Bayangkan ini: tahun 2046. Anda, yang dulunya adalah anak muda penuh semangat, kini duduk di kursi goyang, ditemani cucu yang sedang asyik dengan VR set-nya. Tiba-tiba, cucu Anda berseru, "Kakek/Nenek, pernah denger Elvis Presley?" Anda tersenyum, lalu berkata, "Oh, Elvis? Dulu kakek/nenekmu ini..." Lalu, layar bioskop IMAX hadir menyelamatkan Anda dari kebingungan.

Elvis Tidak Pernah Benar-Benar Meninggalkan Gedung

Bagi para penggemar teori konspirasi dan mereka yang percaya Elvis masih hidup di suatu tempat, bersiaplah. Baz Luhrmann, dalang di balik film Elvis (2022) yang penuh warna dan kontroversi, kembali menghadirkan sang Raja Rock and Roll ke layar lebar. Kali ini, bukan dalam bentuk biopik fiksi, melainkan konser dokumenter epik berjudul EPiC: Elvis Presley In Concert.

Trailer yang baru dirilis mengklaim bahwa selama produksi film Elvis, Luhrmann menemukan rekaman lama yang hilang dari konser legendaris Presley di Las Vegas, yang berlangsung dari tahun 1969 hingga dekade berikutnya. Hasilnya? Sebuah film konser dokumenter yang menjanjikan pengalaman imersif, lengkap dengan materi yang belum pernah dilihat sebelumnya dan outtake dari dokumenter Elvis: That’s the Way It Is dan Elvis On Tour.

“Selama pembuatan Elvis, sejak awal proses, saya mendapat hak istimewa untuk mengakses lemari besi studio jauh di dalam tambang garam Kansas, tempat penyimpanan negatif film lama,” ujar Luhrmann kepada Deadline pada Januari lalu. Tambang garam? Kedengarannya seperti adegan Indiana Jones mencari harta karun yang terkubur. Hanya saja, harta karunnya berupa Elvis.

Menyelami Harta Karun di Tambang Garam Kansas

Luhrmann melanjutkan, “Kami sangat terkejut dengan banyaknya rekaman yang tidak terpakai dari Elvis: That’s the Way It Is, film Festival Musim Panas Elvis yang legendaris tahun 1970 di Las Vegas - semuanya direkam dalam format anamorphic 35mm - dan juga dari film konser jalanan Elvis dua tahun kemudian, Elvis On Tour. Yang sama menariknya adalah kami menemukan tidak hanya gambar yang belum pernah dilihat dengan kualitas ini, tetapi juga audio di balik layar langka yang dikhawatirkan hilang, terutama beberapa rekaman menarik dari Elvis yang menceritakan kisah dari kehidupannya sendiri dengan kata-katanya sendiri.”

Bayangkan betapa bahagianya Luhrmann ketika menemukan "harta karun" ini. Mungkin dia langsung menari-nari ala Elvis sambil menyanyikan Hound Dog di tengah tumpukan negatif film. Kita tidak tahu pasti, tapi yang jelas, penemuan ini menjadi angin segar bagi para penggemar Elvis yang haus akan konten baru.

EPiC: Elvis Presley In Concert - Nostalgia atau Eksploitasi?

EPiC: Elvis Presley In Concert dijadwalkan untuk tayang eksklusif selama seminggu di IMAX mulai 20 Februari 2026, sebelum akhirnya dirilis di bioskop seluruh dunia pada 27 Februari. Pertanyaannya, apakah film ini akan menjadi perayaan yang tulus terhadap warisan Elvis, atau sekadar upaya untuk memeras lebih banyak uang dari nostalgia?

Di era di mana "reboot," "remake," dan "reimagining" menjadi makanan sehari-hari industri hiburan, sulit untuk tidak skeptis. Apakah kita benar-benar membutuhkan lebih banyak konten Elvis? Apakah rekaman yang "hilang" ini benar-benar berkualitas tinggi, atau hanya sisa-sisa yang tidak layak tayang?

Antara Nostalgia dan Teknologi: Pengalaman IMAX yang Memanjakan Mata?

Namun, di sisi lain, format IMAX menjanjikan pengalaman yang imersif dan memanjakan mata. Bayangkan melihat Elvis tampil di atas panggung dengan kualitas gambar dan suara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi para penggemar berat, ini mungkin menjadi kesempatan sekali seumur hidup untuk merasakan kembali kejayaan sang Raja.

Selain itu, janji akan materi yang belum pernah dilihat sebelumnya dan rekaman di balik layar tentu saja menggoda. Mendengar Elvis bercerita tentang hidupnya dengan kata-katanya sendiri adalah tawaran yang sulit ditolak, terutama bagi mereka yang tumbuh besar dengan musiknya.

Baz Luhrmann dan Obsesinya dengan Ikon Musik

Tidak bisa dipungkiri, Baz Luhrmann memiliki ketertarikan khusus pada ikon musik. Setelah sukses dengan Moulin Rouge! dan The Great Gatsby (yang meskipun bukan tentang musisi, namun sangat kental dengan nuansa musik), Luhrmann membawa kita ke dunia Elvis Presley yang penuh gemerlap dan kontroversi.

Film Elvis (2022) memang menuai pujian dan kritik. Beberapa memuji visualnya yang memukau dan penampilan Austin Butler yang karismatik, sementara yang lain mengkritik alur cerita yang terlalu padat dan penggambaran Colonel Tom Parker yang terlalu jahat. Terlepas dari pro dan kontra, film tersebut berhasil membangkitkan kembali minat publik pada Elvis Presley.

Apakah Kita Benar-Benar Mengenal Elvis?

Mungkin, EPiC: Elvis Presley In Concert adalah kesempatan bagi kita untuk melihat Elvis dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sebagai tokoh mitos yang dipuja-puja, melainkan sebagai manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Namun, kita juga harus ingat bahwa film ini tetaplah sebuah produk yang dibuat untuk menghasilkan uang. Luhrmann, sebagai seorang sutradara dengan visi yang kuat, tentu saja memiliki agenda sendiri. Kita sebagai penonton harus cerdas dan kritis dalam menanggapi apa yang disajikan di layar.

EPiC: Elvis Presley In Concert menawarkan janji akan nostalgia, pengalaman imersif, dan materi yang belum pernah dilihat sebelumnya. Namun, kita juga harus mempertimbangkan potensi eksploitasi dan manipulasi. Pada akhirnya, keputusan untuk menonton atau tidak ada di tangan Anda. Yang jelas, siap-siap saja untuk berdansa mengikuti irama Hound Dog dan Jailhouse Rock di dalam bioskop IMAX.

Jadi, apakah EPiC: Elvis Presley In Concert akan menjadi game changer atau sekadar cash grab? Kita tunggu saja tanggal mainnya. Yang pasti, dunia hiburan tidak akan pernah kekurangan Elvis. Dan mungkin, itulah yang kita butuhkan saat ini.