Infeksi telinga, musuh bebuyutan yang kadang datang tanpa diundang, bisa terasa seperti ada konser rock di dalam kepala. Terutama jika sudah lupa rasanya diserang monster kecil bernama otitis media sejak masa kanak-kanak, bingung harus berbuat apa adalah reaksi standar. Obat pereda nyeri bebas resep dan istirahat memang rekomendasi dokter, tapi kalau ternyata tidak mempan dalam sekejap, jangan sungkan segera temui pakar, sebelum telinga benar-benar mogok kerja.

Bukan Cuma Anak-anak yang Jadi Target

Jangan salah sangka, infeksi telinga itu bukan domain eksklusif anak-anak yang suka berenang tanpa pengawasan. Meskipun secara statistik anak-anak lebih rentan akibat saluran eustachius mereka yang lebih sempit—jalur rahasia yang menghubungkan telinga tengah ke hidung dan tenggorokan—orang dewasa pun tak luput dari ancaman. Baik telinga luar maupun telinga tengah bisa terinfeksi, mengubah telinga yang tadinya pendengar setia obrolan jadi sumber derita.

Infeksi telinga, pada dasarnya, adalah pertempuran kecil di dalam salah satu organ pendengaran. Infeksi telinga tengah menyerang rongga berisi udara di belakang gendang telinga, sementara infeksi pada liang telinga luar lebih sering dikenal dengan sebutan swimmer’s ear. Fenomena ini dijelaskan dengan gamblang oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Dari Virus Flu Hingga COVID-19?

Penyebabnya bisa beragam, mulai dari bakteri hingga virus. Jika urusannya bakteri, nama-nama beken seperti Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae kerap menjadi dalang utama, menurut CDC. Namun, jika yang menyerang adalah virus, bisa jadi virus penyebab flu atau pilek biasa yang berulah. Jadi, tidak heran jika gejala infeksi telinga muncul bersamaan dengan demam atau batuk.

Bahkan, riset terbaru menunjukkan kemungkinan virus SARS-CoV-2, si biang kerok COVID-19, juga bisa menginvasi telinga. Dr. Hamid Djalilian, seorang otolaringolog di UCI Health, menjelaskan bahwa saluran pernapasan hidung terhubung dengan lapisan telinga melalui saluran eustachius. Pasien COVID-19 bisa mengalami penumpukan cairan di belakang gendang telinga akibat infeksi virus ini. "Jarang sekali seseorang membutuhkan antibiotik untuk infeksi telinga yang disebabkan oleh COVID-19, namun mereka mungkin mengalami penurunan pendengaran dan rasa penuh di telinga akibat penumpukan cairan di belakang gendang telinga," ungkapnya. Menariknya, seringkali sulit memastikan jenis infeksi telinga yang dihadapi tanpa pemeriksaan kultur spesifik, seperti yang diungkapkan Dr. Elliott Kozin dari Mass Eye and Ear.

Gejala yang Bikin Gerah Telinga

Infeksi telinga jarang sekali datang dengan kabar baik. Rasa sakit adalah gejala utamanya, namun spektrumnya lebih luas. Dr. Kozin memaparkan daftar keluhan yang bisa muncul:

  • Nyeri telinga yang menusuk.
  • Keluar cairan dari telinga.
  • Penurunan kemampuan mendengar.
  • Sensasi telinga penuh atau seperti tenggelam di bawah air.
  • Telinga berdenging (tinnitus).
  • Pusing berputar (vertigo).

Diagnostik: Membedah Akar Masalah

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya akan memeriksa kondisi telinga secara langsung. Alat yang digunakan adalah otoskop pneumatik, yang memungkinkan dokter melihat gendang telinga dan mendeteksi keberadaan cairan di baliknya. Jika gendang telinga sehat, ia akan bergerak saat sedikit udara ditiupkan. Namun, jika ada cairan, pergerakannya akan minim atau bahkan tidak ada sama sekali, seperti yang dijelaskan Mayo Clinic.

Perlakukan Sendiri: Coba Saja Dulu

Sebelum memutuskan untuk konsultasi, ada beberapa jurus sederhana yang bisa dicoba untuk meredakan derita:

  • Obat Pereda Nyeri OTC: Parasetamol atau ibuprofen bisa membantu meredakan rasa sakit, saran Dr. Kozin.
  • Istirahat Cukup: Biarkan sistem imun bekerja optimal. Tidur yang cukup memberi energi bagi tubuh untuk melawan infeksi, menurut Dr. Arashdeep Litt.
  • Minum yang Cukup: Menjaga hidrasi penting. Air putih membantu mengencerkan lendir, mencegahnya mengental dan menyumbat saluran, ujar Dr. Omid Mehdizadeh.
  • Posisi Tidur yang Tepat: Berbaring miring dengan telinga yang terinfeksi menghadap ke atas dapat membantu cairan mengalir keluar melalui saluran eustachius menuju tenggorokan.
  • Kompres Hangat: Meskipun tidak secara langsung membantu drainase, kompres hangat bisa mengurangi rasa nyeri.

Hindari godaan untuk membersihkan telinga dengan cotton bud. Manipulasi pada telinga, apalagi jika ada infeksi, justru berpotensi memperburuk kondisi. Ingat pesan Dr. Kozin: jangan pernah memasukkan benda apa pun ke dalam telinga jika diduga terinfeksi.

Kapan Harus Minta Bantuan Profesional?

Jangan biarkan rasa sakit telinga berlarut-larut. Jika langkah self-treatment tidak memberikan kelegaan, atau gejalanya justru memburuk, segera cari pertolongan medis. Terlebih jika ada cairan keluar dari telinga, pendengaran berkurang, telinga berdenging, atau muncul rasa pusing yang mengganggu. Dr. Djalilian menambahkan bahwa orang dewasa yang sering mengalami infeksi telinga mungkin memiliki masalah disfungsi saluran eustachius kronis.

Opsi Terapi Lanjutan: Jangan Panik Dulu

Tergantung pada gejala dan tingkat keparahan, dokter mungkin akan menyarankan pendekatan wait-and-see. Sistem imun tubuh seringkali mampu mengatasi infeksi telinga tengah tanpa intervensi obat. Keputusan penanganan juga sangat bergantung pada penyebab infeksi. Seperti yang ditekankan Dr. Litt, "Virus tidak bisa diobati dengan antibiotik."

Namun, jika infeksi tergolong parah atau rasa sakit bertahan lebih dari dua hingga tiga hari, antibiotik mungkin menjadi resep utama. Dr. Kozin menjelaskan, "Infeksi telinga umumnya diobati dengan antibiotik berdasarkan lokasinya. Jika infeksi ada di saluran telinga luar, tetes antibiotik topikal bisa digunakan. Jika infeksi berada di belakang gendang telinga, antibiotik oral biasanya diresepkan."