Dunia periklanan dan branding itu kayak labirin. Banyak jalan buntu, jebakan Batman, dan kadang kala, malah nyasar ke hatinya mantan. Tapi, ada satu studio yang kayaknya udah punya peta lengkapnya: Explorers Club. Bayangin, belum genap dua tahun, mereka udah jadi andalan buat brand-brand sekelas Atlantic Records, Coca-Cola, sampai Nike! Kira-kira, resep rahasianya apa ya? Apa jangan-jangan mereka punya cheat code?
Di balik kesuksesan Explorers Club, ada dua sosok yang kayak duet maut di panggung kreatif: Ayo Fagbemi dan Aaron Skipper. Mereka ini kayak yin dan yang, strategi dan desain, Indomie dan telor - kombinasi yang nggak mungkin salah. Di sesi eksklusif bareng Creative Boom, mereka blak-blakan soal perjalanan mereka, dari nol sampai bisa bangun studio kreatif yang nggak cuma keren, tapi juga punya purpose dan staying power. Intinya, ini bukan sekadar cerita sukses, tapi juga pelajaran berharga buat kita-kita yang pengen bikin sesuatu yang meaningful di dunia yang serba nggak jelas ini.
Ayo cerita, "Kami ketemu pas lagi garap project Nike di Wieden+Kennedy. Kombinasi strategi dan desain di antara kami tuh kayak... klik! Kayak nemu soulmate di dunia perkantoran. Akhirnya, kami sadar, partnership ini terlalu sayang kalo cuma buat kerjaan kantor. Mending sekalian bangun studio aja!"
Belajar dari Partnership: Bukan Sekadar Kerja Bareng
Explorers Club sekarang punya markas di London dan Los Angeles. Pertumbuhannya pesat dan fokus, berkat keyakinan bahwa setiap brand punya "secret genius" yang nunggu buat diungkap. Kata Ayo, "Ini bukan soal menciptakan sesuatu yang baru dari nol. Tapi soal menemukan apa yang udah ada di sana, dan menghidupkannya; secara visual, verbal, dan pengalaman." Kayak nemuin hidden gem di game open-world gitu, lah.
Aaron dan Ayo ngedeskripsiin fondasi studio mereka sebagai pertukaran ilmu yang nggak ada habisnya. "Judul talk ini sebenernya bisa aja: 'Apa yang desainer ajarkan ke gue soal strategi, dan apa yang strategist ajarkan ke gue soal desain'," jelas Aaron. Intinya, mereka berdua saling melengkapi, kayak kopi dan rokok di pagi hari.
Semangat kolaborasi ini ngerasuk ke semua yang mereka lakuin, baik di dalam tim maupun pas kerja bareng klien. "Buat kami," tambah Ayo, "strategi itu komitmen buat bikin karya yang berani. Tugas kami adalah bantuin klien buat jadi beda dan disruptive, tapi tetep jujur sama diri mereka sendiri." Jadi, bukan sekadar nurutin tren, tapi juga nemuin identitas yang otentik.
Dari Musik Jadi Gerakan: Lebih dari Sekadar Nada
Keyakinan ini terwujud pas mereka kerja bareng Atlantic Records UK. Ayo nyebut project ini sebagai "launchpad" mereka. Label rekaman itu lagi mempertanyakan peran mereka di dunia musik yang berubah dengan cepat, di mana makin banyak artis yang milih jalur independen. Explorers Club ngerumusin ulang purpose mereka dengan ide baru: 'Music to Movements.' "Kami nanya, gimana caranya lo ngambil satu track dari 160.000 lagu yang di-upload ke Spotify tiap hari, dan ngubahnya jadi culture?" kata Ayo. "Itu jadi rallying cry kami." Kayak nyari jarum di tumpukan jerami, tapi jarumnya itu berlian.
Konsep brand mereka ngenalin identitas yang dinamis; yang "never still", constantly in motion, dari logo animasi yang berubah-ubah sampai sistem yang hidup di sosial media, dunia fisik, dan digital. Tim mereka bahkan ngerayain rebrand ini dengan ngasih notebook dan botol minum reusable ke semua karyawan, sebagai simbol fresh start. Biar nggak cuma keren di slide presentasi, tapi juga kerasa di kehidupan sehari-hari.
