Bayangkan, Anda sedang khusyuk di singgasana toilet, merenungi nasib sambil mengeluarkan uneg-uneg berbentuk padat dan cair. Eh, tiba-tiba toilet Anda berubah jadi laboratorium mini. Bukan, ini bukan adegan film horor science fiction, tapi inovasi terbaru dari Kohler: Dekoda, si pemindai feses dan urine berbasis aplikasi. Siap-siap, ritual buang air besar Anda tidak akan pernah sama lagi!
Di era serba terhubung ini, rasanya kurang afdol kalau kesehatan tidak dipantau 24/7. Mulai dari jam tangan pintar yang menghitung langkah kaki, sampai aplikasi meditasi yang mengukur tingkat stres, semuanya berlomba-lomba mengumpulkan data diri. Tapi, Kohler punya ide yang lebih out of the box: memindai "hasil karya" Anda di toilet. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar butuh teknologi sampai sedetail ini, atau ini cuma akal-akalan marketing yang kelewat batas?
Dekoda, si pemindai feses, menjanjikan analisis mendalam tentang kesehatan usus dan tingkat hidrasi Anda. Data ini kemudian disalurkan ke aplikasi khusus, memungkinkan Anda melacak perubahan dari waktu ke waktu. Kedengarannya futuristik, tapi para ahli gastroenterologi punya pendapat yang lebih bernuansa. Mereka mengakui pentingnya memantau kebiasaan buang air besar, tapi apakah perlu alat secanggih ini? Mari kita kulik lebih dalam.
Bagaimana Cara Kerja Toilet Pintar Ini?
Secara tampilan, Dekoda tidak terlihat seperti alat penyiksa dari film Saw. Bentuknya ramping dan elegan, dipasang di sisi toilet Anda. Begitu terpasang, ia akan menggunakan sensor untuk memindai dan menganalisis isi mangkuk toilet. Teknologi yang digunakan adalah spektroskopi, yang mengamati bagaimana cahaya berinteraksi dengan feses Anda. Selain itu, Dekoda juga mencatat frekuensi buang air besar, konsistensi, dan bentuknya. Urin pun tak luput dari analisis, untuk mengukur tingkat hidrasi Anda. Wah, detail banget ya?
Tapi, jangan khawatir, tidak semua "produksi" Anda akan dipindai. Untuk mengaktifkan alat ini, Anda perlu mendekatkan ponsel ke sensor di luar mangkuk toilet atau menggunakan pemindai sidik jari. Setelah itu, Dekoda akan melakukan pemindaian berkelanjutan dari awal hingga akhir "sesi" Anda. Data akan langsung dikirim ke aplikasi pendamping di ponsel Anda, yang akan membuat profil kesehatan berdasarkan data toilet Anda dari waktu ke waktu. Kohler menegaskan bahwa Dekoda menggunakan "optik diskrit" yang hanya menganalisis isi mangkuk toilet, tidak lebih.
Dekoda ditenagai oleh baterai isi ulang. Saat daya hampir habis, pengguna dapat melepas baterai dari sensor dan mencolokkannya ke kabel USB. Praktis sih, tapi tetap saja terasa aneh membayangkan mengisi daya toilet. Ini toilet atau handphone, sih?
Berapa Harganya dan Apa Saja Fiturnya?
Untuk memiliki toilet pintar ini, Anda perlu merogoh kocek cukup dalam. Perangkat kerasnya (kamera dan wadahnya) dibanderol seharga $599, atau sekitar 9 jutaan rupiah. Belum selesai, Anda juga harus berlangganan keanggotaan aplikasi Kohler Health. Biaya keanggotaannya bervariasi: $6,99 per bulan atau $70 per tahun untuk pengguna tunggal, dan $12,99 per bulan atau $130 per tahun untuk keanggotaan keluarga (hingga lima orang). Lumayan juga ya, bisa buat beli kuota internet sebulan penuh.
Aplikasi Kohler Health menganalisis berbagai hal, termasuk konsistensi dan frekuensi buang air besar, tingkat hidrasi, dan keberadaan darah dalam tinja. Semua metrik ini disajikan dalam bentuk grafik yang detail, menunjukkan bagaimana informasi ini berubah dari waktu ke waktu. Aplikasi ini juga memberikan insight, seperti berapa banyak "sesi" yang Anda lakukan dalam sehari dan rincian jenis tinja yang Anda keluarkan. Bahkan, Dekoda akan memberikan skor kesehatan usus yang dapat Anda pantau dari waktu ke waktu. Skor kesehatan usus? Ini kayak skor ujian aja.
Apa Kata Dokter Soal Toilet Canggih Ini?
