Musik

The Strokes: Di Panggung Coachella, Kritik Pedas AS Menggema

The Strokes: Di Panggung Coachella, Kritik Pedas AS Menggema
The Strokes: Di Panggung Coachella, Kritik Pedas AS Menggema

Coachella tahun ini menyaksikan The Strokes memamerkan bukan hanya hits lawas, melainkan juga segudang keberanian politik yang dibalut visual mengejutkan. Alih-alih hanya menyajikan nostalgia, kuartet asal New York ini memilih panggung megah tersebut untuk melayangkan kritik tajam terhadap campur tangan Amerika Serikat dalam urusan negara lain. Sederhananya, mereka tidak hanya bernyanyi tentang persimpangan jalan, tetapi juga soal jalan mana yang diambil oleh kekuatan dunia dalam membentuk sejarah negara lain—dan ternyata, jalan tersebut dipenuhi duri.

Sang Gitaris Menggugat Layar Lebar

Saat melantunkan "Oblivius" dari album 2016, The Strokes secara mengejutkan menampilkan sebuah montase video yang tak tanggung-tanggung menuding CIA sebagai dalang di balik perubahan rezim paksa di berbagai negara. Chile, Bolivia, Republik Demokratik Kongo, seolah menjadi menu pembuka dalam daftar panjang intervensi yang dipaparkan. Ini bukan sekadar lirik lagu yang dibalut visual, melainkan sebuah pernyataan perang budaya di tengah gurun pasir California, yang kemudian ditutup dengan citra memilukan bombardir di Gaza dan Iran, diiringi narasi bahwa serangan tersebut adalah buah karya Israel dan AS.

Deretan tokoh kunci negara-negara yang menjadi korban intervensi turut ditampilkan. Mulai dari Perdana Menteri Iran era dulu, Mohammed Mossadegh, hingga Presiden Bolivia, Juan Torress, dan Presiden Chile, Salvador Allende. Foto-foto mereka disandingkan dengan keterangan yang secara gamblang menuduh CIA merencanakan penggulingan. Bahkan, mendiang Martin Luther King, Jr. pun ikut terseret dalam narasi ini, dengan caption yang mengacu pada putusan pengadilan sipil tahun 1999 yang menyatakan adanya konspirasi pemerintah dalam pembunuhannya. Meskipun Departemen Kehakiman AS membuka kembali kasus tersebut pada tahun 2000, mereka mengklaim tidak menemukan bukti konspirasi. Klaim yang, tentu saja, membuat banyak orang mengerutkan dahi lebih dalam.

Bukan Pertamakali Main Politik

Video kontroversial ini ternyata hanya hadir di penampilan Weekend Two The Strokes. Pada penampilan Weekend One, sang vokalis, Julian Casablancas, sudah lebih dulu memberikan "bocoran" dengan sindiran sarkastisnya kepada penonton: "Kalian semua semangat menyambut draft? Oh, tunggu, bukan draft NFL." Sebuah sindiran halus namun jelas mengarah pada isu wajib militer atau potensi keterlibatan militer AS. Fakta bahwa sebuah band sebesar The Strokes memilih panggung sebesar Coachella untuk menayangkan materi sepadat ini menunjukkan sebuah pergeseran, di mana batas antara hiburan dan aktivisme semakin kabur, atau mungkin memang sengaja diruntuhkan.

Kisah band yang menggunakan panggung konser sebagai mimbar politik bukanlah hal baru. Tahun lalu, trio rap Kneecap membuat kehebohan saat pesan pro-Palestina yang mereka tampilkan diduga dipotong dari livestream Coachella. Ini menjadi bukti bahwa festival sebesar Coachella, yang dikenal sebagai ajang pamer tren dan musik global, juga menjadi medan pertempuran narasi, di mana setiap seniman memiliki kesempatan untuk berbicara, dan setiap penonton memiliki hak untuk mendengar—atau justru dihadapkan pada hal yang tak diinginkan oleh penyelenggara.

