Baik, berikut adalah artikel yang dihasilkan sesuai dengan permintaan Anda:
Bayangkan kamu lagi asyik main game, tiba-tiba listrik mati. Gelap gulita, progress nggak kesimpan, dan yang paling parah…baterai smartphone tinggal 5%. Panik? Sama! Kira-kira begitulah gambaran dunia pariwisata kita tanpa sentuhan budaya lokal. Hambar, nggak ada gregetnya, dan bikin turis mikir dua kali buat balik lagi. Tapi tenang, ada secercah harapan bernama Festival Kebudayaan Dunia di Hanoi. Katanya sih, mau jadi game-changer buat pariwisata Vietnam. Mari kita intip, apakah festival ini beneran bisa jadi power-up atau cuma sekadar skin baru?
Festival Kebudayaan Dunia: Misi Penyelamatan Pariwisata Vietnam?
Festival Kebudayaan Dunia yang akan digelar di Hanoi pada 10-12 Oktober mendatang bukan sekadar hajatan biasa. Ini adalah upaya untuk mengangkat kembali kekayaan budaya Vietnam, sekaligus menegaskan peran pentingnya dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan PBB. Singkatnya, ini adalah side quest penting dalam game pariwisata Vietnam.
Sampai awal Oktober, sudah ada 48 kedutaan besar, organisasi internasional, dan pusat kebudayaan asing yang mendaftar untuk berpartisipasi. Bayangkan: 45 ruang budaya nasional, 33 gerai makanan, 16 kelompok seni dalam dan luar negeri, 12 unit pameran buku, dan 20 negara yang mengirimkan film untuk diputar. Ini seperti multiplayer event yang mengumpulkan berbagai player dari seluruh dunia.
Menurut Le Hai Binh, Wakil Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, acara ini adalah inisiatif penting untuk menghormati nilai-nilai budaya, menghubungkan negara-negara dan kelompok etnis di tengah tantangan global seperti konflik, pandemi, dan perubahan iklim. "Nilai-nilai budaya berpadu tanpa kehilangan identitas masing-masing bangsa, tetapi juga berkontribusi untuk menumbuhkan semangat solidaritas, dan secara kolektif berkontribusi pada pembangunan global," kata Binh. Kedengarannya klise? Mungkin. Tapi mari kita lihat lebih dalam.
Selama ini, Vietnam sudah punya sekitar 40.000 situs bersejarah yang terinventarisasi. Dari jumlah itu, sekitar 10.000 situs berada di tingkat provinsi dan kota, lebih dari 3.460 situs di tingkat nasional, 107 situs nasional khusus, dan 164 harta nasional. Selain itu, ada delapan warisan yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya dan Alam Dunia, dan 14 warisan yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan. Banyak juga warisan budaya yang telah menjadi produk budaya dan pariwisata yang komprehensif, menjadi daya dorong dan target untuk pengembangan ekonomi pariwisata utama.
Beberapa daerah di Vietnam telah berhasil mengembangkan produk wisata budaya yang unik, menjadi daya tarik bagi wisatawan internasional. Di Hue, misalnya, sistem warisan kekaisaran beserta musik istana telah diakui oleh UNESCO, dikombinasikan dengan pengalaman mengenakan ao dai dan menikmati masakan kekaisaran untuk menciptakan ciri khas yang berbeda. Ini seperti memberikan skin eksklusif pada karakter turis.
Antara Potensi dan Realita: Masih Banyak PR untuk Pariwisata Budaya Vietnam
Hoi An, dengan kota kuno, Jembatan Jepang, dan festival lampion di Sungai Hoai, telah lama menjadi simbol bagi wisatawan. Di Dataran Tinggi Tengah, ruang budaya gong dan festival tradisional kelompok etnis asli telah menjadi produk budaya yang menarik. Sementara itu, Delta Mekong menonjol dengan pasar terapung Cai Rang, musik tradisional, dan ekowisata kebun. Setiap daerah punya skill tree unik yang bisa di-upgrade.
Pada tahun 2024, Departemen Pariwisata Hanoi mengumumkan 15 produk wisata malam, yang sebagian besar didasarkan pada kekuatan budaya dan warisan. Di antara produk-produk ini, yang menonjol termasuk tur malam Penjara Hoa Lo, tur eksplorasi Imperial Citadel, pengalaman menginap di Kuil Literatur, dan pertunjukan cahaya di Danau Hoan Kiem. Tapi, apakah ini sudah cukup?
