Mari kita jujur, sebagian dari kita mungkin lebih sering 'rebahan' daripada 'healing'. Tapi, bagaimana jika ada band yang mengklaim bisa membawa kita ke pencerahan spiritual melalui musik doom metal yang beratnya minta ampun? Apakah ini trik marketing kelas dewa, ataukah benar-benar ada jalur pintas menuju nirwana via amplifier yang disetel ke volume maksimal?

Industri musik memang penuh dengan janji-janji manis. Mulai dari lirik lagu cinta yang bikin baper maksimal hingga image band yang seolah-olah paling revolusioner sedunia. Tapi, ketika sebuah band bernama Insomniac datang dengan album berjudul Om Moksha Ritam dan mengklaim bahwa musik mereka adalah "pembebasan melalui penyatuan dengan ritme universal", alarm skeptis dalam diri saya langsung berbunyi kencang. Bukan apa-apa, tapi klaim seperti ini biasanya hanya berakhir menjadi bualan belaka.

Namun, rasa penasaran saya akhirnya mengalahkan skeptisisme. Apa sih yang membuat Insomniac begitu percaya diri? Apakah mereka benar-benar menemukan formula ajaib untuk menggabungkan musik keras dengan pencerahan spiritual? Atau jangan-jangan, mereka hanya sekumpulan musisi yang kebetulan nyasar ke studio rekaman setelah kebanyakan minum jamu?

Post-Doom: Ketika Metal Bertemu Dunia Mistik

Insomniac, dengan berani menyebut diri mereka sebagai band "post-doom", mencoba menggabungkan elemen psychedelic dari Elder, tekstur berlapis dari REZN, dan sentuhan Southern-gothic dari Baroness. Hasilnya? Sebuah ramuan musik yang unik, yang menggabungkan eksplorasi kontemplatif ala prog 70-an, blues rock bernuansa Americana, dan kekuatan power-chord dari post-metal. Kedengarannya seperti resep masakan yang terlalu ambisius, tapi entah bagaimana, mereka berhasil membuatnya bekerja.

Yang membuat kombinasi ini berhasil bukan hanya chemistry antar-personel, tapi juga kehadiran vokal Van Bassman yang sangat dominan. Suaranya mengingatkan pada perpaduan antara Dax Riggs yang bluesy dan John Baizley yang ternyata bisa menyanyi. Vokal Bassman menjadi pusat perhatian di sebagian besar lagu, seringkali dilengkapi dengan lapisan vokal dan efek yang menciptakan pusaran kaleidoskopik yang memperkuat naik turunnya musik.

Bisa dibilang, Insomniac ini seperti developer game yang mencoba menggabungkan genre RPG dengan rhythm game. Awalnya terdengar aneh, tapi kalau eksekusinya tepat, hasilnya bisa jadi pengalaman yang adiktif.

Antara Gurun, Gunung, dan Lautan Sound

Om Moksha Ritam tidak hanya menawarkan satu rasa musik yang monoton. Tracklist-nya dinamis dan terstruktur dengan baik, dengan masing-masing dari tujuh lagu menawarkan variasi halus pada formula inti Insomniac. Sebagian besar keberhasilan ini berkat interaksi antara gitaris Alex Avedissian dan Mike Morris, yang mampu menyeimbangkan timbre akustik dan elektrik yang kaya efek, memberikan palet yang fleksibel dan menarik.

Gitar menjadi kendaraan yang membawa lagu-lagu ini antara refleksi tenang dan kemegahan yang menghancurkan. Entah itu merajut arpeggio folky yang rumit dengan lead yang psychedelic ("Desert"), menyelaraskan harmoni di atas atmosfer doomy ("Mountain"), atau menggunakan tremolo post-rock untuk menandai klimaks yang pantas ("Meditation"), permainan gitar di Om Moksha Ritam selalu menarik dan bervariasi.

Bayangkan saja, permainan gitar mereka ini seperti mod dalam game yang mengubah total tampilan dan nuansa. Satu saat kita berada di padang pasir yang panas, di saat lain kita mendaki gunung yang dingin, dan kemudian terombang-ambing di lautan yang luas.

Ketika Vokal Mengalahkan Segalanya (Sedikit)

Namun, bukan berarti Om Moksha Ritam ini tanpa cela. Sisi B album ini cenderung menjauh dari momen-momen "Hell yeah!" yang penuh semangat dan lebih memilih jam yang lebih lambat dan kontemplatif. Lagu-lagu ini memang membutuhkan pendengaran berulang untuk benar-benar dinikmati, tapi tidak langsung mencengkeram seperti lagu-lagu di awal album.

Lagu penutup "Awakening" juga terasa kurang greget dibandingkan dengan pembukaan album yang dahsyat. Padahal, seharusnya bagian klimaksnya bisa lebih memukul. Selain itu, ada beberapa momen (terutama di refrain "Mountain" dan "Sea") di mana vokal Bassman terasa terlalu mendominasi dan menutupi instrumen lain.

Analoginya, ini seperti ketika kita main game dan karakter utama kita terlalu kuat sehingga musuh-musuhnya jadi tidak terasa menantang. Atau seperti ketika kita makan nasi padang dan rendangnya terlalu pedas sampai rasa yang lain jadi hilang.

Hallucinogenic Trek: Layakkah Diburu?

Om Moksha Ritam mengajak pendengarnya dalam perjalanan halusinogenik melintasi padang pasir, dengan riff yang berkilauan seperti fatamorgana, dan atmosfer yang cukup tebal untuk membuat unta tersedak. Insomniac berhasil menyajikan sebuah album yang membawa pendengarnya dalam perjalanan musikal yang sesungguhnya, penuh dengan nuansa berasap, namun tetap memberikan kepuasan instan.

Racikan psychedelic "post-doom" mereka menggabungkan elemen-elemen familiar dari band-band kesayangan menjadi sesuatu yang lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Jika Insomniac mengundang saya dalam pencarian visi spiritual lain melalui tanah kosong suara, saya dengan senang hati akan memakai sandal saya, mengepak botol air saya, dan mengikuti mereka langsung ke dalam kehampaan.

Jadi, apakah Om Moksha Ritam ini benar-benar bisa membawa kita ke pencerahan? Mungkin tidak secara harfiah. Tapi, album ini menawarkan pengalaman mendengarkan yang unik dan memuaskan, yang mampu membawa kita keluar dari rutinitas sehari-hari dan mengajak kita untuk merenung sejenak tentang makna hidup. Dan bukankah itu sudah cukup?


Rating: 3.5/5.0
DR: 7 | Format Reviewed: PCM
Label: Blues Funeral Recording
Websites: insomniacvibes.bandcamp.com | facebook.com/insomniacatl
Releases Worldwide: September 1st, 2025