Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Hati-Hati Hati Kembung: Obat Kolesterol Bisa Jadi Pahlawan Hati Berlemak

Sebanyak sepertiga populasi dunia terjangkit kondisi yang namanya saja sudah bikin ngilu: penyakit hati berlemak terkait disfungsi metabolik (MASLD). Bukan sekadar tumpukan lemak biasa yang bikin buncit, ini adalah sinyal bahaya dari liver yang mulai menyerah kalah pada serangan lemak. Akibatnya? Kerusakan liver serius dan tiket VIP menuju penyakit jantung dan pembuluh darah. Siapa sangka, ‘harta karun’ tersembunyi di dalam tubuh bisa jadi musuh dalam selimut.

Nah, ternyata, jalan keluar dari neraka lemak hati ini mungkin sudah nongkrong di rak apotek terdekat. Sebuah studi dari Universitas Barcelona menguak potensi gabungan dua obat yang sudah malang melintang di dunia medis: pemafibrate dan telmisartan. Di model hewan, duet maut ini sukses mengempiskan timbunan lemak liver. Lebih keren lagi, efek gabungannya nggak cuma bikin liver sehat walafiat, tapi juga meredam risiko kardiovaskular yang biasanya datang berbarengan kayak geng motor.

Liver Makin Montok, Jantung Makin Ketar-Ketir? Tenang, Ada Jurus Lawas!

Pilihan terapi untuk MASLD memang masih sempit, bikin para ilmuwan garuk-garuk kepala. Tapi temuan ini membuka celah harapan baru: pendekatan yang lebih aman dan ampuh ketimbang eksperimen berisiko tinggi. Tim peneliti yang digawangi Marta Alegret dari Fakultas Farmasi dan Ilmu Pangan Universitas Barcelona, bersama kolaborator dari IBUB, CIBEROBN, dan Uppsala University, lagi-lagi membuktikan bahwa kecerdasan seringkali datang dari memelototi hal-hal yang sudah ada.

Mengapa membesut ulang obat lama jadi pilihan cerdas? Sederhana saja. Banyak kandidat obat baru untuk MASLD kandas di tengah jalan, kerap kali karena urusan keamanan yang bikin pasien meringis. Inilah yang mendorong para pakar untuk drug repurposing, alias memakai obat yang sudah terbukti aman untuk penyakit lain. Strategi ini jelas lebih ngebut, hemat biaya, dan pastinya lebih ramah di badan, terutama untuk stadium awal MASLD yang seringkali datang tanpa permisi.

“Fokus pada tahap awal penyakit ini penting demi mencegah progresivitas menuju stadium yang lebih parah. Kuncinya, obat yang dipakai harus punya profil keamanan yang oke di manusia,” jelas Alegret. “Makanya, kita incar obat-obatan yang sudah beredar untuk patologi lain, yang sudah terbukti sangat aman dan punya potensi manfaat untuk MASLD.”

Tim ini menguji coba obat penurun lipid (pemafibrate) dan obat penurun tekanan darah (telmisartan), keduanya punya peran dalam mengelola risiko kardiovaskular. Pemafibrate saat ini hanya beredar di Jepang, sementara telmisartan sudah jadi langganan di berbagai belahan dunia. “Angka kematian akibat masalah kardiovaskular signifikan pada pasien MASLD, dan seringkali kedua faktor risiko ini hadir bersamaan,” tambah Alegret.

Model Hewan Berteriak: Kombinasi Ajaib!

Untuk mendalami cara kerja kedua obat ini, riset dilakukan pada tikus dan larva ikan zebra. Ikan zebra jadi primadona baru untuk studi penyakit liver karena metabolisme dan fungsi hatinya mirip manusia, plus eksperimennya lebih cepat dan murah meriah. Bayangkan saja, meneliti liver manusia dalam skala mini dan waktu kilat.

