Musik

Testament: Kisah Band Thrash Metal yang Bertahan dari Grunge & Kanker

Testament: Kisah Band Thrash Metal yang Bertahan dari Grunge & Kanker
Testament: Kisah Band Thrash Metal yang Bertahan dari Grunge & Kanker

Bayangkan begini: di tengah hiruk pikuk dunia metal yang penuh distorsi, ada satu band yang lebih bandel dari Wi-Fi rumahmu saat hujan deras. Line-upnya berubah lebih sering daripada status hubunganmu di Facebook, masalah kesehatan datang silih berganti, dan sempat hampir punah ditelan ombak grunge. Tapi, saudara-saudara, mereka masih di sini, lebih garang dari charger HP yang lupa dicabut semalaman: Testament!

Dari Garasi ke Panggung Dunia: Thrash Metal Lahir di Bay Area

Di era 80-an, saat rambut gondrong lebih berharga daripada Bitcoin, Bay Area California menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya thrash metal. Metallica mungkin yang paling moncer, tapi jangan lupakan Testament. Mereka ini ibarat karakter *side quest* yang lebih seru dari *main quest*. Dengan riff gitar secepat kilat dan kemampuan teknis dewa, mereka membuktikan bahwa metal bukan cuma soal berisik, tapi juga soal skill tingkat tinggi.

Testament: Kisah Cinta, Pengkhianatan, dan Riff yang Tak Pernah Mati

Kisah Testament dimulai dari garasi Eric Peterson dan sepupunya, Derrick Ramirez. Bayangkan dua remaja tanggung ngeband di atas toko kaset, lalu tiba-tiba dapat tawaran jadi *opening act* Slayer. Peterson bilang, "Itu pertama kalinya kami main di depan penonton sebanyak itu. Gugupnya minta ampun, cuma punya empat lagu!" Ramirez cabut, lalu datanglah Alex Skolnick, gitaris jenius yang berguru pada Joe Satriani. "Saya dulu sukanya Ozzy sama Dio," kata Skolnick. "Eric bilang, 'Kita harus lebih cepat!'"

Formasi awal Testament dilengkapi oleh Louie Clemente (drum), Greg Christian (bass), dan Steve "Zetro" Souza (vokal). Mereka nongkrong di Ruthie’s Inn, markasnya anak metal Bay Area. Peterson dan Skolnick, dengan modal beberapa gelas kamikaze, "nyeruduk kerumunan dan hajar orang," kata Peterson. "Orang-orang nggak tahu apa yang terjadi - begitulah vibenya." Sampai akhirnya Souza pindah ke Exodus, dan lowongan vokalis pun dibuka.

Chuck Billy: Dari Glam Rocker Jadi Dewa Thrash Metal

Di sinilah kisah Chuck Billy dimulai. Peterson dan Clemente kenal Billy sebagai "The Cheese" karena senyumnya yang nggak pernah luntur. Masalahnya, Billy ini vokalis band glam rock bernama Guilt. Di mata anak thrash metal, glam rock itu sama menjijikkannya dengan sinetron azab Indosiar. Tapi, pas Peterson dan Clemente nonton Guilt di San Francisco, mereka lihat Billy pakai jas hujan dan pecahin botol bir di kepalanya. "Dia memang glam, tapi auranya beda," kata Peterson.

Billy dapat kerjaan itu, dan dimulailah proses "deprogramming" dari dunia glam. Spandex diganti Reebok hi-tops (Billy senang bukan main), dan Eric ngelatih Billy buat nyanyi dengan gaya *growl* yang pas dengan tempo thrash metal. "Lupakan melodi," kata Billy. "Yang penting, kamu harus bisa ngimbangin kecepatan musiknya."

Ketika Thrash Metal Mencapai Puncak Kejayaan (dan Cliff Burton Meninggal)

Tahun 1986 adalah masa keemasan thrash metal. Slayer rilis Reign in Blood, Metallica dengan Master of Puppets, dan Megadeth dengan Peace Sells… But Who’s Buying? Riff gitar makin cepat, makin kompleks, dan teknik makin gila. Di tahun itu juga, Testament audisi untuk Megaforce, label yang dulu merilis album pertama Metallica. Tapi, malam sebelum audisi, Cliff Burton, bassist Metallica yang legendaris, meninggal dalam kecelakaan bus.

