Tobias Jesso Jr., nama yang mungkin baru terdengar kemarin sore bagi sebagian orang, tapi di balik layar, dia adalah dalang yang bikin lagu Justin Bieber jadi enak didengar. Bayangkan, umur 40 tahun dirayakan dengan album Bieber yang baru rilis. Itu sama kayak dapet skin legendaris pas lagi grinding buat level up. Serendipitas namanya, bro!
Dari Adele Sampai Bieber: Jejak Rekam Seorang Tobias Jesso Jr.
Bicara soal Tobias Jesso Jr., dia bukan kaleng-kaleng. Nominasi Grammy 2026 untuk Songwriter of the Year (non-klasik) adalah bukti nyata. Tapi, ini bukan pertama kalinya dia masuk nominasi. Doi udah pernah menang piala ini di tahun 2023. Kalo kata anak zaman sekarang, "udah nggak kaget lagi." Tapi tetep aja, ini validasi bahwa dia adalah salah satu penulis lagu paling diandalkan di industri musik pop saat ini.
Debutnya bareng Adele di lagu "When We Were Young" udah nunjukin kelasnya. Tahun ini, namanya nampang di liner notes lagu Miley Cyrus, Haim, sampai Olivia Dean. Nah, lagu "Man I Need" dari Olivia Dean ini yang jadi breakout hit di tahun 2025. Ibaratnya, Jesso ini kayak support yang bikin carry jadi GGWP.
Filosofi Warung Kopi: Pilih-Pilih Proyek Biar Nggak Jadi Sampah
Sejak album solo "Goon" rilis di tahun 2015, Tobias Jesso Jr. udah nulis lagu buat banyak nama besar. Mulai dari Daniel Caesar, Camila Cabello, sampai Harry Styles dan Dua Lipa. Tapi, yang menarik, dia nggak asal comot proyek. Doi milih-milih, cuma mau garap yang sesuai sama selera dan minatnya. "Gue cuma mau ngerjain musik yang bakal gue masukin ke playlist gue sendiri," katanya. Wah, ini sih prinsip yang patut diacungi jempol. Kayak milih waifu, harus yang bener-bener sreg di hati.
Prinsip ini yang bikin dia ogah kerja sama kalo hasilnya cuma jadi sampah. "Mending jadi bagian dari produk yang lo tau bakal lo pake, daripada jadi bagian dari sesuatu yang lo nggak bakal sentuh," tegasnya. Nah, ini dia bedanya seniman sama tukang bikin konten. Jesso lebih mentingin sense of purpose, bukan sekadar cuan.
Justin Bieber dan Kisah "Swag": Mencari Arah di Tengah Badai Manajemen
Kerja sama Tobias Jesso Jr. dengan Justin Bieber di album "Swag" adalah contoh nyata dari prinsipnya. Album ini dapet empat nominasi Grammy, termasuk Album of the Year. Bieber ngumpulin hitmaker kayak Dijon, Carter Lang, dan Dylan Wiggins buat cari arah musik baru setelah ganti manajemen. Ibaratnya, Bieber lagi nyari meta baru biar nggak ketinggalan sama player lain.
"Gue rasa Justin lagi ada di fase 'Gue harus nunjukkin diri gue gimana nih?'" kata Jesso. "Dan cara terbaiknya adalah dengan ngumpulin orang yang dia percaya." Album ini terbentuk perlahan, ditulis di berbagai lokasi kayak Prancis dan Islandia. Jesso ngerasa semua udah pas pas mereka nulis di Islandia. "Kepercayaan udah kebangun. Keluarga udah jadi satu unit. Tinggal bungkus aja, rapihin."
Olivia Dean dan Energi "Siap Tempur": Nggak Perlu Basa-Basi, Langsung Gas!
Selain Bieber, Tobias Jesso Jr. juga terlibat dalam lagu "Man I Need" dari Olivia Dean. Lagu ini jadi global hit dan nangkring di posisi 4 Billboard Hot 100. Jesso dikenalin ke Dean sama Sir Nolan, kolaboratornya yang sering nulis lagu bareng. Awalnya, Jesso mau nyoba bikin suasana nyaman kayak biasa. Tapi, ternyata Dean nggak butuh itu. "Dia punya energi kuat, kayak orang yang tau kenapa dia ada di situ, tau siapa dia, mau kedengeran kayak apa, dan siap tempur." Wah, ini sih kayak ketemu midlaner yang langsung lock in hero OP tanpa ragu.
"Shine": Album Personal yang Lahir dari Pahit Manis Kehidupan
Di tengah kesibukannya nulis lagu buat artis lain, Tobias Jesso Jr. nyempetin waktu enam minggu buat ngerjain album solo keduanya, "Shine." Album ini dirilis tanpa banyak gembar-gembor di akhir November. Isinya delapan lagu yang kayak demo - dia rekam berulang-ulang, terus pilih yang terbaik. Topiknya macem-macem, dari duka perceraian sampai berkah punya anak. Ini adalah proyek yang nggak mungkin dia kerjain kalo nggak didorong sama pengalaman hidupnya sendiri. Soalnya, setelah album "Goon," Jesso udah males sama sorotan dan tekanan jadi artis solo.
"[Shine] adalah kulminasi dari apa yang terjadi di umur 30-an gue dan gimana gue memproses semua nasihat dan apa yang gue alamin," jelasnya. "Gue lagi bummed out, depresi, dan ada di tempat yang aneh. Tapi musiknya nggak bikin stres, malah ngebantu banget. Gue udah lama nggak ngerasain ini. Gue terlalu mikirin ini itu. Dan gue pake semua kemampuan bermusik gue buat orang lain. Jadi aneh banget pas balik lagi ke diri sendiri. Dan gue rasa gue balik dengan cara yang lebih membumi. Gue udah bilang ke manajer gue kalo gue bisa ngelakuin ini lagi. Dan ini jauh lebih baik dari pas 'Goon,' karena gue udah jadi orang yang beda."
Grammy: Bukan Tujuan Utama, Tapi Bonus yang Nggak Boleh Ditolak
Pada akhirnya, "Shine" adalah produk dari proses Jesso nemuin jati dirinya sebagai musisi, sambil ngebantu orang lain ngelakuin hal yang sama. Tanpa peduli sama ekspektasi dan penghargaan. "Gue bersyukur banget udah bangun karier yang bisa melibatkan Grammy," katanya. "Dan gue pasti seneng kalo dapet Grammy sebanyak yang mereka mau kasih. Tapi itu bukan niat atau tujuan utama. Yang penting buat gue tahun ini adalah gue nggak mau ngorbanin integritas gue sendiri demi dapet itu. Kalo gue dapet Grammy lagi dan itu murni berdasarkan lagu yang gue tulis, gue bakal bangga banget. Dan gue juga bangga sama artis yang kerja sama bareng gue karena udah bikin itu semua kejadian."
Integritas di Atas Segalanya: Resep Sukses Tobias Jesso Jr.
Jadi, pelajaran yang bisa diambil dari kisah Tobias Jesso Jr. adalah: jangan lupa sama diri sendiri di tengah hiruk pikuk industri. Kerja keras itu penting, tapi integritas jauh lebih penting. Kalo kata Mario Teguh, "Integritas adalah mahkota yang tak terlihat, tapi kilaunya lebih terang dari berlian." Oke, mungkin Mario Teguh nggak bakal ngomong gitu, tapi intinya sama lah. Kalo lo ngerjain sesuatu dengan hati, hasilnya pasti nggak bakal ngecewain. Dan kalo dapet Grammy, ya itu bonus aja. Jangan lupa traktir temen-temen se-tongkrongan!
