Lupakan segala citra astronaut melayang dengan pakaian luar angkasa yang kaku seperti kaleng kerupuk. Ternyata, 25 tahun lebih para penjelajah antariksa Amerika Serikat terpaksa mengenakan seragam "beli jadi" yang mungkin tak jauh beda dengan baju tarkam di Bumi. Namun, kini sebuah perusahaan ambisius yang bercita-cita meluncurkan stasiun luar angkasa komersial pertama di dunia, Vast, memutuskan untuk banting setir dan mengadopsi pendekatan yang jauh lebih personal untuk urusan sandang para awaknya. Bayangkan saja, kembali ke era di mana pakaian astronot bukan sekadar alat pelindung, melainkan sebuah pernyataan gaya—dan tentu saja, fungsionalitas tingkat dewa.
Dari Gudang ke Garderob Antariksa: Evolusi Seragam Astronot
Vast baru-baru ini memamerkan hasil karyanya: setelan terbang astronot. Ini bukan sembarang baju; sebuah outfit dua potong yang didesain untuk dikenakan baik di darat maupun di angkasa. Lebih heboh lagi, mereka juga telah mengantongi sertifikasi untuk jam tangan custom Swiss yang akan menemani para kosmonot di stasiun luar angkasa Haven-1 yang akan segera beroperasi. Ini bukan sekadar soal estetika; ini adalah bukti bahwa kenyamanan dan efisiensi kini menjadi raja, bahkan di lingkungan paling ekstrem sekalipun. Pergeseran paradigma ini menandai era baru dalam desain pakaian antariksa, yang semakin memanusiakan para awaknya.
Drew Feustel, sang Lead Astronaut Vast dan mantan spesialis misi NASA yang punya jam terbang 225 hari di antariksa, membeberkan alasan di balik revolusi ini. Ia mengungkapkan bahwa selama dua dekade terakhir di International Space Station (ISS), para astronaut mulai meninggalkan kebiasaan memakai flight suit setiap hari. Lingkungan di ISS diklaimnya telah menjadi jauh lebih aman, bahkan menyerupai cara kerja di Bumi. Ini bukan lagi medan perang yang membutuhkan perlindungan ekstra setiap saat, melainkan sebuah laboratorium terapung yang dinamis.
Feustel sendiri turut andil dalam perancangan Vast Astronaut Flight Suit. Dorongan utamanya adalah untuk menghormati tradisi dan sejarah penerbangan dalam perjalanan antariksa manusia, serta menghidupkan kembali esensi dari flight suit itu sendiri. Mereka tidak ingin melupakan akar sejarahnya, namun tetap berinovasi untuk kebutuhan masa depan. Sebuah keseimbangan yang menarik antara nostalgia dan progresi teknologi.
Seragam "Bekas" Menjadi Seragam "Berdaya Guna": Jejak Sejarah Pakaian Astronot
Akar mula penggunaan seragam terbang standar oleh astronaut AS dapat ditelusuri kembali ke para pilot Mercury dan sebuah foto ikonik yang menampilkan tujuh astronot berdiri gagah di depan jet F-106. Yang menarik, dalam foto tersebut, mereka mengenakan perpaduan sembarang pakaian militer dengan beragam warna dan gaya. Kala itu, efisiensi dan keseragaman tampaknya bukan prioritas utama.
Mengutip ungkapan astronot Mercury, Gordon Cooper, pada tahun 1959 saat seleksi astronaut, belum banyak upaya yang dilakukan untuk menciptakan seragam terbang standar. Foto klasik di depan F-106 itu, katanya, menunjukkan betapa mereka harus "mengais-ngais" perlengkapan terbang dari berbagai angkatan bersenjata. Seragam terbang biru gelap NASA yang kita kenal sekarang, ternyata lebih merupakan hasil dari publikasi satu foto tersebut ketimbang sebuah perencanaan matang.
Awalnya, seragam biru NASA hanya digunakan di darat dan di atas pesawat. Pesawat Mercury dan Gemini terlalu sempit untuk berganti pakaian, sehingga kru harus tetap mengenakan pakaian bertekanan mereka selama misi. Misi Apollo menjadi momen pertama di mana astronaut NASA bisa melepaskan pakaian antariksa yang tebal untuk lingkungan yang lebih mirip "shirt-sleeve" atau mengenakan kemeja dan celana. Pakaian mereka saat itu termasuk jaket dan celana yang terbuat dari serat kaca tahan api. Sebuah lompatan kenyamanan yang signifikan.
Hal serupa terjadi di Skylab, stasiun luar angkasa pertama AS. Namun, alih-alih menggunakan Beta cloth, pakaian luar kru terbuat dari polybenzimidazole (PBI). Bahan ini diklaim kurang gatal dan memiliki warna cokelat keemasan yang tahan api. Sebuah upgrade material demi kenyamanan jangka panjang. Setiap detail dipertimbangkan untuk mendukung misi yang semakin panjang.
