Menerjang Flores dari Maumere ke Ruteng di peta terlihat seolah rute mudik idaman, mungkin cuma 10 jam kalau jalanan bersahabat. Tapi realitanya, pulau sepanjang 362 kilometer ini punya jalur yang berkelok lebih banyak dari list resolusi tahunan yang gagal total. Ditambah lagi, musim hujan yang datangnya tanpa diundang bikin perjalanan jadi akinya siput yang lagi nyari jodoh: lambat dan butuh kesabaran ekstra. Jadi, keputusan menempuh perjalanan dua hari penuh di akhir Januari lalu, mengikuti saran sang sopir yang paham betul medan, adalah langkah bijak yang tak terbantahkan, demi nyawa dan kesempatan melihat langsung denyut kehidupan pulau ini yang unik sekaligus penuh perjuangan tersembunyi.

Keindahan Flores memang seringkali bikin mata silau. Pemandangan hijau subur yang membentang sejauh mata memandang, garis pantai yang terjal namun memesona meski badai mengancam, semuanya bisa bikin lupa daratan. Namun, di balik panorama memukau itu, tantangan nyata terus membayangi. Gejolak lingkungan jadi salah satu isu paling kentara. Berhenti sejenak di Mataloko, area pertambangan panas bumi yang menuai protes keras dari Keuskupan Agung setempat dan ribuan umat, jadi bukti nyata bagaimana dampak ekologis bisa jadi momok yang menakutkan, melampaui sekadar keindahan alam.

Kekhawatiran akan perubahan iklim semakin membesar. Para penduduk lokal bercerita, musim hujan yang biasanya membentang dari November hingga Maret, kini terasa makin ganas dan mengancam. Banjir yang makin sering terjadi jelas membahayakan warga, baik di perkotaan maupun pedesaan. Flores, satu-satunya pulau di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk Katolik Roma, kini harus berhadapan dengan realitas cuaca ekstrem yang makin menjadi-jadi.

Bukan Sekadar Komitmen, Tapi dari 'Lubuk Hati Terdalam'

Di Desa Soa, saat malam menjelang, hujan sempat memberi jeda, tapi pagi harinya kembali mengguyur deras. Momen inilah yang dimanfaatkan untuk berbincang dengan Sr. Yani Latief, seorang pengacara terlatih sekaligus anggota Tarekat Misionaris Fransiskan Maria. Di Soa, Sr. Yani tak hanya mengelola rumah retret dan mengantarkan komuni bagi umat yang sakit, namun juga aktif dalam respons bencana. Banjir bandang dan aktivitas vulkanik yang kian marak membuat komunitas lokal kian rentan.

Bekerja sama dengan paroki dan lembaga bantuan Katolik, para suster ini tak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memastikan kebutuhan kaum miskin terpenuhi. "Sebuah komitmen yang lahir dari kedalaman hati," ungkap Sr. Yani, pengalamannya tumbuh dalam kemiskinan membuatnya semakin memahami esensi kepedulian. Upayanya tak berhenti pada bantuan fisik semata; perhatiannya juga tertuju pada akar permasalahan struktural.

Sr. Yani mengakui, masyarakat desa kerap tergoda membangun rumah di dekat sungai demi akses mudah, namun mitigasi risiko yang lebih komprehensif mutlak diperlukan. Ironisnya, di balik pesona alam yang ditawarkan Flores, kemiskinan tetap menjadi bayangan yang membayangi kehidupan di sana. Meski daerah sekitar Soa tidak termasuk yang paling parah, di mana sebagian besar rumah sudah terbuat dari beton, bukan bambu yang lebih rapuh, potret kemiskinan tetap terpampang nyata.

Senyum di Tengah Kerentanan: Para Pelajar dan Hunian Sewa

Di Ruteng, para Suster dari Ordo Cinta Kasih St. Yosef menyambut hangat kedatangan setelah perjalanan dua hari yang cukup menantang. Hujan yang tak kunjung reda membuat listrik padam selama hampir 16 jam, memutus akses dan kenyamanan sementara. Konven tempat menginap ini tidak hanya menjadi tempat tinggal para suster, tetapi juga pusat penampungan bagi perempuan dan anak korban kekerasan, ruang retret bagi kelompok gereja, serta etalase bagi kerajinan tangan perempuan dan penjualan kopi dari petani lokal yang diolah dan dikemas di tempat.

