Generasi Z, oh generasi Z… Bukannya sibuk party tiap malam minggu, malah makin banyak yang ogah nyentuh alkohol. Apakah ini pertanda kiamat bagi industri bir dan soju? Atau justru awal era baru masyarakat Indonesia yang lebih sehat dan hemat? Mari kita selami fenomena aneh tapi nyata ini.
Sebuah studi terbaru dari Flinders University, Australia, mengungkap fakta mencengangkan: Gen Z 18 kali lebih mungkin untuk abstain dari alkohol dibandingkan baby boomer. Bayangkan, 18 kali! Itu kayak peluangmu menang gacha di game online kesayangan. Penelitian ini menganalisis data selama 23 tahun dari lima generasi, dan hasilnya jelas menunjukkan pergeseran budaya minum yang signifikan.
Nggak cuma itu, Gen Z Australia juga dilaporkan mengonsumsi alkohol lebih sedikit per minggu dibanding generasi sebelumnya. Ini bukan sekadar tren sesaat, lho. Menurut Gianluca Di Censo, peneliti dari National Centre for Education and Training on Addiction (NCETA), tren ini kemungkinan besar akan bertahan seumur hidup mereka. Apakah ini berarti kita akan melihat lebih banyak anak muda nongkrong di kafe kopi daripada di bar remang-remang?
Millennial, yang sering dianggap sebagai generasi penuh drama dan kopi kekinian, ternyata juga ikut-ikutan mengurangi konsumsi alkohol. Bersama Gen Z, mereka diprediksi akan abstain lebih banyak dibanding generasi silent dan baby boomer. Apakah ini pertanda bahwa kedua generasi ini lebih memilih investasi daripada mabuk-mabukan? Kita tunggu saja.
Tentu saja, Di Censo mengingatkan bahwa segalanya bisa berubah. Perkembangan sosial atau ekonomi di masa depan bisa saja memengaruhi tren ini. Tapi untuk saat ini, sepertinya pergeseran ini akan bersifat permanen. Pertanyaannya sekarang, apa yang sebenarnya membuat anak muda zaman sekarang lebih memilih air putih daripada bir dingin?
Kenapa Anak Muda Lebih Pilih Es Teh Daripada Bir?
Studi ini nggak memberikan jawaban pasti, tapi para peneliti punya beberapa dugaan. Pertama, biaya hidup yang makin mahal. Ya, siapa yang mau buang-buang uang buat alkohol kalau cicilan motor dan biaya kosan aja udah bikin nangis? Belum lagi kuota internet buat streaming drama Korea. Prioritas anak muda sekarang jelas berbeda.
Kedua, peningkatan penggunaan perangkat digital. Dulu, anak muda nongkrong di bar sambil minum bir dan ngobrol nggak jelas. Sekarang, mereka lebih asyik main game online atau scrolling TikTok sambil minum es teh di rumah. Dunia digital menawarkan hiburan yang lebih murah dan mudah diakses.
Ketiga, meningkatnya konsumsi media yang berhubungan dengan kesehatan. Anak muda sekarang lebih sadar akan pentingnya hidup sehat. Mereka rajin olahraga, makan makanan bergizi, dan menghindari alkohol. Mungkin mereka terinspirasi oleh para influencer kesehatan di Instagram atau YouTube.
Keempat, pergeseran budaya ke arah denormalisasi konsumsi alkohol. Dulu, minum alkohol dianggap sebagai bagian dari gaya hidup anak muda. Sekarang, makin banyak anak muda yang merasa nggak perlu minum alkohol untuk bisa diterima di lingkungan sosial. Ada normalisasi abstention dan prioritas kesehatan dan kebugaran.
"Gen Z merasa bahwa mereka bisa keluar dan nggak minum, dan nggak merasa seperti orang buangan," kata Di Censo. Ini menunjukkan bahwa anak muda sekarang lebih percaya diri dan nggak mudah terpengaruh oleh tekanan teman sebaya.
Peran Media Sosial dalam Mengurangi Konsumsi Alkohol
Michael Livingston, profesor riset alkohol di Curtin University's National Drug Research Institute, menambahkan bahwa ada pola sosial yang kompleks yang memengaruhi tren ini. Salah satunya adalah perubahan fundamental dalam cara anak muda berinteraksi, mengingat mereka menghabiskan banyak waktu online.
"Anak muda sekarang lebih menghindari risiko dibanding 20 tahun lalu," kata Livingston. Ia menunjuk pada penelitian di bidang lain yang menunjukkan penurunan tindakan mencari risiko di kalangan remaja, seperti yang terkait dengan kecelakaan lalu lintas, perilaku seksual, dan kejahatan. Apakah ini berarti anak muda sekarang lebih penakut? Mungkin saja, tapi bukan berarti itu hal buruk.
Penelitian lain menemukan bahwa anak muda lebih mungkin memiliki kekhawatiran eksistensial tentang masa depan, termasuk kecemasan iklim dan masalah keuangan. Jadi, alih-alih mencari pelarian dalam alkohol, mereka lebih memilih untuk fokus pada solusi atau mencari dukungan dari komunitas online.
Meskipun penurunan konsumsi alkohol adalah kemenangan bagi kesehatan masyarakat, Livingston khawatir bahwa kesehatan mental dan kecemasan juga meningkat di kalangan anak muda. "Salah satu alasan orang minum lebih sedikit adalah karena mereka lebih khawatir, dan itu jelas bukan hasil yang baik," katanya. Ini adalah paradoks yang perlu kita perhatikan.
Implikasi Pergeseran Budaya Minum
Kirrily Thompson, rekan penulis studi dari NCETA, mengatakan bahwa selama beberapa dekade, alkohol telah tertanam dalam kehidupan sosial. Namun, itu berubah. "Anak muda Australia mendefinisikan ulang apa artinya bersosialisasi dan merayakan, dan mereka melakukannya dengan lebih sedikit alkohol," katanya. "Itu adalah sesuatu yang harus kita perhatikan, bukan hanya sebagai peneliti, tetapi sebagai masyarakat."
Konsumsi alkohol terkait dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk berbagai bentuk kanker, penyakit hati, dan penyakit jantung. Menurut perkiraan dari Organisasi Kesehatan Dunia, konsumsi alkohol berkontribusi pada sekitar 2,6 juta kematian secara global pada tahun 2019. Jadi, mengurangi konsumsi alkohol jelas merupakan hal positif bagi kesehatan masyarakat.
Apakah Tren Ini Hanya Terjadi di Australia?
Ternyata, tren serupa juga terjadi di sejumlah negara berpenghasilan tinggi lainnya, termasuk Selandia Baru, Kanada, Inggris Raya, dan negara-negara Eropa seperti Swedia. Ini menunjukkan bahwa pergeseran budaya minum adalah fenomena global, bukan hanya masalah lokal Australia.
Livingston mengatakan bahwa ini adalah pola umum di banyak negara, "dengan budaya minum historis yang serupa" dengan Australia. Jadi, sepertinya anak muda di seluruh dunia makin sadar akan bahaya alkohol dan lebih memilih gaya hidup yang lebih sehat.
Akankah Tren Ini Bertahan Lama?
Belum jelas apakah tren ini akan bertahan lama, tetapi para peneliti optimis. "Kami nggak terlalu pandai mengetahui apa yang akan terjadi dalam perubahan sosial besar di masa depan ini," kata Livingston. Tapi untuk generasi ini, orang-orang di usia 20-an sekarang, kelompok itu akan minum lebih sedikit sepanjang hidup mereka daripada kelompok sebelumnya.
Tapi apakah kita akan terus menurunkan konsumsi alkohol di kalangan remaja di masa depan adalah misteri yang harus terus kita lacak. Jadi, mari kita terus perhatikan dan dukung tren positif ini. Siapa tahu, di masa depan, bar akan berubah menjadi kafe yang menyajikan berbagai minuman sehat dan menyegarkan.
Melihat tren ini, mungkin sudah saatnya para produsen minuman beralkohol memikirkan strategi baru. Mungkin mereka bisa mulai memproduksi minuman non-alkohol yang lebih menarik dan sesuai dengan selera anak muda zaman sekarang. Atau mungkin mereka bisa fokus pada pemasaran yang lebih bertanggung jawab dan menekankan pentingnya minum dengan bijak. Apapun itu, yang jelas satu hal: budaya minum di Indonesia sedang berubah, dan kita semua adalah bagian dari perubahan itu.