Pesawat ulang-alik awalnya melihat kembalinya penggunaan coveralls dan setelan terbang dua potong yang dikenakan sepanjang misi. Kru bahkan bisa berganti ke celana pendek biru muda yang serasi dan menanggalkan jaket berlipat mereka, hanya menyisakan polo shirt di baliknya. Pendekatan ini ternyata terbukti terlalu santai. Setelah tragedi Challenger dan hilangnya tujuh kru pada tahun 1986, NASA kembali mengutamakan penggunaan pakaian bertekanan untuk peluncuran dan pendaratan. Keamanan menjadi faktor penentu yang tak terbantahkan.
ISS, setidaknya di sisi operasional Amerika Serikat, mengadopsi gaya akhir era Shuttle: polo atau rugby shirt dipadu dengan celana panjang. Di pesawat ulang-alik yang bersayap, celana panjang berwarna biru tua dibuat khusus untuk program tersebut dan dilapisi Velcro. Di ISS, NASA mencari solusi komersial: celana hiker dari Cabela's, yang kemudian ditambahkan Velcro. Inovasi ala kadarnya dari produk konsumen untuk menjawab kebutuhan luar angkasa yang spesifik.
Desain yang "Sangat Pas": Lebih dari Sekadar Pakaian, Sebuah Alat Kerja
Vast memutuskan untuk mundur dari solusi "beli jadi" demi mewujudkan "pendekatan desain yang berpusat pada manusia". Selama setahun ke depan, setelan ini akan terus menjalani pengujian dan penyempurnaan iteratif, termasuk validasi material untuk keamanan, daya tahan, dan kompatibilitas dengan lingkungan stasiun luar angkasa. Ini adalah proses yang berkelanjutan, bukan sekadar peluncuran produk akhir.
Vast Astronaut Flight Suit dikembangkan dengan mempertimbangkan para klien perusahaan—mulai dari segi ukuran hingga fitur-fitur canggihnya. Dapat dikenakan sebagai pakaian satu atau dua potong dengan cara menyatukan (atau memisahkan) jaket dari celana, setelan terbang ini akan dibuat khusus untuk setiap anggota kru. Selain itu, kenyamanan dan mobilitas ditingkatkan melalui ventilasi belakang dan gusset bahu. Setelan ini juga dilengkapi kantong dan pengencang Velcro, memudahkan penyimpanan dan pengambilan perkakas.
Megan McArthur, mantan astronaut NASA yang kini menjadi penasihat Vast, menekankan pentingnya fungsionalitas di luar angkasa. "Di mikrogravitasi, tangan harus bebas dan perkakas harus selalu dalam jangkauan," ujarnya. "Kru terus bergerak melalui ruang-ruang sempit dan memposisikan tubuh dengan cara yang tidak dialami di Bumi." Pengalaman langsung para astronaut menjadi kunci desain yang revolusioner.
Meskipun memiliki warna putih bersih dan desain yang seragam, setelan ini juga menyediakan ruang untuk personalisasi. Setiap kru akan memiliki patch misi mereka sendiri, serta tempat untuk lencana terbang masing-masing anggota kru—"sayap" yang akan mereka peroleh secara individual dari Vast "dengan meluncur, hidup di orbit, dan melakukan operasi misi di luar angkasa". Sentuhan personal ini penting untuk menjaga semangat dan identitas kru.
Secara terpisah dari setelan terbang, namun sejalan dengan filosofi yang sama, setiap anggota kru Vast akan mengenakan Pilot's Venturer Vertical Drive. Ini adalah jam tangan yang dirancang oleh pembuat jam mewah Swiss, IWC Schaffhausen, dan telah diuji dalam kemitraan dengan Vast. IWC merekayasa jam tangan ini untuk menghadapi tantangan penerbangan antariksa manusia, termasuk mengganti kenop dengan bezel putar yang lebih ramah sarung tangan. Vast memastikan jam tangan ini dapat menahan getaran dan perubahan tekanan, serta kompatibel dengan lingkungan di dalam stasiun Haven-1.
Bahkan, IWC Schaffhausen kini menawarkan Pilot's Venturer Vertical Drive untuk dibeli publik, terlepas dari apakah mereka akan meluncur ke luar angkasa atau tidak, dengan banderol harga $28.200. Sebuah bukti bahwa teknologi luar angkasa kini semakin merambah ke ranah konsumsi premium. Ini menunjukkan bagaimana inovasi untuk misi ekstrem dapat memiliki aplikasi di dunia sehari-hari.
"Ini adalah sesuatu yang benar-benar dapat digunakan oleh astronaut," kata Feustel, menutup pandangannya. "Ini adalah setelan terbang untuk era penerbangan antariksa komersial berawak, dan ini benar-benar baru permulaan." Sebuah pernyataan yang menjanjikan dan membangkitkan rasa ingin tahu tentang apa yang akan dihadirkan Vast selanjutnya dalam kancah penjelajahan antariksa manusia.
