Tech

Seni Garis Resolusi: Menantang TV, Lahirkan Era Media Baru!

Seni Garis Resolusi: Menantang TV, Lahirkan Era Media Baru!
Seni Garis Resolusi: Menantang TV, Lahirkan Era Media Baru!

Bayangkan televisi zaman dulu. Bukan yang layar datar kayak pintu tol itu, tapi yang tabungnya kayak perut buncit om-om di warung kopi. Sekarang, bayangkan lagi televisi itu dipakai buat... menggambar? Kedengarannya absurd kayak ide nyambung Wi-Fi di WC umum, tapi itulah yang dilakukan para seniman yang dipamerkan di Menil Collection, Houston.

Dulu, di era ketika TV masih jadi barang mewah kayak skin care impor, seorang seniman bernama Nam June Paik mengirim selusin TV ke rumah temannya di Jerman Barat. Tujuannya bukan buat nobar reality show, tapi untuk menunjukkan potensi TV sebagai media ekspresi seni sebelum Eropa keracunan sinetron Amerika. Sayang, dua TV-nya malah rusak. Satu mati total, satunya lagi cuma menampilkan garis horizontal di tengah layar. Alih-alih dibuang, Paik malah memajang TV yang bergaris itu dengan posisi miring dan menamakannya Zen for TV. Sebuah karya seni yang lahir dari ketidaksempurnaan, kayak hubunganmu dengan dia.

Ketika TV Jadi Kanvas: Bukan Sekadar Nonton Sinetron

Pameran bertajuk Lines of Resolution di Menil Collection ini menelusuri bagaimana para seniman dari era 1950-an hingga 1980-an bereksperimen dengan media TV. Mereka nggak cuma nonton Berita Nasional atau Keluarga Cemara, tapi juga membongkar, memodifikasi, dan bahkan merusak TV untuk menciptakan karya seni yang unik. Mereka melihat garis raster pada layar TV bukan sekadar tampilan gambar, tapi sebagai alat untuk menggambar, melukis, dan bahkan mengkritik realitas sosial.

Paik sendiri bukan satu-satunya seniman yang terobsesi dengan garis raster. Robert Rauschenberg, misalnya, menggunakan pelarut untuk mentransfer gambar dari majalah ke kertas dengan teknik yang mirip dengan scan pada TV. Jaime Davidovich menempelkan garis-garis horizontal dari pita berwarna di layar TV, terinspirasi oleh lukisan monokrom karya Alexander Rodchenko. Seolah ingin mengatakan bahwa seni harus melampaui estetika borjuis dan terlibat dalam isu-isu sosial. Sebuah kritik pedas terhadap kapitalisme yang mengubah nilai-nilai seni menjadi komoditas.

Kritik Sosial dalam Garis Raster: Lebih Dalam dari Sekadar Caption Instagram

Mimi Smith menggunakan garis raster untuk mengkritik konten TV. Ia menyalin berita TV ke atas kertas dengan gaya yang mengingatkan pada program TV yang monoton. Hanya dengan fokus pada tulisannya, penonton menyadari informasi yang mengganggu yang disajikan dengan tenang untuk konsumsi publik. Howardena Pindell membuat diagram kompleks pada acetate dan menempelkannya ke layar TV. Ketika gambar TV secara kebetulan sesuai dengan analisis buatannya, ia memotretnya. Hasilnya terlihat informatif, seolah Pindell menemukan makna tersembunyi. Seperti teori konspirasi QAnon sebelum era QAnon itu sendiri.

Catherine Elwes, dalam karyanya Two Drawings on Glass, berdiri telanjang di belakang jendela sambil menginstruksikan seniman Adrian Gill untuk menggambar di kaca. Setelah selesai, Elwes menutupi tubuhnya dengan cat dan mengoleskannya ke kaca, secara fisik mengatasi batasan standar kecantikan di bidang seni dan TV. Sebuah perlawanan terhadap objektifikasi perempuan yang masih relevan hingga kini, ketika filter Instagram lebih populer daripada buku.

Dari TV Tabung ke TikTok: Seni yang Terlupakan di Era Digital

Seni video akhirnya terlepas dari akarnya di televisi, terutama setelah teknologi berkembang pesat dan siapa pun dapat membuat konten dengan smartphone dan mengunggahnya ke YouTube atau TikTok. Karena video sangat mudah diproduksi, seni video tidak lagi dibebani secara konseptual oleh mesin produksi. Perubahan ini membebaskan, tetapi juga problematik, terutama mengingat betapa dalamnya media digital menembus kehidupan sehari-hari.

Lines of Resolution dapat dilihat sebagai lebih dari sekadar retrospektif. Seperti suara latar Elwes dalam videonya, pameran ini juga bersifat instruktif. Teknologi yang meresap saat ini perlu diselidiki secara terbuka, seperti halnya Paik memanipulasi televisi dengan magnet. Seperti yang disarankan riposte Davidovich kepada Rodchenko - dan seperti yang didukung oleh semua karya lain dalam pameran Menil - kekuatan penyeimbang terkuat untuk mediasi yang biasa-biasa saja adalah seni.

Pameran ini adalah pengingat bahwa seni bisa ditemukan di mana saja, bahkan di dalam barang elektronik yang dianggap usang. Bahwa kritik sosial bisa disampaikan melalui media yang paling mainstream sekalipun. Dan bahwa kreativitas tidak mengenal batas, bahkan ketika teknologi terus berkembang pesat. Jadi, lain kali kamu lihat TV nganggur di gudang, jangan langsung dibuang. Siapa tahu, dengan sedikit sentuhan kreativitas, TV itu bisa jadi karya seni yang bernilai jutaan rupiah. Atau setidaknya, bisa jadi bahan obrolan seru di warung kopi.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.