Sayangnya, para ahli menilai bahwa produk wisata budaya dengan identitas lokal, yang mampu memposisikan merek destinasi di Vietnam, belum cukup beragam. Menurut Dr. Nguyen Anh Tuan, Direktur Institut Penelitian Pengembangan Pariwisata, produk wisata budaya di Vietnam masih kurang dalam kreativitas, dan ada kekurangan produk khas antar daerah dan wilayah. Ini seperti semua karakter punya skill yang sama, nggak ada yang spesial.
"Banyak sumber daya wisata budaya yang berharga belum diinvestasikan dan dieksploitasi sesuai dengan potensinya. Banyak situs warisan budaya belum dikembangkan menjadi produk wisata," kata Tuan. "Pengembangan wisata budaya kurang memiliki koherensi dan keterkaitan dalam pengembangan produk, serta kolaborasi antar daerah dalam eksploitasi sumber daya budaya, sehingga gagal menciptakan produk wisata berkualitas berkelanjutan." Intinya, masih banyak bug yang perlu diperbaiki.
Saatnya Vietnam "Level Up" dalam Pariwisata Budaya
Arahan yang baru saja dikeluarkan lebih dari setahun lalu mengenai pengembangan industri budaya Vietnam menekankan pentingnya mempercepat eksploitasi pencapaian teknis bersama dengan keterampilan bisnis, kreativitas, modal budaya, dan hak kekayaan intelektual untuk menciptakan produk dan layanan budaya dan ekonomi yang berharga. Vietnam berjuang agar sektor pariwisata budaya menyumbang 15-20 persen dari total pendapatan $40 miliar dari pariwisata pada tahun 2030.
Vu The Binh, ketua Asosiasi Pariwisata Vietnam, menyatakan bahwa tujuan industri budaya adalah untuk menemukan pasar bagi produk, dan pariwisata akan berkontribusi pada konsumsi produk industri budaya. "Pariwisata perlu berkolaborasi dengan hiburan, perangkat lunak, dan teknologi untuk menciptakan produk yang menarik bagi wisatawan modern, terutama wisatawan muda, dengan fokus khusus pada pemanfaatan elemen fesyen dan kuliner untuk menciptakan produk lokal yang dinamis," kata Binh. Ini seperti menggabungkan berbagai elemen game untuk menciptakan pengalaman yang lebih seru.
Produk industri budaya telah dieksploitasi dan dikembangkan oleh banyak negara di seluruh dunia untuk menciptakan keunggulan kompetitif, memposisikan merek nasional, dan menarik wisatawan secara kuat. Dengan penyebaran K-pop yang kuat dalam skala internasional, Korea Selatan telah mengembangkan banyak tur penemuan budaya yang unik, menarik minat sejumlah besar wisatawan. Singapura juga sangat berhasil dalam strateginya untuk memposisikan diri sebagai tujuan budaya dan seni terkemuka di kawasan ini. Ini seperti negara-negara lain sudah punya cheat code-nya.
Demikian pula, industri pariwisata di Jepang juga mencatat peningkatan pengunjung dari eksploitasi produk dalam ekosistem artistik seperti menulis dan menerbitkan komik, dan membuat suvenir dari karya budaya dengan pendapatan rata-rata sekitar $2 miliar. Dan di Hong Kong, 85 persen pendapatan nasional berasal dari layanan hiburan, televisi, dan pendapatan iklan. Vietnam, kapan mau nyusul?
Pariwisata Budaya: Bukan Sekadar Jualan Warisan, Tapi Investasi Masa Depan
Jadi, apakah Festival Kebudayaan Dunia di Hanoi bisa jadi game-changer? Mungkin saja. Tapi yang jelas, ini adalah langkah awal yang penting. Vietnam perlu lebih berani berinovasi, menggabungkan warisan budaya dengan sentuhan modern, dan menciptakan pengalaman yang nggak cuma bikin turis kagum, tapi juga ketagihan. Jangan cuma jadi NPC yang ngasih quest basi, tapi jadilah player yang ikut meramaikan dunia pariwisata global. Kalau nggak, ya siap-siap aja jadi penonton setia negara lain yang makin jagoan.
