Dunia game, layaknya sinetron Indonesia, penuh drama. Tapi, bukan drama percintaan segitiga antara hero, heroine, dan orang ketiga. Lebih ke drama pengakuan. Ya, pengakuan eksistensi game mobile. Bayangkan, sudah jadi raja di pasar, menguasai 55% kue global, eh... masih saja dicibir dan dianggap sebelah mata. Tragis!

Christian Lövstedt, CEO Midjiwan AB (studio di balik game strategi Polytopia), baru-baru ini melayangkan surat terbuka pedas untuk industri game global. Isinya? Protes keras karena game mobile selalu jadi anak tiri. Padahal, kontribusinya nyata, lho! Lebih dari sekadar "game buat ngisi waktu luang."

Dalam suratnya yang diposting di LinkedIn, Lövstedt blak-blakan menyindir anggapan miring tentang game mobile. Katanya, banyak yang melihatnya sebagai "dunia monetisasi predator dan kualitas rendah." Stereotip yang menyakitkan, bukan?

Pemicunya? Daftar nominasi BAFTA (British Academy Games Awards) yang baru dirilis. Dari sekian banyak game, cuma Monument Valley 3 yang murni lahir dari platform mobile yang berhasil masuk. Miris!

Penghargaan yang Pilih Kasih?

Lövstedt juga menyoroti D.I.C.E. (Design, Innovate, Communicate, Entertain), salah satu ajang penghargaan yang dianggap lebih "ngeh" sama game mobile. Tapi, tetap saja, cuma dua game mobile yang pernah dinominasikan sebagai Game of the Year: Angry Birds HD dan Pokémon Go. Itu pun, hanya D.I.C.E. yang berani mengakui dampak komersial dan kultural kedua game tersebut.

"Sempat ada harapan ketika BAFTA menghapus kategori khusus platform. Eh, malah jadinya game mobile makin nggak dilirik," keluh Lövstedt. Jadi, sama aja bohong, ya?

Intinya, Lövstedt menekankan bahwa penghargaan dan media punya peran besar dalam membentuk pandangan tentang nilai budaya dan kreativitas. Kalau game mobile terus diabaikan, dampaknya bisa panjang.

Mobile Gaming: Bukan Sekadar Candy Crush

Banyak yang masih menganggap game mobile itu cuma sebatas Candy Crush atau Temple Run. Padahal, ada banyak game mobile yang inovatif dan kreatif, lho! Sebut saja Genshin Impact, PUBG Mobile, atau Mobile Legends. Game-game ini nggak cuma populer, tapi juga punya kualitas grafis dan gameplay yang nggak kalah sama game konsol atau PC.

Belum lagi, game mobile juga membuka pintu bagi developer indie untuk berkarya dan menjangkau audiens yang lebih luas. Platform ini jauh lebih inklusif dan demokratis dibandingkan platform lainnya. Jadi, kenapa masih dipandang sebelah mata?

Mungkin, stigma "monetisasi predator" memang jadi salah satu faktornya. Banyak game mobile yang menerapkan sistem pay-to-win atau penuh dengan iklan yang mengganggu. Tapi, nggak semua game mobile seperti itu, kok! Ada juga game yang menawarkan pengalaman bermain yang adil dan menyenangkan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

Industri Game: Saatnya Melek!

Lövstedt mengajak industri game untuk lebih terbuka dan mengakui kontribusi game mobile. "Jika kita merayakan inovasi, kita harus merayakannya di mana saja. Jika kita menghargai kreativitas, kita harus menghargainya di mana pun pemain menemukannya. Jika kita peduli dengan masa depan industri, kita harus peduli dengan platform yang mendefinisikannya," tegasnya.

Intinya, industri game punya pilihan. Mau mengakui platform terbesar dan paling kreatif, atau terus memelihara definisi sempit tentang "game sejati"? Pilihan ada di tangan mereka.

Mobile Gaming: Masa Depan yang Terlupakan?

Bagi sebagian orang, game mobile mungkin hanya sekadar hiburan pengisi waktu luang. Tapi, bagi jutaan pemain di seluruh dunia, game mobile adalah bagian dari gaya hidup mereka. Platform ini menawarkan aksesibilitas, fleksibilitas, dan keragaman yang nggak bisa ditawarkan oleh platform lain.

Jadi, sudah saatnya industri game berhenti meremehkan game mobile. Jangan sampai, masa depan industri game justru terabaikan karena terlalu terpaku pada definisi "game sejati" yang ketinggalan zaman.

Industri game harusnya lebih inklusif, terbuka, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Kalau nggak, ya... siap-siap aja ketinggalan kereta dan gigit jari melihat game mobile terus melaju kencang meninggalkan mereka.

Pada akhirnya, industri game harus memilih: mengakui game mobile sebagai kekuatan yang nggak bisa diabaikan, atau terus hidup dalam gelembung eksklusif yang semakin lama semakin menyusut. Pilihan yang bijak akan menentukan masa depan industri game itu sendiri. Atau... mungkin, kita semua terlalu serius? Ah, sudahlah, mending main game mobile dulu biar nggak tegang.