Bukannya bikin mata melek, kok malah bikin kelopak mata makin berat? Itulah dilema yang saya hadapi ketika dua "mainan" baru mendarat di meja kerja: Apple Vision Pro M5 (yang harganya bikin ginjal menjerit) dan Samsung Galaxy XR (yang masih bikin dompet menangis). Alih-alih semangat mencoba teknologi canggih, saya justru lebih semangat mencari alasan untuk menunda memakainya.
Antara Harga Selangit dan Energi yang Seret
Dua headset XR ini bukan sekadar pajangan. Dengan harga masing-masing sekitar Rp 56 juta dan Rp 28 juta, keduanya menjanjikan pengalaman imersif yang luar biasa. Bisa nonton film seolah di bioskop pribadi, main game serasa jadi karakter utama, bahkan kerja dengan banyak layar virtual sekaligus. Tapi, kenapa ya, hasrat untuk "nyemplung" ke dunia XR ini kok malah seret kayak jalanan Jakarta pas jam pulang kantor?
Mungkin karena saya sudah terbiasa dengan dunia nyata yang (kadang-kadang) lebih menarik? Atau mungkin karena prospek memakai headset tebal di wajah selama berjam-jam terdengar seperti siksaan daripada hiburan? Entahlah. Yang jelas, setiap kali melihat dua benda itu teronggok di meja, yang terbayang bukan keseruan, tapi potensi pegal dan keringat bercucuran.
Tapi, sebagai seorang yang (katanya) profesional, saya pantang menyerah. Saya pun memberanikan diri untuk "bercumbu" dengan kedua headset ini. Hasilnya? Sebuah pencerahan pahit tentang betapa panjangnya jalan yang harus ditempuh Google dan Samsung untuk menyempurnakan pengalaman Android XR. Dan, yang lebih mengejutkan, sebuah pengakuan jujur tentang kualitas Apple Vision Pro yang... ya, memang lebih baik.
Mencari Kenyamanan di Dunia Maya
Demi kenyamanan mata minus ini, saya memesan lensa khusus dari EyeBuyDirect, hasil rekomendasi dari Samsung. Prosesnya sih lancar, tapi waktu pengirimannya... ampun, lebih lama dari nungguin kepastian dari dia. Alhasil, lensa sudah datang, headset-nya masih anteng di kardus.
Ketika akhirnya Galaxy XR mendarat di kepala, saya langsung merasakan perbedaan signifikan dengan Vision Pro. Bobotnya jauh lebih ringan, yang tentu saja kabar baik. Tapi, masalahnya, mencari posisi yang pas itu susahnya minta ampun. Putar sana, kencangkan sini, eh, malah kening yang jadi korban. Rasanya kayak lagi di-press pakai setrikaan.
Belum lagi masalah panas. Begitu kipas internal mulai bekerja, dahi langsung berubah jadi ladang minyak. Dijamin, setelah satu jam ber-XR ria, kita bakal punya "efek rumah kaca" di wajah. Dua pelindung cahaya magnetik yang disertakan memang lumayan membantu, tapi tetap saja ada celah bagi cahaya luar untuk "mengintip" masuk.
Singkatnya, Galaxy XR ini seperti gebetan yang punya potensi, tapi masih banyak "PR" yang harus dikerjakan. Dari kenyamanan pemakaian hingga kualitas tampilan, masih ada jarak yang cukup lebar dengan sang rival dari Cupertino.
Vision Pro: Mahal, Tapi...
Soal Apple Vision Pro, terus terang, harganya memang bikin dompet berdebat dengan akal sehat. Tapi, begitu dipakai, sulit untuk tidak mengakui keunggulannya. Tampilannya jernih, responsnya cepat, dan ekosistem aplikasinya lebih matang. Pengalaman imersif yang ditawarkan pun terasa lebih "wah" dan meyakinkan.
Meski begitu, bukan berarti Vision Pro ini tanpa cela. Bobotnya yang lumayan berat tetap jadi masalah, terutama untuk penggunaan jangka panjang. Selain itu, harganya yang selangit membuat headset ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang punya "darah biru" di rekeningnya.
Pada akhirnya, baik Galaxy XR maupun Vision Pro, keduanya masih punya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Teknologi XR memang menjanjikan masa depan yang cerah, tapi untuk saat ini, kenyataannya masih jauh dari ideal. Kita masih harus menunggu beberapa generasi lagi sampai headset XR benar-benar nyaman dipakai, terjangkau harganya, dan menawarkan pengalaman yang benar-benar mengubah hidup.
