Pernah nggak sih ngerasa game Assassin’s Creed terbaru kayak maraton tanpa garis finish? Atau kayak lagi nyoba semua rasa es krim di toko, tapi ujung-ujungnya bingung sendiri? Tenang, kamu nggak sendirian. Ada alasan kenapa game-game ini jadi terasa bloated, dan itu bukan cuma soal Ubisoft yang lagi overthinking tentang jalan cerita. Mari kita kulik lebih dalam!

Game memang berevolusi, dari yang piksel-piksel imut sampai grafis yang bikin mata kedutan saking realistisnya. Assassin’s Creed dan Far Cry, dua franchise andalan, juga ikut metamorfosis. Dulu, Assassin’s Creed fokus pada aksi sembunyi-sembunyi dengan cerita yang compact. Sekarang? Jadi RPG open-world raksasa dengan quest segudang.

Perubahan ini terasa banget sejak Assassin's Creed Origins. Game-game sebelumnya terasa seperti novel pendek yang seru, sedangkan yang baru kayak serial TV yang episodenya nggak ada habisnya. Pertanyaannya, kenapa harus diubah? Apakah penggemar memang minta game yang bisa dimainin setahun penuh?

Ternyata, jawabannya nggak sesederhana itu. Mantan pengembang Ubisoft, Alex Hutchinson (yang pernah jadi game director di Assassin’s Creed 3 dan Far Cry 4), punya pandangan menarik soal ini. Dia kasih bocoran kenapa game-game ini jadi "gendut" dari waktu ke waktu.

Alasan utamanya? Duit, duh! Mungkin kedengeran klise, tapi emang itu kenyataannya. Perusahaan game juga bisnis, kan? Mereka harus cari cara biar tetap cuan, dan salah satu caranya adalah bikin pemain stay di game selama mungkin.

Hutchinson bilang, dulu Ubisoft punya tekanan internal buat bikin pemain "tetap nyimpen disc di tray". Tujuannya adalah buat nunda penjualan second-hand, karena waktu itu GameStop adalah satu-satunya yang dapet untung dari transaksi itu. Jadi, Ubisoft mikir keras gimana caranya bikin game yang bikin nagih.

Solusi yang dianggap paling jitu adalah nambahin play time. Multiplayer kurang berhasil, jadi mereka putar otak cari cara lain. "Game action-adventure itu mahal banget per jam gameplay-nya. Jadi, cara paling murah dan efektif buat nambahin durasi adalah dengan nambahin elemen RPG," kata Hutchinson.

Kenapa RPG Jadi Jurus Pamungkas?

Elemen RPG, seperti leveling, crafting, dan side quest, emang jitu buat bikin pemain betah. Bayangin aja, kamu harus ngumpulin kulit beruang buat bikin baju baru, atau nyelesaiin quest dari NPC yang curhat tentang kucingnya yang hilang. It's a time sink, but a fun one!

RPG juga kasih ilusi progress yang konstan. Setiap naik level, karaktermu jadi lebih kuat. Setiap nemu senjata baru, kamu merasa makin jago. Ini bikin pemain terus termotivasi buat main, padahal mungkin aja inti ceritanya udah mulai ngalor ngidul.

Assassin's Creed: Transformasi Genre yang Berhasil?

Hutchinson mengakui bahwa Assassin's Creed adalah salah satu franchise yang berhasil ganti genre tanpa kehilangan penggemar. It was risky, but it seems to have worked. Tapi, dia juga heran kenapa perubahan ini dilakuin di saat yang sama dengan keinginan buat rilis game tiap tahun. Hmm, smells like a paradox!

Assassin’s Creed Shadows, game terbaru, diperkirakan punya playtime sekitar 60 jam. Bandingin sama Assassin’s Creed 2 (yang banyak dibilang sebagai game terbaik di era klasiknya), yang cuma sekitar 20 jam. Jauh banget, kan?

Terjebak di Valhalla?

Bahkan ada yang masih berusaha 100% Assassin’s Creed Valhalla, dan udah nyaris 200 jam mainnya! Ini nunjukin betapa "gendutnya" game-game Assassin's Creed modern. Meskipun seru, kadang bikin kangen sama format action-adventure yang lebih ringkas.

Jadi, Apa Takeaway-nya?

Industri game itu kompleks. Ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan desain, mulai dari tekanan finansial sampai ekspektasi pemain. Meskipun kita sebagai pemain seringkali pengen game yang compact dan fokus, developer juga punya pertimbangan bisnis yang nggak bisa diabaikan. Intinya, nikmati aja gamenya, dan jangan lupa istirahat! Siapa tahu, nanti ada Assassin’s Creed yang lebih slim dan bikin ketagihan.