Para pegolf di lapangan golf tak ubahnya seperti gladiator modern, beradu nasib di atas rumput hijau yang terawat sempurna, namun kali ini tanpa darah tumpah, hanya ego yang tergores dan dompet yang menebal. Di tengah hiruk-pikuk perebutan gelar, ada satu nama yang terus bergema, seolah tak tergoyahkan oleh badai apalagi embusan angin sepoi-sepoi: Ham. Sosok ini, bak pilar kokoh di tengah medan pertempuran, tak hanya memimpin, tapi juga memamerkan keahlian *putting* yang sungguh memukau, membuat para penonton menahan napas layaknya menyaksikan pertunjukan sulap kelas dunia.

Memulai hari dengan keunggulan dua pukulan atas Jazz Janewattananond dari Thailand, Ham dengan tenang memperlebar jarak menjadi tiga pukulan di tikungan, lalu empat pukulan setelah sebuah *birdie* di lubang ke-10. Ini bukan sekadar permainan, ini adalah sebuah demonstrasi dominasi, sebuah manifesto keunggulan di tengah ketatnya persaingan. Ia bagai raja yang mengitari wilayah kekuasaannya, memastikan tak ada pemberontak yang berani menantang.

Keberuntungan pun seolah berpihak pada Ham, terutama di lubang ke-13 yang terkenal sulit, di mana pukulan *tee*-nya nyaris saja menyentuh air, namun berakhir tepat di tepiannya. Alih-alih panik, ia justru memanfaatkan momen ini dengan cemerlang, menempatkan pukulan kedua sejauh 15 kaki dari lubang dan menyelesaikannya dengan sebuah *birdie*. Tak berhenti di situ, ia melanjutkan momentum dengan *birdie* lain di lubang berikutnya, sebuah *par 3*, melalui *putt* dari jarak serupa. Puncaknya, ia berhasil menyelamatkan par di lubang selanjutnya berkat *putt* pendek berjarak 8 kaki, sebuah bukti ketenangan dan konsentrasi luar biasa di bawah tekanan.

Dengan lima *birdie* dan hanya dua *bogey* dalam ronde tersebut, Ham menorehkan skor 67, sebuah angka yang membuatnya semakin kokoh di puncak klasemen. Tanggapannya terhadap performanya pun mencerminkan kepercayaan diri yang meluap, "Rasanya luar biasa karena nama saya selalu di atas dan pemain lain tidak menyalip saya. Saya harap besok tetap seperti itu." Pernyataannya bukan sekadar omong kosong, melainkan refleksi dari sebuah performa yang memang superior.

Ketika ditanya rahasia kehebatannya dalam *putting*, Ham hanya tersenyum dan menyebut kesempurnaan *green* sebagai faktor utama. "Tidak ada rahasia khusus untuk *putting* saya, sungguh. *Green*-nya saja yang sempurna. Saya tidak terlalu memperhatikan banyak hal saat *putting*, hanya memastikan saya melakukannya dengan cepat karena panas," jelasnya. Sebuah jawaban yang lugas, tanpa pretensi, namun justru semakin mengukuhkan statusnya sebagai pegolf yang tak terduga.

Menariknya, Ham pernah merasakan atmosfer kompetisi ini saat terakhir kali diadakan di The Serapong pada tahun 2022, meski kala itu hanya menempati posisi 43. Kini, ia jelas berada di jalur yang sangat berbeda, siap untuk melampaui pencapaian masa lalunya. Pengalaman bertanding di 24 turnamen Asian Tour selama delapan tahun profesional, dengan mayoritas di tanah kelahirannya, sepertinya telah menempa mentalnya untuk menghadapi panggung internasional yang lebih besar.

Komentarnya tentang target berikutnya pun menunjukkan kecerdasan dan humornya: "Target baru saya adalah tidak menembak 90 besok," candanya. "Saya memang menginginkan tempat di The Open, tetapi dalam hidup, hanya karena menginginkan sesuatu tidak berarti akan mendapatkannya. Hidup memang seperti itu – jika saya mendapatkannya, bagus, jika tidak, tidak apa-apa." Sikap realistis yang dibalut kehati-hatian dalam menentukan prioritas, sebuah kedewasaan yang patut diacungi jempol.