"Audisi kami besoknya terasa suram," kata Billy. "Di satu sisi, ini penampilan terbesar dalam hidup kami. Di sisi lain, situasinya sangat nggak enak." Tapi Megaforce tetap tanda tangan kontrak, band ini ganti nama jadi Testament, dan tahun 1987 mereka merilis album debut The Legacy yang langsung dapat pujian. Mereka tur keliling dunia, jadi *supporting act* band-band thrash papan atas (kecuali Metallica, karena Peterson nikah sama mantannya Kirk Hammett, kata Billy sambil bercanda), sampai akhirnya jadi *headliner* sendiri.

Grunge Datang, Thrash Metal Minggir Dulu

Terlalu banyak tur dan rekaman album setiap tahun bikin hubungan antar personel jadi tegang. "Lima album berturut-turut, tekanan gila," kata Skolnick. "Kami masih muda banget. Saya masih remaja pas album pertama. Setelah rekaman dan tur terus-terusan, kami butuh istirahat panjang, tapi nggak pernah dapat."

Tahun 1992, grunge datang dan menghentikan kejayaan thrash metal. Testament, yang baru gabung Atlantic, dipaksa bikin album yang "ramah radio," hasilnya adalah The Ritual. Album ini sekarang jadi favorit penggemar, tapi dulu Testament ogah mainin lagu-lagunya secara live. Skolnick yang udah nggak tahan akhirnya cabut buat belajar jazz. "Louie sama Greg kaget banget," kata Peterson. "Saya sama Chuck santai aja. Yang pertama saya pikirin: kita bisa balik lagi ke musik yang lebih berat."

Ketika Drummer Keluar, Penonton pun Ikut Main

Masalah lain muncul: Clemente keluar pas lagi tur, ninggalin Testament tanpa drummer di konser perpisahan Skolnick yang tiketnya ludes. "Kami ngajak orang dari penonton," kata Peterson. "Chuck nanya, 'Ada yang tahu lagu ini?' Orang-orang pada naik panggung dan nyoba main. Aneh banget malam itu."

Testament terus jalan dengan formasi yang berubah-ubah, sempat ngajak Dave Lombardo (drummer Slayer) juga. Mereka nurunin nada gitar dan bikin musik yang lebih brutal, dengan Billy menyempurnakan teknik *death metal growl* di album The Gathering (1999). Tapi tahun 2001, Billy didiagnosis kanker langka dengan tumor besar di dadanya.

Pengobatan Kanker dan Kembali ke Akar Spiritual

Sambil berobat, Billy - yang dibesarkan sebagai Katolik tapi punya darah Native American Pomo dari ayahnya - kembali ke akar budayanya. Selain kemoterapi, dia juga kontak dukun dan tabib asli Amerika, dan mengalami kejadian spiritual misterius yang melibatkan sarang serigala, nyanyian, bulu elang, dan perjalanan astral. Dia percaya bahwa pengalaman itu membantunya sembuh total.

Reuni dan Kebangkitan Kembali

Tur reuni tahun 2005 dengan formasi klasik jadi titik balik. "Awalnya cuma satu konser, terus jadi lima, terus jadi sepuluh," kata Billy. Tapi mereka cuma main sesekali. Billy kerja di bidang transportasi (ngasih ceramah soal keselamatan, semoga nggak soal mecahin botol di kepala), sementara Peterson fokus ke band *symphonic black metal*-nya, Dragonlord. Sampai akhirnya mereka dapat tawaran tur besar tahun 2008 bareng Motörhead, Heaven & Hell, dan Judas Priest, dengan syarat mereka harus rekaman album baru.

Para Bellum: Testament Belum Mau Berhenti!

Dan mereka melakukannya - dan nggak pernah berhenti sejak itu. Dua dekade kemudian, Testament masih garang. Album terbaru mereka, Para Bellum, dengan drummer baru Chris Dovas, memperkenalkan elemen-elemen baru seperti riff tremolo ala *black metal*, dengan tema tentang Havana syndrome (penyakit misterius yang menyerang agen CIA) dan, tentu saja, AI.

"Kehancuran datang dalam bentuk terabyte," *growl* Billy di single Infanticide AI, "masa depan ditakdirkan menggantikan jiwa." Tapi Skolnick percaya bahwa musik metal aman dari teror teknologi ini. "Nggak mungkin suaranya bisa sama dengan orang-orang yang jamming di ruangan dan memancarkan energi manusia," katanya.

Lewat semua perjalanan musik, perubahan personel, cobaan, dan kesulitan, suara Testament di setiap era selalu memancarkan sesuatu yang sangat manusiawi. "Semua itu cuma mode yang berbeda dari diri kami, tahu nggak?" kata Peterson.

Para Bellum sudah rilis di bawah label Nuclear Blast Records.

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.