Bayangkan begini: Anda sedang asyik main game, tiba-tiba listrik mati. Panik? Pasti. Sama halnya dengan perusahaan yang mengabaikan budaya internal. Bates PanGulf Group (BPG), salah satu agensi komunikasi pemasaran terkemuka, sadar betul soal ini. Mereka baru saja menggelar acara tahunan yang ke-29 di Yas Island, Abu Dhabi, dengan tema yang cukup nyentrik: "Culture. Culture. Culture." Bukan sekadar gaya-gayaan, tapi bukti nyata bahwa budaya perusahaan itu sepenting mana dan potion dalam game.
Budaya Perusahaan: Bukan Sekadar Hiasan, tapi Bahan Bakar Roket!
Di tengah persaingan talenta yang makin sengit, disrupsi AI yang ngebut, dan perubahan perilaku konsumen yang susah ditebak, BPG memilih jalan yang berbeda. Mereka percaya bahwa teknologi itu memang penting untuk skala, tapi manusialah yang menciptakan makna. Dengan kata lain, percuma punya gadget canggih kalau nggak ada yang bisa mikir kreatif.
Avi Bhojani, Group CEO BPG Group, bilang kalau budaya sudah jadi pembeda utama BPG selama empat dekade terakhir. "Budaya memberi kami keunggulan yang nggak bisa direplikasi oleh AI," ujarnya. "Dengan budaya, kami bisa menarik orang-orang hebat yang memilih bekerja di sini dan memahami konsumen dengan cara yang algoritma lewatkan." Ibaratnya, budaya itu cheat code yang bikin BPG jadi player yang sulit dikalahkan.
Merancang Budaya: Jangan Sampai Jadi Autopilot!
Toby Hoare, Global Client Lead untuk Unilever di WPP dan BPG Board Member, memberikan pidato yang cukup menohok dengan judul "Culture: The Most Powerful Asset You Can’t See." Dia mengajak tim untuk secara sadar membentuk budaya sebagai kunci utama relevansi klien dan kesuksesan pasar. Jangan sampai budaya perusahaan berjalan ala kadarnya, seperti main game tanpa strategi.
"Setiap perusahaan punya budaya," kata Hoare. "Bedanya, apakah Anda membentuknya dengan sengaja atau membiarkannya terjadi begitu saja. Yang membedakan BPG adalah budaya kami ditunjukkan setiap hari, berlandaskan tujuan, dan dibangun melalui cerita yang menyatukan orang." Jadi, budaya perusahaan itu bukan sekadar slogan, tapi harus jadi DNA yang mengalir dalam setiap aktivitas.
Dalam panel diskusi, hadir juga nama-nama besar seperti Amer El Hajj (CEO of WPP Media MENA), Anup Ravindranath (Senior GM, Honda Motor Company MEA), Kenny Powar (Co-Founder, Rebel Owl), dan Kindah Agha (Head of Marketing Apparel, Alshaya Group Kuwait). Mereka semua sepakat bahwa pemahaman budaya sangat penting dalam membentuk strategi, koneksi merek, dan keterlibatan konsumen di wilayah yang berubah dengan cepat ini. Singkatnya, jangan sampai perusahaan nggak peka sama tren dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
Gen Z: Jangan Sampai Suara Mereka Tenggelam!
Yang menarik, ada juga panel khusus Gen Z dari kantor BPG di UAE dan Kuwait. Mereka memberikan pandangan tentang budaya dari sudut pandang profesional muda. Ini menunjukkan bahwa BPG proaktif dalam mengintegrasikan suara generasi penerus. Ibaratnya, perusahaan harus punya skill adaptasi yang tinggi, seperti karakter di game yang harus menyesuaikan diri dengan setiap level yang berbeda.