Tur dan Album Baru: Peluru Baru di Senjata Band

Tentu saja, The Strokes tidak hanya datang ke Coachella untuk sekadar membuat pernyataan politik. Mereka siap menggebrak panggung dunia dengan tur yang akan digelar di Amerika Utara, Eropa, dan Jepang tahun ini. Sebuah langkah strategis untuk menyebarkan energi dan karya terbaru mereka ke berbagai penjuru. Persiapan ini selaras dengan perilisan album studio pertama mereka setelah enam tahun penantian, bertajuk Reality Awaits, yang dijadwalkan rilis pada 26 Juni mendatang. Ini menegaskan bahwa The Strokes bukan hanya sekadar band nostalgia, melainkan entitas yang terus berevolusi dan siap memberikan amunisi baru bagi para penggemar setia.

Single utama dari album baru, "Going Shopping," yang dirilis minggu lalu, sudah memberikan gambaran awal tentang arah musikalitas mereka. Dengan sentuhan auto-tuned yang khas, lagu ini memicu perdebatan di kalangan pendengar: apakah ini sebuah inovasi yang segar, atau justru pergeseran dari akar suara The Strokes yang dikenal itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini—tentang evolusi suara, makna di balik lirik, dan keberanian bersuara—adalah inti dari percakapan yang ingin dibangun oleh The Strokes melalui karya-karya mereka, baik di panggung maupun di studio rekaman.

Politik dan Musik: Tarian Tanpa Akhir

Integrasi isu politik dalam pertunjukan musik, terutama di festival sebesar Coachella, bukan lagi sekadar tren sesaat. Ini adalah sebuah fenomena yang terus berkembang, mencerminkan keresahan generasi milenial dan Gen Z terhadap isu-isu global. Panggung musik, dengan jangkauannya yang masif, menjadi platform ideal untuk menyebarkan kesadaran, memicu diskusi, dan bahkan mendorong perubahan. The Strokes, dengan popularitasnya yang tak lekang oleh waktu, menggunakan platform ini dengan cara yang paling berani—mengangkat isu-isu sensitif yang jarang dibicarakan secara terbuka di panggung hiburan mainstream.

Kritik terhadap campur tangan asing bukan hanya sekadar narasi di layar, tetapi sebuah pengingat akan sejarah kelam yang terus membayangi hubungan internasional. Dengan memunculkan nama-nama pemimpin yang terdampak dan menggambarkan konsekuensi nyata dari intervensi tersebut, The Strokes tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga sebuah pelajaran sejarah yang disajikan dengan cara yang provokatif. Ini adalah bentuk aktivisme budaya di era digital, di mana setiap konten memiliki potensi untuk viral dan memicu perdebatan yang lebih luas.

Pertunjukan The Strokes di Coachella ini menjadi lebih dari sekadar konser. Ini adalah deklarasi. Sebuah pernyataan bahwa musik, dalam bentuknya yang paling murni, memiliki kekuatan untuk menginspirasi, menginformasikan, dan bahkan menantang status quo. Dengan menggunakan panggung festival musik sebagai medan pertempuran narasi, The Strokes membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekadar penjaga tradisi indie rock, tetapi juga seniman yang berani mempertanyakan dunia di sekitar mereka, mendorong para pendengarnya untuk melakukan hal yang sama.

Lebih dari Sekadar Melodi

Di balik kemasan rock and roll yang catchy, tersimpan sebuah pesan yang kuat, sebuah keberanian untuk bersuara di tengah hiruk pikuk industri hiburan yang seringkali memilih untuk bungkam. The Strokes sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah band yang tidak hanya menjual lagu, tetapi juga idealisme. Pilihan mereka untuk menyajikan materi yang begitu berat di panggung yang identik dengan pesta pora dan tren terbaru, menunjukkan sebuah keseriusan yang patut diacungi jempol. Ini adalah seni yang tidak hanya dinikmati telinga, tetapi juga merangsang pikiran, memaksa penonton untuk bertanya: What side you standing on?

Redaksi Tujuhcahaya

Media house digital independen yang mengeksplorasi jurnalisme investigatif, teknologi, kultur urban, musik, dan dinamika sosial masyarakat modern berpedoman pada standar jurnalisme berkualitas.