Meskipun terdengar unik, para ahli gastroenterologi mengakui ada nilai dalam mengamati isi mangkuk toilet. "Ide memberikan orang akses yang lebih mudah ke data kesehatan pribadi adalah ide yang sangat baik," kata Aditya Sreenivasan, MD, seorang gastroenterologist di Northwell Lenox Hill Hospital di New York City. Tapi, ia juga menambahkan bahwa menafsirkan data dari toilet bisa sangat menantang, terutama dalam bidang-bidang kedokteran yang belum sepenuhnya dipahami, seperti mikrobioma usus.
Senada dengan Sreenivasan, Rishi Naik, MD, seorang profesor kedokteran di Vanderbilt University Medical Center, mengatakan bahwa Anda bisa mendapatkan banyak data yang disediakan Dekoda hanya dengan melihat ke dalam mangkuk toilet. "Saya bisa melihat potensi penggunaan bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan atau ketika melakukan persiapan kolonoskopi, untuk secara visual dapat melihat apakah persiapan kolonoskopi Anda berhasil," katanya. Intinya, kalau mata Anda masih berfungsi dengan baik, mungkin Anda tidak terlalu membutuhkan alat ini.
Pemindai Feses Pintar Bukan Pengganti Skrining Kanker Kolon
Dr. Naik khawatir bahwa orang mungkin salah mengartikan data yang ditawarkan oleh perangkat ini dengan skrining kanker, dan menghindari tes di masa mendatang sebagai akibatnya. "Ini tidak boleh dikacaukan dengan tes berbasis tinja untuk kanker usus besar, yang mendeteksi DNA tinja, atau tes imunokimia feses, yang mendeteksi darah tersembunyi dalam tinja yang belum terbukti dapat dideteksi oleh perangkat ini," katanya.
Jadi, Perlukah Kita Investasi pada Toilet Pintar?
Pada akhirnya, para dokter merekomendasikan untuk tetap memeriksa isi mangkuk toilet Anda secara manual. Apakah Anda membutuhkan perangkat untuk membantu Anda melakukan ini, itu adalah pertanyaan lain. "Perubahan dalam kaliber tinja, lendir, dan darah dapat memberikan petunjuk tentang pencernaan, penyerapan, dan kesehatan usus Anda secara keseluruhan," kata Dr. Naik.
Ia juga menunjuk pada diagram online seperti Bristol Stool Chart, yang dapat Anda gunakan untuk mencari perubahan dalam gerakan usus Anda sendiri dengan melihat tinja Anda dan membandingkannya dengan bagan. Informasi paling berguna dari pemindai seperti ini adalah kemampuannya untuk mendeteksi darah dalam tinja. "Ini harus memicu pertimbangan untuk kolonoskopi dalam pengaturan yang tepat," kata Dr. Sreenivasan. "Wawasan lain tentang kesehatan usus kemungkinan lebih sulit untuk ditafsirkan."
Intinya, kalau Anda melihat ada darah di tinja Anda, baik melalui perangkat atau mata telanjang, segera hubungi profesional kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut. Jangan tunda, karena kesehatan usus adalah investasi jangka panjang. Masa depan ada di tangan, eh, di dalam usus kita.
Perubahan kebiasaan buang air besar yang persisten juga harus diperhatikan. Jika Anda mengalami hal-hal seperti perubahan frekuensi buang air besar yang signifikan, sakit perut yang tidak kunjung hilang, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, segera konsultasikan dengan dokter. "Ini tidak normal dan harus dievaluasi," kata Dr. Naik.
Antara Inovasi dan Obsesi: Batasnya Tipis
Dekoda, si pemindai feses, adalah contoh nyata bagaimana teknologi terus merangsek masuk ke setiap aspek kehidupan kita, bahkan yang paling pribadi sekalipun. Di satu sisi, ini adalah inovasi yang menarik, menawarkan potensi untuk memantau kesehatan usus dengan lebih mudah dan akurat. Di sisi lain, muncul pertanyaan: seberapa jauh kita ingin menyerahkan kendali atas tubuh kita kepada teknologi? Apakah kita benar-benar membutuhkan toilet pintar untuk memberi tahu kita apa yang sudah bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri?
Mungkin, alih-alih terobsesi dengan data dan angka, kita perlu lebih mendengarkan tubuh kita sendiri. Perhatikan apa yang kita makan, bagaimana perasaan kita, dan apa yang keluar dari tubuh kita. Toh, toilet juga bisa jadi tempat merenung dan kontemplasi, bukan cuma laboratorium mini. Atau mungkin, kita memang sudah terlalu malas untuk sekadar melihat ke dalam mangkuk toilet? Ah, sudahlah, saya jadi ingin buang air besar.
