Bayangkan ini: sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun! Itu setara dengan masa jabatan dua presiden di negara Wakanda (eh, maksudnya Indonesia). Sepuluh tahun lamanya seorang Faker absen dari sebuah turnamen. Tapi, seperti judul sinetron azab, "Penantian Panjang Berbuah Manis," sang legenda akhirnya mengangkat trofi KeSPA Cup. Apakah ini pertanda kiamat esports semakin dekat? Atau jangan-jangan, ini cuma permulaan dari dominasi T1 di tahun 2026?

Buat yang belum tahu (atau pura-pura lupa), T1 baru saja menyabet gelar juara KeSPA Cup pertama mereka. Setelah berjuang mati-matian melawan Hanwha Life Esports dengan skor 3-2 di Sangam SOOP Colosseum, tanggal 12 Desember kemarin, T1 akhirnya bisa bernapas lega. Gelar ini bukan cuma sekadar debut manis di KeSPA Cup, tapi juga jadi trofi kedua T1 di tahun 2025, setelah sebelumnya mereka menggondol gelar juara dunia. Gokil!

Dan yang lebih epik lagi, kemenangan ini jadi KeSPA Cup pertama bagi seluruh anggota roster T1 saat ini. Tapi, sorotan utama tetap tertuju pada Lee “Faker” Sang-hyeok. Bayangkan, di penampilan perdananya di turnamen ini, ia langsung mengangkat trofi. Sebuah pencapaian yang bikin kita bertanya-tanya, "Ini orang makan apa sih?"

KeSPA Cup: Dulu Diremehkan, Sekarang Jadi Rebutan?

Dulu, KeSPA Cup sering dianggap sebelah mata. Para pemain pro lebih memilih rebahan daripada ikut turnamen ini. Tim-tim juga lebih suka menurunkan pemain akademi mereka. Tapi, tahun ini situasinya berubah drastis. Kehadiran Asian Games 2026 memaksa semua tim LCK untuk serius. KeSPA Cup jadi ajang seleksi pemain timnas, dan semua tim besar berlomba-lomba memamerkan roster terbaru mereka.

Bahkan, turnamen ini mendadak jadi perhatian dunia. Tim-tim internasional seperti Team Liquid dan Cloud9 ikut meramaikan dengan lineup 2026 mereka. Belum lagi, ada juga tim all-star dari Jepang dan Vietnam. Siaran langsungnya pun tayang di Disney+ di sebelas negara Asia, bahkan sampai ke Amerika Serikat. Ini jelas bukan KeSPA Cup yang dulu kita kenal. Sekarang, turnamen ini punya potensi untuk jadi kompetisi global yang besar.

Faker sendiri punya motivasi khusus untuk menang. Sebelum final, ia bilang, "Saya sangat ingin memenangkan yang satu ini. Gumayusi (Lee Min-hyeong) telah tampil baik di tim mereka, jadi saya pikir ini akan menjadi seri yang menarik. Jika kami dapat mengangkat trofi KeSPA Cup, penggemar kami akan senang - dan itu akan menjadi cara yang sempurna untuk memulai musim yang akan datang." Sebuah pernyataan yang menunjukkan betapa pentingnya turnamen ini bagi sang legenda.

Lahirnya DOFPK: Era Baru T1 Dimulai?

Setelah susah payah membalikkan keadaan melawan Dplus KIA di babak sebelumnya, T1 kembali dihadapkan pada pertandingan lima game yang menegangkan. Kali ini, mereka nyaris mengalami reverse sweep. Tapi, pengalaman dan ketenangan para pemain veteran T1 sekali lagi terbukti tak tergoyahkan.

Di Game 1, T1 berhasil unggul setelah teamfight selama 25 menit di jungle atas. Kim "Peyz" Su-hwan dengan Varus-nya jadi kunci utama dalam memperlebar jarak. Mereka merobohkan turret tengah HLE di menit ke-27 dan terus menekan hingga akhirnya menghancurkan Nexus untuk meraih kemenangan pembuka.

Game 2 jadi ajang unjuk gigi T1. Mereka meraih kemenangan awal di skirmish bawah dan tengah. Pertarungan sukses di dekat raptor atas memberi mereka keunggulan yang menentukan. Mun "Oner" Hyeon-jun dengan Xin Zhao-nya memimpin beberapa engage yang kuat. Setelah mengamankan Rift Herald dan keunggulan 9.000 gold, T1 mengakhiri permainan hanya dalam 24 menit dan unggul 2-0.

Namun, HLE tidak menyerah begitu saja. Mereka berhasil memenangkan Game 3 dan 4, memaksa T1 untuk bermain habis-habisan di Game 5. Di sinilah mental juara T1 diuji.

Mental Baja Sang Juara: T1 Tak Kenal Kata Menyerah

Setelah kehilangan Game 3 dan 4, T1 kembali fokus untuk Game 5. Sebuah gank di midlane yang dipimpin oleh Nocturne Oner berhasil membuat Viktor Faker menculik Kassadin Kim "Zeka" Geon-woo. Serangan cepat lainnya kembali membuahkan hasil. Sementara itu, Zeri Peyz berhasil mengungguli Lucian Lee "Gumayusi" Min-hyung untuk memperlebar keunggulan.

Di menit ke-18, pertempuran besar terjadi di dekat turret tingkat tiga tengah HLE. Di sinilah Peyz menunjukkan kelasnya dengan Zeri-nya, mencetak quadra kill yang memastikan momentum kemenangan. Tak lama kemudian, T1 menyerbu markas HLE dan menghancurkan Nexus hanya dalam 22 menit, memastikan gelar juara setelah melalui pertandingan lima game yang melelahkan.

Penampilan gemilang Peyz sepanjang seri ini membuatnya dinobatkan sebagai MVP Final. Dengan KDA 36/15/42, ia membuktikan bahwa dirinya adalah aset berharga bagi T1. Gelar ini juga jadi trofi pertama Peyz bersama T1. Sebuah awal yang menjanjikan untuk kariernya di tim legendaris ini.

Kemenangan T1 di KeSPA Cup 2025 bukan cuma sekadar trofi. Ini adalah simbol dari kebangkitan tim ini setelah melalui masa-masa sulit. Dengan roster yang solid dan mental juara yang tak tergoyahkan, T1 siap untuk kembali mendominasi panggung kompetitif League of Legends di tahun-tahun mendatang. Siap-siap saja melihat Faker mengangkat lebih banyak trofi di masa depan. Kecuali kalo tiba-tiba dia memutuskan jadi tukang parkir. Tapi kayaknya nggak mungkin, sih?

Dan, tentu saja, KeSPA Cup yang dulunya diremehkan kini jadi ajang yang bergengsi. Sebuah bukti bahwa esports terus berkembang dan menjadi industri yang semakin serius. Kita tunggu saja kejutan apa lagi yang akan dihadirkan di masa depan.

Header Photo Credit: KeSPA Cup