhasil menyalip puluhan lagu pop arus utama lainnya, membuktikan bahwa formula metafora masa kecil masih sangat ampuh membius telinga pendengar lokal.

Keberhasilan single ini sesungguhnya memantik senyum geli sekaligus tanda tanya besar mengenai kondisi kreativitas lirik lagu pop Indonesia hari ini. Selama puluhan tahun, perbendaharaan kata para pencipta lagu asmara tanah air berputar pada perumpamaan yang itu-itu saja: hujan gerimis di kaca jendela kafe, kopi hitam yang mendingin di atas meja, bayangan senja yang muram, atau janji manis yang terbang tertiup angin malam. Ketika stok kata puitis dari kamus besar bahasa Indonesia sudah terkuras habis akibat dipakai berulang kali oleh ratusan penyanyi berbeda, produser rekaman tampaknya mulai panik dan memutuskan untuk menjarah memori taman kanak-kanak.
Maka lahirlah lagu-lagu yang membandingkan pahitnya dikhianati kekasih dengan permainan petak umpet, adu kelereng, hingga hompimpa. Strategi ini memang tergolong cerdik untuk memancing efek viral instan di linimasa media sosial. Generasi muda yang setiap hari dirundung kecemasan masa depan mudah sekali terpancing emosinya ketika disuguhi kontras antara manisnya kenangan masa kecil dan getirnya realitas percintaan orang dewasa. Lirik yang akrab di telinga membuat lagu cepat dihafal oleh para penumpang angkutan kota, pekerja kantoran yang penat di gerbong kereta rel listrik, hingga kasir minimarket yang memutar radio seharian.
Kecenderungan industri musik yang gemar mencari jalan pintas formula komersial ini sejatinya menggemakan fenomena serupa pada kecenderungan label rekaman mendaur ulang formula asmara seragam di mana keberanian untuk melahirkan narasi puitis orisinal kerap dikalahkan oleh ketakutan rugi di meja kalkulasi produser. Ketika satu tema dolanan anak terbukti laris manis di pasaran, kita bisa menebak bahwa beberapa bulan ke depan studio rekaman bakal kebanjiran demo lagu cinta bertema lompat tali, gobak sodor, atau layang-layang putus.
Padahal di ranah musik nusantara yang lebih luas, keberhasilan merebut hati rakyat jelata tidak melulu harus mengandalkan gimik judul nostalgia yang dibuat-buat, persis seperti keberhasilan musisi non-Jakarta merebut puncak penghargaan musik yang membuktikan bahwa kejujuran bertutur tentang realitas hidup sehari-hari selalu memiliki bobot yang jauh lebih abadi daripada sekadar menumpang tenar pada permainan anak-anak. Menulis lirik cinta semestinya berangkat dari pengamatan sosial yang jujur, bukan sekadar meminjam kosakata masa kecil demi memancing rasa iba sesaat di aplikasi streaming musik.
Mendengarkan kepedihan asmara yang disandingkan dengan hompimpa memang terasa menggemaskan di beberapa menit awal. Namun jika untuk sekadar move on dari mantan pacar saja orang dewasa harus merengek membandingkan nasibnya dengan permainan anak sekolah dasar, barangkali yang perlu dievaluasi bukan cuma kedewasaan hubungan asmaranya, melainkan apakah para pencipta lagu kita memang sudah benar-benar kehabisan bahan obrolan.