Kerja keras ini nggak cuma keliatan bagus di case study; tapi juga ngerubah persepsi di dalam label. "Yang paling seru," ungkap Ayo, "adalah pas denger kabar kalo Ed Sheeran re-sign kontrak sama Atlantic; salah satu alasannya karena label itu nemuin kepercayaan diri baru lewat karya kami." Wah, efeknya bisa sampe bikin Ed Sheeran balik lagi! Itu sih bukan cuma rebrand, tapi *magic*.
Main-main yang Serius: Play dan Community
Buat Ayo dan Aaron, main-main itu kunci dari kreativitas yang meaningful. "Design harus ngehubungin kepala dan hati," kata Aaron. "Di persimpangan itu lah ide-ide terbaik muncul." Jadi, tahun lalu, Explorers Club nerbitin buku pertama mereka, Play Is the Highest Form of Research; minjem quote Einstein sebagai manifesto buat ngejaga rasa ingin tahu tetep hidup. Mereka ngumpulin respons dari klien, kolaborator, dan temen-temen di industri, nanyain gimana caranya masing-masing tetep main-main di kehidupan kreatif mereka, lalu ngubah refleksi itu jadi publikasi yang visually rich.
Setiap halaman ngepasangin quote dengan desain yang bespoke. Cover-nya sengaja dibiarin kosong, terus di-spray-paint manual di studio, jadi nggak ada dua kopi yang sama persis. Pas diluncurin di Barbican, London, buku ini jadi event kolaboratif: pembaca bikin cover sendiri dan nyusun ulang huruf buat ngeja kata-kata baru. Seru banget kayaknya!
Community jadi jantung dari semua ini. Explorers Club mulai dari atas café-bar di London, tempat mereka ngadain game night buat desainer, seniman, dan musisi. "It leveled the field," kata Aaron. "Semua orang dateng apa adanya." Rasa kebersamaan itu sekarang ngebentuk cara mereka ngedesain buat brand. "Culture itu bukan sesuatu yang lo tap into," kata Ayo. "It's something you build with others." Bukan cuma ngikutin tren, tapi juga ngebangun hubungan yang genuine.
Deep Work, Fast Moves: Rahasia Efisiensi
Salah satu ciri khas Explorers Club adalah ngegabungin depth dengan speed. "Strategi itu deep work yang bikin fast work jadi mungkin," kata Ayo. "Lo mikir dulu yang dalem, baru lo bisa gerak insting." Kayak main catur, mikir beberapa langkah ke depan sebelum ngegerakin bidak.
Dia cerita soal project mereka bareng Instacart, bikin Fizz, app buat Gen Z yang fokus ke spontaneous snacking dan drinks runs. "Pas kami udah ngerti audiensnya, kami sadar kalo chat interface - sesuatu yang kita semua pake tiap hari - bisa jadi beating heart dari brand," jelas Ayo. "Itu bahkan ngerubah cara kami ngomong sama klien. Kami ngadopsi bahasa dan energi yang sama di Slack. Itu bikin kolaborasi jadi lebih cepet, lebih human."
Human connection ini, tambahnya, bikin project tetep enjoyable meskipun dikerjain dengan kecepatan tinggi. "Kadang kami nge-message klien dengan typo dan in-jokes. Kedengerannya kecil, tapi itu ngebangun trust. Salah satu klien kami dari project itu, Fidji Simo, sekarang jadi CEO of Applications di OpenAI, jadi kayaknya kerjaan kami ninggalin kesan yang lumayan." Tuh, kan, kerja santai tapi tetep berkesan! Siapa tahu nanti kita juga bisa kerja bareng Elon Musk.
Dari Struktur ke Gerakan: Coca-Cola dan UMG
Abis itu, datenglah Coca-Cola. Partneran sama Universal Music Group, raksasa minuman itu lagi ngeluncurin label baru: Real Thing Records. "Ini semua soal struktur," jelas Aaron. "Strategi ngasih fondasi; desain bikin itu hidup." Kayak bikin rumah, strategi itu fondasinya, desain itu cat dan perabotannya.
Visual system-nya muter di sekitar kubus sederhana yang terinspirasi dari bagian depan kaleng Coca-Cola. Bentuk ini jadi responsive space, shifting dan morphing secara real time ngikutin irama musik. Setiap lagu ngebentuk gerakan yang beda; generative design sebagai brand expression. "Itu di-coding buat behave secara unik buat setiap artis," kata Aaron. "Itu butuh sense of presence, legacy, dan artistry. Kami pengen fans ngeliat diri mereka di situ, bukan cuma brand."
