Katanya sih, membaca adalah jendela dunia. Tapi, kalau jendelanya ditutup paksa, bahkan dicopot dari engselnya, gimana caranya kita mau lihat dunia? Ibaratnya, kita udah siapin kacamata 3D buat nonton film dokumenter tentang budaya Amerika Latin, eh, listrik malah jeglek. Lebih parah dari lupa matiin kompor pas lagi ranked di Mobile Legends, kan?
Ironisnya, di tengah perayaan Bulan Warisan Hispanik, banyak buku yang justru dilarang beredar di sekolah-sekolah. Jumlahnya nggak main-main, hampir 23.000 judul sejak 2021! Dari Florida sampai Utah, buku-buku tentang budaya, sejarah, dan pengalaman hidup orang Hispanik-Amerika satu per satu menghilang dari rak perpustakaan. Padahal, buku-buku ini bisa jadi portal buat memahami keberagaman dan memperluas wawasan.
Buku-buku yang jadi korban "cancel culture" ini beragam banget. Ada biografi tokoh-tokoh legendaris seperti Celia Cruz, Frida Kahlo, dan Cesar Chavez. Ada juga buku anak-anak bilingual yang mengadaptasi lagu "The Wheels on the Bus" ke dalam bahasa Spanyol dan Inggris. Bahkan, novel karya peraih Nobel, Gabriel Garcia Marquez, pun ikut kena getahnya. Nggak ketinggalan, buku ¡Solo pregunta!: Sé Diferente, Sé Valiente, Sé Tú karya Hakim Agung Sonia Sotomayor yang mengajarkan tentang keunikan setiap individu juga ikut dilarang. Lah, ini mah sama aja kayak nge-banned hero support di ranked, padahal lagi butuh banget!
Ironi Bulan Warisan Hispanik: Ketika Buku Justru Dibungkam
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa buku-buku ini dianggap berbahaya? Apakah ada konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan Illuminati dan reptilian? Atau, jangan-jangan, ada oknum yang iri karena nggak bisa bikin novel sekeren Cien Años de Soledad? Tentunya, semua ini perlu diinvestigasi lebih lanjut. Tapi yang jelas, pelarangan buku adalah bentuk pembungkaman yang nggak bisa dibenarkan. Ibaratnya, kita lagi asyik dengerin *podcast* favorit, eh, tiba-tiba di-suspend tanpa alasan yang jelas.
Menurut data dari PEN America, sekitar 36% buku yang dilarang pada tahun ajaran 2023-2024 menampilkan karakter atau orang kulit berwarna. Ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk menghapus representasi kelompok minoritas dari kurikulum pendidikan. Padahal, keberagaman adalah salah satu kekayaan terbesar yang kita miliki. Bayangin aja, kalau semua game cuma punya satu karakter, pasti bosenin banget, kan?
Pelarangan buku ini bukan cuma soal menghilangkan akses terhadap informasi. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk menghapus sejarah dan pengalaman kelompok tertentu. Ini sama aja kayak nge-nerf hero yang lagi *overpowered*, tapi alasannya nggak jelas dan nggak adil. Akibatnya, anak-anak jadi kehilangan kesempatan untuk belajar tentang dunia di sekitar mereka dan mengembangkan empati terhadap orang lain.
Daftar Buku yang Terancam Punah (di Rak Sekolah)
Berikut ini adalah sebagian kecil dari buku-buku yang masuk dalam daftar larangan PEN America sejak 2021 hingga 2025. Judul-judul ini menawarkan berbagai perspektif tentang pengalaman Hispanik, mulai dari sejarah hingga fiksi kontemporer.