Fiona Quinn, Chief People Officer dan Interim President of BPG Arabia, menegaskan bahwa budaya adalah jantung dari segala sesuatu yang mereka lakukan di BPG. "Setiap suara penting, setiap ide berarti, dan keyakinan ini mendorong baik orang-orang kami maupun hasil klien kami," ujarnya. Jadi, jangan sampai ada diskriminasi atau pembungkaman ide, karena setiap orang punya potensi untuk memberikan kontribusi.
Kolaborasi: Kekuatan Super yang Sebenarnya!
Souheil Arabi, CEO of BPG Kuwait, menambahkan bahwa kolaborasi adalah kekuatan super mereka. "Kami memadukan beragam talenta menjadi sesuatu yang lebih kuat, menghasilkan hasil yang mendefinisikan budaya kami dan menciptakan dampak klien yang terukur," katanya. Bayangkan seperti tim esports yang solid, di mana setiap anggota punya peran penting dan saling melengkapi.
Valli Lakshmanan, President of BPG UAE & BPG X, mencatat bahwa keunggulan mereka terletak pada penyatuan kreativitas, budaya, teknologi, dan pengalaman pelanggan untuk memecahkan tantangan klien. "Acara ini memperkuat bagaimana pendekatan terpadu kami meletakkan dasar bagi gelombang pertumbuhan BPG berikutnya," ujarnya. Artinya, perusahaan harus punya visi yang jelas dan mampu mengintegrasikan berbagai elemen untuk mencapai tujuan bersama.
Workshop: Mengubah Budaya Jadi Aksi Nyata
Acara ini juga menampilkan workshop imersif di mana pendekatan digital-first BPG menggabungkan kecerdasan budaya, kreativitas, dan teknologi yang didukung oleh platform berbasis AI WPP Open untuk memecahkan tantangan klien nyata. Tim bekerja sama untuk menghubungkan pemahaman budaya secara langsung dengan pendekatan kreatif dan tujuan bisnis yang terukur. BPG leaders dan profesor terkemuka dari Indian Institute of Management Ahmedabad (IIMA) mengevaluasi presentasi, menyoroti bahwa orang dan budaya adalah kunci untuk memecahkan masalah bisnis.
Prof. Aditya Moses, Professor of HR dan Head of the One-Year MBA Programme at IIMA Dubai, mengatakan bahwa setiap masalah bisnis kembali ke orang, proses, dan budaya. "Sangat menggembirakan melihat tim BPG menempatkan tujuan dan kolaborasi di pusat pemecahan brief klien," katanya. Ini menunjukkan bahwa perusahaan harus punya fokus yang jelas dan mampu membangun tim yang solid untuk mencapai tujuan bersama.
Prof. Sourav Borah, Associate Professor of Marketing at IIMA, menambahkan bahwa dengan menghubungkan budaya dengan kreativitas dan kinerja, BPG menunjukkan bagaimana kolaborasi dan kecerdasan budaya dapat membuka solusi yang siap untuk masa depan. Jadi, jangan sampai perusahaan terjebak dalam zona nyaman dan harus terus berinovasi untuk menghadapi tantangan yang ada.
Merayakan Talenta: Apresiasi Itu Penting!
Acara ini ditutup dengan BPG Awards tahunan, yang mengakui kreativitas, kolaborasi, dan dampak yang luar biasa. Seiring BPG menandai 45 tahun, acara ini menegaskan kembali fokus strategisnya: agensi terpadu digital-first yang memanfaatkan warisan yang kaya dan semangat inovatif untuk memberikan hasil yang bermakna. Ini adalah bukti bahwa BPG menghargai setiap kontribusi dan terus berupaya untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Intinya, budaya perusahaan itu bukan sekadar tempelan, tapi fondasi yang menentukan kesuksesan jangka panjang. Kalau perusahaan Anda masih menganggap budaya sebagai hal yang sepele, siap-siap saja untuk game over. Jadi, mari kita bangun budaya perusahaan yang positif, inklusif, dan mampu mendorong inovasi. Siapa tahu, dengan budaya yang kuat, perusahaan Anda bisa jadi top player di industri!