Suasana damai terasa kental di kompleks yang luasnya mencapai 9,7 hektar ini, sebagian berkat taman yang terawat apik dan halaman tengah. Kesadaran lingkungan para suster ini sudah terbentuk jauh sebelum ensiklik Laudato Si' Paus Fransiskus dirilis pada 2015, terbukti dari program daur ulang dan kompos yang sudah berjalan lebih dulu. "Menggunakan dan menghormati tanah adalah bagian dari misi kami," tegas Sr. Natalia Tanzil.

Namun, fokus utama pelayanan para suster di Ruteng justru tertuju pada para pelajar yang tengah berjuang. Banyak di antara mereka masih remaja, bersekolah di SMK, dan terpaksa tinggal di hunian sewa yang sempit, bahkan terkadang tidak aman. Ancaman human trafficking menjadi perhatian khusus, terutama bagi para siswi dan perempuan muda.

Untuk itu, mereka menyediakan konseling, pendampingan, serta kegiatan sosial. Kolaborasi dengan berbagai lembaga kemanusiaan dan otoritas lokal, termasuk kepolisian, dilakukan demi memberikan perlindungan dan rasa aman bagi para pelajar. Sebuah program bernama Bring Changes (BRIC) menjadi wadah bagi sekitar dua puluh anak muda untuk terlibat aktif.

Perumahan sewa bagi pelajar di Ruteng ternyata menjadi industri tersendiri. "Ada sekitar 1.000 pelajar yang membutuhkan tempat tinggal, tapi fasilitas akomodasi institusional sangat terbatas," ujar Sr. Flora Nirmala, pemimpin unit Pelayanan Sosial Cinta Kasih St. Yosef Ruteng. Fenomena ini sudah menjadi bagian dari budaya lokal, seperti yang diakui Felix Magur, kepala operasional pemerintahan sub-distrik setempat, yang diwawancarai di tengah guyuran hujan deras.

Saat mengunjungi deretan hunian sewa sederhana dari blok semen itu, pemandangan yang tersaji sungguh tidak nyaman. Ruangan terasa sesak, minim privasi, dan keberadaan kompor portabel menambah potensi bahaya. Semua ini menggambarkan potret tantangan yang dihadapi Flores: pelajar yang giat menuntut ilmu demi masa depan yang lebih cerah, berharap bisa bekerja di kota-kota besar dengan peluang yang lebih menjanjikan. "Ada jurang pemisah yang sangat lebar antara si kaya dan si miskin di sini," keluh Sr. Flora.

Perjuangan Tanpa Akhir: Perempuan, Pendidikan, dan Keadilan

Perjuangan para perempuan muda di Flores tidak berhenti pada persoalan tempat tinggal. Kerentanan terhadap pelecehan seksual, ketergantungan ekonomi pada laki-laki, serta bias gender yang kentara dalam akses pendidikan dan pekerjaan, masih menjadi momok. "Selalu ditekankan agar anak perempuan mau sekolah, karena dengan pendidikan, sekecil apapun, kita bisa mengubah cara pandang patriarkal," ujar Sr. Flora dalam wawancara kelompok bersama tim Pelayanan Sosial Cinta Kasih St. Yosef.

"Kehidupan bisa berubah melalui pendidikan," tambah Iva Delldon Batta, seorang staf administrasi. Sinergi antara para pemuda dan para suster dalam program pelayanan ini mendapat apresiasi tinggi dari pejabat pemerintah setempat, termasuk Magur. Ia mengakui bahwa persoalan yang dihadapi pelajar ini adalah "masalah sosial" dan peningkatan kualitas hunian mereka menjadi target jangka panjang pemerintah.

"Kami prihatin dengan kondisi hidup mereka dan sedang berupaya mencari solusi," jelas Magur, yang mencakup pelibatan pemilik hunian, pelajar, pemerintah, serta berbagai organisasi kemasyarakatan. Namun, dalam jangka pendek, Magur menggarisbawahi kontribusi vital pelayanan para suster dalam menstabilkan kehidupan komunitas Ruteng. Keberadaan mereka di lapangan memberikan stabilitas dan secercah harapan bagi seluruh warga. "Kami sangat beruntung bisa bekerja sama dengan mereka."