Hasilnya bikin geleng-geleng kepala. Kombinasi pemafibrate dan telmisartan ampuh membalikkan keadaan tumpukan lemak liver yang dipicu oleh diet tinggi lemak dan fruktosa. Di tikus, dosis setengah dari masing-masing obat, jika dikombinasikan, ternyata sama efektifnya dengan dosis penuh dari satu obat saja. Ini adalah contoh nyata bagaimana dua kekuatan yang lebih kecil bisa bersatu padu menghasilkan efek super.

“Terapi kombinasi dengan obat yang bekerja pada jalur patogenik berbeda bisa jadi strategi yang lebih superior dibanding monoterapi, berkat efek sinergis dan potensi pengurangan toksisitas dengan penggunaan dosis yang lebih rendah untuk masing-masing obat,” tutur Alegret.

Manfaatnya nggak cuma berhenti di liver. Terapi ini juga berpotensi menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol. “Menurunkan tekanan darah dan kolesterol, yang pada akhirnya berujung pada penurunan risiko kardiovaskular,” tegasnya.

Dua Obat, Dua Cerita: Bagaimana Mereka Beraksi?

Lebih dalam lagi, studi ini membongkar bahwa kedua obat tersebut bergerak melalui jalur biologis yang berbeda. Untuk pertama kalinya, para peneliti mengungkap peran krusial protein PCK1 dalam mekanisme telmisartan yang berhasil mengurangi lemak liver. Ini seperti menemukan cheat code tersembunyi dalam permainan.

“Telmisartan memang sudah pernah digunakan pada model MASLD lain, tapi lebih sering pada stadium yang lebih lanjut, dan manfaatnya dikaitkan dengan efek anti-inflamasi dan anti-fibrotik. Padahal, di tahap awal, inflamasi atau fibrosis belum muncul, yang ada cuma akumulasi lipid,” terang sang peneliti.

Pada hewan yang mengidap MASLD, kadar PCK1 di liver lebih rendah dari normal. Pemberian telmisartan berhasil mengembalikan kadar ini, mengubah cara liver mengolah nutrisi. Ini bukan sekadar ‘memperbaiki’, tapi ‘mengatur ulang’ sistem metabolisme hati.

“Peningkatan PCK1 ini mengalihkan aliran metabolit dari sintesis lipid ke sintesis glukosa. Peningkatan produksi glukosa ini bisa jadi masalah jika glukosa diekspor dan menumpuk di darah, berpotensi menyebabkan diabetes. Namun, dalam studi ini, hal itu tidak terjadi,” ungkap profesor dari UB tersebut.

Masih Awal, Tapi Potensinya Bikin Melongo

Meski hasil riset ini sangat menjanjikan, perlu diingat bahwa ini baru tahap awal. Temuan didapat dari studi hewan, dan masih perlu banyak riset mendalam sebelum bisa diuji coba pada manusia. Ibaratnya, baru dapat blueprint, belum sampai tahap konstruksi bangunan.

“Agar bisa diaplikasikan pada pasien MASLD, studi klinis diperlukan untuk membuktikan bahwa manfaat yang terlihat pada model hewan juga terjadi pada manusia,” ujar Alegret.

Tim peneliti kini tengah menggali apakah kombinasi obat yang sama ini efektif pada stadium MASLD yang lebih parah, terutama jika sudah ada fibrosis pada liver. Selain itu, model riset baru yang mencakup penyakit liver dan kondisi kardiovaskular secara bersamaan sedang dikembangkan untuk menguji apakah manfaatnya meluas di luar organ hati.

“Selanjutnya, akan dikembangkan model ganda yang melibatkan fibrosis hati dan penyakit kardiovaskular untuk melihat apakah aksi bermanfaat tidak hanya terjadi di liver, tetapi juga dalam reduksi aterosklerosis,” pungkasnya, menyisakan ruang untuk spekulasi dan harapan akan terobosan medis berikutnya.

Previous Post

Street Fighter 6: Tifa Final Fantasy VII Merapat? Ryu Siap Gebuk Bareng!

Next Post

Bos K-Pop BTS Terjerat Skandal ‘Cuci Uang’ Rp1,5 Triliun

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *