Kabar buruk untuk para Bully-wan dan Bully-wati di seluruh dunia! Mimpi kita melihat Jimmy Hopkins bikin onar lagi di Bullworth Academy sepertinya harus dikubur dalam-dalam. Kecuali, kalau ada keajaiban kayak petir di siang bolong, atau tiba-tiba Rockstar sadar kalau uang itu nggak haram.

Dalam wawancara yang digelar di Los Angeles Comic Con 2025, Dan Houser, salah satu pendiri Rockstar Games, memberikan pernyataan yang bikin hati para penggemar Bully hancur berkeping-keping. Katanya, sekuel Bully nggak pernah terwujud karena masalah klasik: keterbatasan sumber daya. Padahal, kita semua tahu, potensi game ini buat bikin nostalgia masa sekolah yang absurd itu gede banget!

Jadi, kenapa Bully 2 cuma jadi wacana yang lebih sering dibahas daripada skripsi? Mari kita bedah kasus ini ala detektif Mojok, dengan sedikit bumbu teori konspirasi dan tentunya, humor receh yang bikin hidup lebih berwarna.

Rockstar: Antara Ambisi dan Realita yang Pahit

Mari kita kembali ke tahun 2006, saat Bully pertama kali dirilis. Game ini langsung jadi buah bibir karena konsepnya yang unik: simulasi kehidupan sekolah dengan sentuhan satir yang pedas. Kita diajak jadi Jimmy Hopkins, siswa pemberontak yang berusaha bertahan hidup di lingkungan sekolah yang penuh intrik dan kekerasan (tapi versi kocak).

Bully sukses besar, baik secara komersial maupun kritikal. Tapi, kenapa Rockstar nggak langsung gercep bikin sekuelnya? Apakah mereka takut sama demo siswa yang pengin jam sekolah dikurangin? Atau jangan-jangan, mereka lebih tertarik bikin game tentang rampok mobil dan koboi yang suka minum wiski?

Menurut Houser, masalahnya simpel: "Bandwidth issues." Istilah keren ini sebenarnya cuma kode buat "Kita punya terlalu banyak proyek, dan Bully bukan prioritas." Ibaratnya, Rockstar itu warung makan yang punya menu seabrek, tapi cuma punya satu kompor. Jadi, yang dimasak duluan ya yang paling laku, kayak nasi goreng atau mie instan.

Ketika GTA dan Red Dead Lebih Seksi dari Bully

Kita semua tahu, Rockstar itu raja dari game open-world. Kesuksesan Grand Theft Auto dan Red Dead Redemption udah bikin mereka ketagihan bikin game dengan skala yang lebih besar dan lebih ambisius. Maklum, kalau udah ngerasain duit banyak, siapa yang nggak pengin nambah?

GTA dan Red Dead itu kayak anak emas di keluarga Rockstar. Mereka dapat semua perhatian, semua sumber daya, dan semua cinta (dari para gamer yang rela begadang demi mainin game mereka). Sementara Bully? Dia cuma anak tiri yang disuruh nyapu halaman dan nggak boleh ikut makan malam.

Houser sendiri mengakui bahwa Rockstar selalu berada di bawah tekanan untuk melampaui ekspektasi. Maklum, kalau udah bikin game yang laku keras, semua orang berharap yang berikutnya harus lebih bagus lagi. Jadi, risiko bikin sekuel Bully yang mungkin nggak selaris GTA atau Red Dead terlalu besar buat mereka.

Absurd Ventures: Pelarian Dan Houser dari Dunia Rockstar

Setelah cabut dari Rockstar pada tahun 2020, Houser mendirikan studio game baru bernama Absurd Ventures. Di sini, dia mencoba pendekatan yang lebih kecil dan lebih fokus. Mereka cuma mengerjakan dua proyek sekaligus, yaitu novel grafis dan novel yang diadaptasi dari podcast.

Houser bilang, dia belajar dari pengalamannya di Rockstar. Dia sadar bahwa terlalu banyak proyek dengan sumber daya yang terbatas itu bikin pusing. Jadi, di Absurd Ventures, mereka berusaha menjaga agar semuanya tetap terkendali dan nggak bikin karyawan stres. Mungkin ini semacam terapi buat Houser setelah bertahun-tahun bergelut dengan dunia triple-A game development yang keras.

Sementara itu, di Rockstar, mereka lagi sibuk-sibuknya garap Grand Theft Auto VI, yang digadang-gadang bakal jadi game terbesar dalam sejarah. Rumornya, biaya produksinya aja udah kayak bikin film Hollywood. Tapi sayangnya, Houser nggak terlibat dalam proyek ini. Dia udah move on dan pengin bikin cerita baru yang beda dari GTA.

GTA VI: Akhir dari Era Houser, Awal dari Era Baru?

Meskipun nggak terlibat dalam pengembangan GTA VI, Houser tetap optimis dengan kesuksesan game tersebut. Dia bilang, dunia mungkin udah cukup dengan cerita GTA yang dia bikin. Sekarang, saatnya orang lain yang bikin cerita baru dengan karakter dan dunia yang berbeda.

Tapi, apakah ini berarti kita nggak akan pernah lihat Bully 2? Jangan putus asa dulu! Siapa tahu, suatu hari nanti, Rockstar sadar bahwa potensi Bully itu masih gede banget. Atau mungkin, ada studio game lain yang berani bikin game serupa dengan sentuhan yang lebih segar dan lebih modern.

Bully: Antara Nostalgia dan Mimpi yang (Mungkin) Takkan Pernah Jadi Kenyataan

Bully itu lebih dari sekadar game. Dia adalah simbol dari masa sekolah yang absurd, penuh dengan kenakalan, persahabatan, dan cinta monyet. Dia adalah pengingat bahwa hidup itu nggak selalu serius, dan kadang-kadang, kita perlu bikin onar biar nggak bosen.

Meskipun kecil kemungkinan kita bisa lihat Jimmy Hopkins bikin ulah lagi di Bullworth Academy, kenangan tentang Bully akan selalu hidup di hati para gamer. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, mimpi kita tentang Bully 2 bisa jadi kenyataan. Tapi, jangan terlalu berharap ya. Nanti sakit kalau kecewa.