Semua Mata Tertuju pada Persaingan Ketat di Papan Skor

Sementara itu, pegolf lain tak kalah sengit dalam perburuan. John, yang membukukan skor 67, berbagi predikat pukulan terendah hari itu, membuktikan bahwa ia adalah ancaman serius. Posisi ketiganya ditempati oleh Tomohiro Ishizaka dari Jepang, yang tertinggal satu pukulan setelah mencatatkan skor 70. Ketiganya, bersama dengan pemain lain, membentuk sebuah kaleidoskop talenta yang siap menyajikan drama tak terduga di hari terakhir.

Julien Sale dari Prancis, dengan skor 69, mengamankan posisi keempat. Penampilannya di papan skor ini menandai kembalinya ia ke jajaran teratas setelah kemenangan di Philippine Open awal tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan bukanlah perkara mudah bagi Ham; setiap pegolf memiliki potensi untuk memberikan kejutan.

John sendiri, yang berada di peringkat kedua dalam 2025/26 Challenger PGA Tour of Australasia Order of Merit, membuat penampilan langka di kawasan ini. Meski baru mengikuti tiga turnamen Asian Tour di Asia, pegolf berusia 23 tahun ini tampil impresif, bahkan setelah berjuang melawan flu. "Saya bermain bagus di Jepang beberapa minggu lalu, lalu libur seminggu di rumah. Saya tidak merasa sehat secara fisik, tetapi saya pulih cukup cepat," ujarnya.

"Saya sakit setelah Jepang, terkena flu, dan itu membuat saya lemas selama sekitar seminggu setengah. Tapi saya sudah pulih tepat waktu, yang bagus," tambahnya. Perjuangannya melawan penyakit sebelum turnamen ini justru menambah nilai dramatis pada performanya, menjadikannya pesaing yang patut diwaspadai. John menekankan pentingnya kesabaran di lapangan yang menantang ini. "Ini adalah lapangan golf yang kuat, jadi ini tentang bersabar. Saya mungkin tidak biasa bermain di tipe lapangan seperti ini dengan sabar seperti minggu ini. Saya biasanya akan lebih banyak menggunakan *driver*, tetapi saya senang dengan cara saya mengelola permainan saya sejauh ini."

Sale, ketika disinggung mengenai ambisinya, mengakui bahwa tempat di The Open menjadi pertimbangan di benaknya. "Ya, maksud saya, jelas ada tempat di The Open di benak saya, jadi saya akan melihat itu di akhir putaran besok. Tapi saya hanya akan mencoba untuk terus maju, seperti yang saya lakukan di tiga putaran pertama. Saya tidak benar-benar memikirkan skor tertentu. Hanya mencoba mengeksekusi proses saya, tetap terhidrasi, dan mencoba melakukan yang terbaik. Mencoba mengalahkan lapangan. Jika bisa mengalahkan lapangan, itu akan menjadi hari yang baik besok." Pendekatannya yang fokus pada proses dan tantangan lapangan adalah strategi yang cerdas.

Di sisi lain, Gaganjeet Bhullar dari India, yang mencatat skor 72, berada di ambang kemenangan ke-12 di Asian Tour, sebuah pencapaian yang akan menjadi yang pertama sejak Indonesian Masters 2023. Ia berbagi posisi kelima dengan Ahmed Baig dari Pakistan (67) dan Jazz Janewattananond (73), juara di sini pada tahun 2019. Kehadiran mereka di papan atas menunjukkan kedalaman persaingan dan potensi kejutan di hari terakhir.

Serapong, sebagai arena pertempuran ini, kembali membuktikan dirinya sebagai medan uji mental dan fisik yang tak kenal ampun. Setiap *tee shot*, setiap *approach*, dan setiap *putt* menjadi penentu nasib, di mana ketenangan dan eksekusi menjadi kunci. Pertarungan para pegolf ini bukan hanya melawan satu sama lain, tetapi juga melawan diri sendiri dan elemen alam yang tak terduga.

The International Series telah meluncurkan situs web dan aplikasi baru, membawa pengguna lebih dekat ke aksi dengan papan skor langsung, peringkat pemain, dan liputan turnamen lengkap. Sebuah langkah digitalisasi yang diharapkan dapat semakin mendekatkan penggemar dengan dunia golf profesional, memberikan transparansi yang belum pernah ada sebelumnya dalam setiap pukulan yang terhitung.