Peluncurannya di KOKO, London, nangkep energi dari live crowd, ngasih footage langsung ke identity system. "Nggak ada yang lebih authentic dari fans yang gerak," kata Aaron. "Itu cara lo ngehubungin brand dan culture." Jadi, bukan cuma logo yang keren, tapi juga pengalaman yang immersive.
Desain Buat Audiens, Bukan Buat Industri
Sepanjang kerjaan mereka, Ayo dan Aaron bolak-balik balik ke ide sentral: Jangan bikin buat industri lo; bikin buat audiens lo. "Gampang buat bikin karya yang laku di LinkedIn," kata Ayo, "tapi lebih susah buat bikin sesuatu yang beneran dipeduliin orang di luar bubble kita." Setuju banget! Kadang kita terlalu fokus sama validasi dari sesama desainer, sampe lupa sama orang yang bakal make produk kita.
Kampanye holiday mereka baru-baru ini buat Instacart nerapin ini, ngedesain ratusan aset yang ranged dari out-of-home placements sampe banner digital yang kecil. Nggak peduli sekecil apapun medianya, tetep harus impactful.
"Entah itu billboard atau banner ad," jelas Ayo, "craft dan care harus sama. Audiens nggak ngalamin hierarki. Mereka cuma ngeliat cerita." Buat dia, good design itu demokratis: "Lo nemuin orang di mana mereka berada, dan itu yang bikin itu powerful." Kayak ngasih senyuman ke orang asing di jalan, simple tapi bermakna.
Simplicity, Clarity, dan Culture
Nutup sesi, Aaron balik ke salah satu kolaborasi terbaru mereka: Tur global 10 minggu Fred Again, ngepasangin rilis single mingguan dengan live show. "Kami pengen itu kerasa tactile dan human; no phones, just presence," kenangnya. "Semua ide muter di sekitar bendera: simbol analogue yang gede, di-update tiap minggu dengan nama kota baru." Bendera sebagai simbol persatuan, bukan perpecahan.
Sistem minimalis ini ngubah penonton jadi storyteller. Fans mulai ngedokumentasiin bendera itu sendiri, nge-post gambar dari setiap venue. "Itu pas lo tau lo udah nyentuh sesuatu yang real," kata Aaron. "Pas audiens ngelakuin storytelling buat lo." Kayak nyiptain meme yang viral, orang-orang nge-remix dan nambahin sentuhan personal mereka sendiri.
Bahkan workflow-nya nggambarin energi yang stripped-back itu. "Semua project jalan di WhatsApp," Aaron ketawa. "Kami kayaknya bahkan nggak punya email tim. Tapi itu artinya keputusan kejadian cepet. Semua orang gerak sebagai satu." Kolaborasi yang tight-knit itu, tambah Ayo, nyerminin ethos di jantung Explorers Club. "Kami suka ngerasa kayak extension dari setiap tim yang kerja bareng kami. Itu pas ide-ide terbaik kejadian."
Pelajaran Buat Pertumbuhan: Sinergi dan Sincerity
Pas ditanya soal refleksi dari rapid rise mereka, kedua founder balik ke tempat mereka mulai: sinergi dan sincerity. Strategi ngasih direction; desain ngasih form. Bareng, mereka nyiptain clarity yang ngelewatin noise dari modern culture. Di tengah hiruk pikuk dunia, kejernihan itu mahal harganya.
"Semua gerak cepet banget," kata Aaron. "Attention span itu tiny. Tapi kalo message lo clear dan brave, itu nemuin tempatnya." Ayo setuju: "Bravery, play, partnership, dan clarity," tekannya. "Itu thread yang ngerasuk ke semua yang kami lakuin."
Explorers Club mungkin masih muda. Tapi ceritanya, dan pelajaran di dalamnya, udah jadi reminder buat studio kreatif mana pun. Pas lo ngebangun dengan intention, lo nggak cuma tetep relevant; lo ngebantu ngebentuk apa yang selanjutnya. Jadi, tunggu apa lagi? Siapin peta lo, pasang cheat code, dan mulai eksplorasi!
