Kentut memang nggak enak, tapi lebih nggak enak lagi kalau bisnis bangkrut gara-gara pajak. Bayangin, lagi asik ngopi di kedai favorit, eh, tiba-tiba tutup karena nggak kuat bayar. Nggak lucu, kan?
Pub Inggris di Ujung Tanduk: Pajak Bikin Boncos!
Phil Thorley, pemilik jaringan pub kecil di Inggris Tenggara, lagi pusing tujuh keliling. Gara-gara perubahan anggaran, biaya operasionalnya naik 62.000 poundsterling per tahun! Padahal, Rachel Reeves janjiin pajak rendah buat bisnis ritel, hiburan, dan perhotelan. Hmm, kok bisa?
Reeves awalnya mau naikin pajak buat gudang-gudang gede kayak Amazon, biar pub, restoran, dan toko kecil bisa napas lega. Tapi, kenyataannya, bisnis kayak Thorley Taverns malah kena getahnya. Pemerintah sih bilang udah ngasih keringanan 4.800 poundsterling per tahun buat pub independen. Tapi, ya gitu deh, kayak ngasih permen ke anak kecil yang lagi sakit gigi. Nggak ngaruh!
Rateable value, alias perkiraan biaya sewa properti bisnis selama setahun, jadi patokan buat ngitung pajak. Pemerintah bilang bakal ngitung pajak buat 750.000 bisnis di High Street (semacam jalan utama) dengan persentase yang lebih rendah. Tapi, ya namanya juga janji politikus, nggak semanis ekspektasi.
Belum lagi, banyak bisnis yang rateable value-nya malah naik. Ditambah lagi, diskon 40% era Covid-19 bakal dihapus mulai April. Alhasil, meski ada transitional relief (semacam penyesuaian bertahap), banyak yang bakal ngalamin kenaikan pajak yang lumayan bikin dompet menjerit.
Rumus Pajak: Bikin Pusing Kepala Barista Sampai Pemilik Warung Kopi
Transitional relief itu kayak main ular tangga. Naik turun nggak jelas. Buat properti di luar London dengan rateable value 20.000-100.000 poundsterling, kenaikan pajaknya dibatasi 15% di 2026-27, 25% di 2027-28, dan 40% di 2028-29 (plus inflasi). UK Hospitality memperkirakan, rata-rata pub bakal bayar 12.900 poundsterling lebih mahal selama tiga tahun itu. Hotel? Lebih parah, 205.200 poundsterling!
Jeritan Para Pengusaha: "Ini Mah Pembunuhan Berencana Buat Bisnis!"
Mr. Thorley curhat di BBC Radio 4's Today programme, bilang rateable value di sebagian besar tempatnya "melonjak". "Tambahan biaya 62.000 poundsterling ke bisnis ini, yang saat ini benar-benar lagi sekarat," keluhnya. Dia bilang, industri ini udah tertekan banget sejak anggaran sebelumnya yang bikin biaya perekrutan naik gara-gara kenaikan kontribusi asuransi nasional pemberi kerja dan upah minimum.
Thorley juga khawatir kenaikan upah minimum bakal bikin "pengurangan pekerjaan, pengurangan investasi, pengurangan pelatihan untuk orang-orang yang kami miliki, dan lebih sedikit pekerjaan untuk kaum muda". Dia bahkan sampai bilang anggaran ini bakal jadi "lonceng kematian bagi pub Inggris". Dramatis abis!
Pemerintah sih ngeklaim udah ngelindungin pub, restoran, dan kafe dengan paket dukungan 4,3 miliar poundsterling, yang katanya bisa batasin tagihan pajak bisnis. Juru bicara Treasury juga bilang: "Ini di atas pemotongan biaya perizinan untuk membantu lebih banyak menawarkan minuman di trotoar dan makan di luar ruangan, mempertahankan pemotongan kami untuk bea alkohol pada bir draf dan membatasi pajak perusahaan."
"Smoke and Mirrors": Trik Sulap Anggaran yang Bikin Pedagang Bingung
Elaine Wrigley, pemilik Atlas Bar di Manchester, nyebut anggaran Reeves kali ini cuma "smoke and mirrors" alias trik sulap. Dia cerita, rateable value barnya melonjak dari 69.000 poundsterling di 2023 jadi 97.000 poundsterling. Dan meski ada multiplier yang lebih rendah buat bisnis ritel, hiburan, dan perhotelan kecil, dia tetep aja ngadepin kenaikan pajak 15%.
"Dia mungkin aja bilang ini tarif terendah dan dukungan terbaik, tapi itu dari basis tertinggi," kata Wrigley. "Kami udah naikin harga empat kali dalam 12 bulan terakhir, tapi kami udah sampai di titik di mana kami ngerasa nggak bisa naikin harga lagi ke pelanggan kami, jadi akibatnya margin kami berkurang dan diperas, yang nggak membantu sama sekali."
"Stealth Tax": Pajak Siluman yang Mengintai di Balik Layar
Sacha Lord, ketua Night Time Industries Association (NTIA), bilang perubahan pajak bisnis ini sama aja kayak "stealth tax" alias pajak siluman buat pub, restoran, dan bar di High Street. Dia bilang, awalnya para pengusaha nyambut baik anggaran ini, tapi dampak revaluasi baru keliatan beberapa jam setelah pernyataan kanselir.
"Begitu ini berlaku di bulan April, kami berharap bakal ngeliat lebih banyak penutupan dari sebelumnya, termasuk selama pandemi," Lord memperingatkan. Waduh, serem!
Politik Ikut Campur: Tuduh-Menuduh di Gedung Parlemen
Kaum Konservatif nyebut perubahan pajak bisnis kanselir sebagai "bom waktu" dan memperingatkan banyak pub, restoran, dan toko bakal ngeliat tagihan mereka "naik, banyak". Shadow business secretary alias Menteri Bayangan Urusan Bisnis, Andrew Griffith, bilang pemerintah sebelumnya udah konsultasi tentang diskon yang jauh lebih besar buat pajak bisnis, tapi malah "nggak berani ngambil risiko".
"Hasilnya bakal lebih banyak penutupan, lebih sedikit pekerjaan, dan pertumbuhan yang lebih rendah," katanya. Dia minta Reeves buat segera mengubah arah, nambahin kalo "bisnis butuh kepastian sebelum mereka ngadepin tagihan ini di bulan April".
Partai Liberal Demokrat juga ikutan nyaut, bilang Reeves harus "ngasih sektor perhotelan kita tali penyelamat". Juru bicara Treasury, Daisy Cooper, nambahin: "Pub, kafe, dan restoran kita udah berlutut, dan pilihan ini cuma bakal maksa lebih banyak bisnis di jalanan buat tutup." Dia minta kanselir buat motong tarif PPN buat sektor ini.
Jadi, Gimana Nasib Warung Kopi Kita?
Intinya, perubahan anggaran ini kayak pedang bermata dua. Di satu sisi, pemerintah pengen ngasih keringanan buat bisnis kecil. Di sisi lain, kenyataannya malah bikin banyak pengusaha pusing. Kalo gini terus, bukan nggak mungkin warung kopi langganan kita ikutan tutup. Kan sedih!