- An African American and Latinx History of the United States oleh Paul Ortiz
- Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe oleh Benjamin Sáenz
- The Brief Wondrous Life of Oscar Wao oleh Junot Díaz
- Clap When You Land oleh Elizabeth Acevedo
- Each of Us a Desert oleh Mark Oshiro
- The Education of Margot Sanchez oleh Lilliam Rivera
- Gabi, a Girl in Pieces oleh Isabel Quintero
- The House of the Spirits oleh Isabel Allende
- The House on Mango Street oleh Sandra Cisneros
- I Am Not Your Perfect Mexican Daughter oleh Erika L. Sánchez
- The Insiders oleh Mark Oshiro
- Juliet Takes a Breath oleh Gabby Rivera
- The Last Cuentista oleh Donna Barba Higuera
- The Lesbiana’s Guide to Catholic School oleh Sonora Reyes
- Mexican Whiteboy oleh Matt de la Peña
- The Moon Within oleh Aida Salazar
- More Happy than Not oleh Adam Silvera
- Out of Darkness oleh Ashley Hope Perez
- Pedro and Daniel oleh Federico Erebia
- The Princess and the Warrior: A Tale of Two Volcanoes oleh Duncan Tonatiuh
- The Undocumented Americans oleh Karla Cornejo Vallavicenco
- We Are Not From Here oleh Jenny Torres Sanchez
- When I was Puerto Rican: A Memoir oleh Esmerelda Santiago
- Wild Tongues Can’t Be Tamed: 15 Voices from the Latinx Diaspora Edited by Saraciea J. Fennel
- Yaqui Delgado Wants to Kick Your Ass oleh Meg Medina
Daftar ini hanyalah sebagian kecil dari gunung es. Masih banyak lagi buku-buku berkualitas yang terancam hilang dari peredaran. Padahal, buku-buku ini bisa jadi sumber inspirasi, pengetahuan, dan pemahaman bagi generasi muda. Ibaratnya, kita lagi nyari *cheat code* buat kehidupan, eh, malah dihapus dari internet.
Kenapa Buku Bisa Lebih Berbahaya dari Akun Haters?
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa sih buku bisa dianggap berbahaya? Bukannya buku itu cuma kumpulan kertas yang dijilid? Jawabannya, tentu saja tidak sesederhana itu. Buku adalah senjata yang ampuh untuk menyebarkan ide, mengubah pandangan, dan menginspirasi tindakan. Itu sebabnya, rezim otoriter selalu berusaha mengontrol akses terhadap informasi.
Pelarangan buku adalah bentuk sensor yang bertujuan untuk mempertahankan status quo dan membungkam suara-suara yang dianggap mengancam. Ini sama aja kayak nge-mute akun *haters* di media sosial, tapi dalam skala yang lebih besar dan sistematis. Akibatnya, diskusi publik jadi terbatas dan keberagaman perspektif jadi terancam.
Melawan Pembungkaman: Membaca adalah Perlawanan
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk melawan pembungkaman ini? Tentu saja, kita nggak bisa tinggal diam. Kita harus berani bersuara dan memperjuangkan hak untuk mengakses informasi. Salah satu caranya adalah dengan membaca buku-buku yang dilarang dan membagikan pengetahuan yang kita dapatkan kepada orang lain. Ini sama aja kayak nge-*share* meme yang *relate* banget sama kehidupan kita, tapi dengan dampak yang lebih besar.
Selain itu, kita juga bisa mendukung penulis dan penerbit yang berani menerbitkan buku-buku yang kontroversial. Kita bisa membeli buku mereka, memberikan ulasan positif, dan merekomendasikannya kepada teman-teman kita. Dengan begitu, kita bisa membantu mereka untuk terus berkarya dan menyuarakan kebenaran. Ibaratnya, kita lagi nge-*boost* akun *streamer* favorit kita, biar makin semangat bikin konten.
Membaca adalah perlawanan. Dengan membaca, kita bisa memperluas wawasan, mempertajam pikiran, dan memperkuat empati. Dengan membaca, kita bisa melawan ketidaktahuan, prasangka, dan diskriminasi. Dengan membaca, kita bisa membangun dunia yang lebih adil, inklusif, dan beradab. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, baca buku! Jangan sampai kita jadi generasi yang buta huruf karena ketakutan yang nggak beralasan.
Jadi, di Bulan Warisan Hispanik ini, mari kita rayakan keberagaman dengan membaca buku-buku yang dilarang. Siapa tahu, kita bisa menemukan *easter egg* yang tersembunyi di dalamnya. Atau, mungkin, kita bisa menemukan *plot twist* yang mengubah hidup kita selamanya.
