Bayangkan ini: suatu negara yang anak-anaknya dulu lebih pendek dari jemuran baju tetangga, kini nyaris tidak ada yang mengalami stunting. Kedengarannya seperti cerita dongeng, bukan? Tapi Jepang berhasil melakukan lompatan dramatis dari 70% menjadi 5% anak stunted. Ini bukan sihir, tapi sejarah yang bisa jadi peta jalan bagi negara-negara yang masih berjuang di titik yang sama dengan Jepang puluhan tahun lalu.
Saat ini, satu dari empat anak di seluruh dunia—sekitar 150 juta jiwa yang mungil—mengalami stunting. Ini bukan sekadar soal tinggi badan kurang sedikit; ini adalah kondisi di mana tumbuh kembang fisik dan kognitif terhambat akibat malnutrisi kronis dan penyakit. Dampaknya? Menghantui seumur hidup, membatasi potensi maksimal anak bangsa. Skala global masalah ini memang mencengangkan, namun perbedaannya antarnegara sangat jomplang. Ada yang sudah hampir bebas stunting, tapi banyak pula di Asia dan Afrika yang lebih dari sepertiga anak-anaknya terdampak.
Situasi ini memunculkan pertanyaan krusial: bagaimana negara-negara yang kini berhasil menekan angka stunting melakukannya? Kapan dan bagaimana perubahan itu terjadi? Kabar baiknya, riset terbaru dari Eric Schneider dan timnya telah mengisinya dengan data historis yang solid, menelusuri jejak stunting selama lebih dari satu abad. Ini membuka jendela ke masa lalu, menunjukkan bahwa kondisi stunting yang meluas bukanlah nasib yang tak terhindarkan.
Dataset baru ini membuktikan bahwa anak-anak yang terdampak stunting bisa saja pulih, meski bukan tanpa perjuangan. Jepang menjadi studi kasus yang paling menarik. Dengan data yang sangat detail—bahkan sampai tingkat tahunan—perjalanan Jepang dari anak-anak yang kebanyakan pendek menjadi generasi yang tumbuh optimal bisa dipetakan dengan jelas. Negara-negara yang saat ini berada di level stunting seperti Jepang di awal abad ke-20, seperti Burundi dan Timor Leste, bisa belajar banyak dari langkah-langkah yang diambil Jepang.
Perjalanan Jepang dapat dibagi menjadi tiga fase utama: periode pra-Perang Dunia II dengan penurunan moderat, masa perang yang menghambat kemajuan, dan periode pasca-perang yang menyaksikan penurunan drastis. Masing-masing fase ini memberikan pelajaran berharga tentang faktor-faktor yang memengaruhi stunting dan bagaimana intervensi yang tepat dapat menghasilkan perubahan signifikan.
Periode Pra-Perang: Fokus pada Penyakit
Pada awal abad ke-20, Jepang masih bergulat dengan stunting yang mencapai lebih dari 70% anak. Hingga awal 1940-an, angkanya turun menjadi sekitar 40-45%, dengan rata-rata penurunan 0.8 poin persentase per tahun. Cukup lambat, tapi progresif.
Selama periode ini, kunci utama penurunan stunting bukanlah perbaikan gizi semata, melainkan pertempuran melawan penyakit infeksi. Angka kematian akibat penyakit saluran pencernaan di Jepang merosot tajam. Pembangunan infrastruktur air bersih menjadi garda terdepan. Di Tokyo, misalnya, akses rumah tangga ke pasokan air meningkat drastis dari 30% pada 1920 menjadi 80% pada pertengahan 1930-an. Perkiraan menyebutkan, infrastruktur air bersih ini menyumbang 30-40% penurunan mortalitas anak dan penyakit infeksi.
Bagi negara-negara yang saat ini menghadapi tingkat stunting pra-perang seperti Jepang, pelajaran ini sangat relevan. Masih tingginya angka kematian akibat penyakit diare di beberapa negara Afrika dan Asia menunjukkan bahwa fokus pada pengendalian penyakit infeksi—melalui penyediaan air bersih, sanitasi, dan praktik kebersihan—adalah langkah awal yang krusial.
Perang Dunia II: Kemunduran Sementara
Meskipun Jepang menunjukkan kemajuan, Perang Dunia II membawa pukulan telak. Pada akhir perang, asupan kalori harian anjlok, dan banyak anak hanya makan satu kali sehari atau bahkan kurang. Data stunting sempat terhenti, namun indikasi menunjukkan adanya kemunduran.
Yang menarik, kohort anak-anak yang terdampak stunting akibat perang ini ternyata mampu mengejar ketertinggalan di kemudian hari. Saat dewasa, tinggi badan mereka bisa setara dengan teman-teman sebayanya yang tidak mengalami gizi buruk parah. Ini memberi harapan bahwa pemulihan dari guncangan nutrisi masih mungkin terjadi di masa kanak-kanak selanjutnya, bukan hanya di 1000 hari pertama kehidupan.
Implikasinya bagi kebijakan adalah: meskipun pencegahan defisiensi nutrisi sejak dini adalah yang paling ideal dan hemat biaya, perbaikan nutrisi sepanjang masa kanak-kanak tetap memberikan kesempatan bagi anak untuk menutup kesenjangan tumbuh kembangnya.
Pasca-Perang: Akselerasi Drastis
Setelah perang usai, Jepang mengalami percepatan penurunan stunting yang luar biasa, rata-rata 2.2 poin persentase per tahun. Ini hampir tiga kali lipat lebih cepat dari periode pra-perang, berkat serangan ganda pada penyakit infeksi dan peningkatan kualitas diet.
Jepang memberantas parasit usus seperti cacing gelang dan cacing tambang, yang sebelumnya menggerogoti penyerapan nutrisi. Investasi besar dalam pasokan air bersih, sanitasi, program pemberantasan cacing, dan edukasi higienitas membuahkan hasil. Antara 1950-1980, akses air bersih meningkat dari kurang dari 30% menjadi lebih dari 80% populasi.
Perubahan fundamental lainnya adalah transisi dari penggunaan pupuk dari kotoran manusia (nightsoil) ke pupuk kimia. Penggunaan nightsoil sebelumnya menjadi jalur utama penularan parasit di pedesaan. Seiring peningkatan penggunaan pupuk kimia pasca-perang, rantai penularan ini terputus, mengurangi paparan penyakit infeksi secara signifikan.
Saat ini, banyak negara berpenghasilan menengah dengan angka stunting berkisar 5-40% masih menghadapi beban penyakit akibat kurangnya akses air bersih, sanitasi, dan higienitas. Penyakit seperti filariasis masih umum. Jepang membangun infrastruktur dan program edukasi higienitas secara masif, sebuah strategi krusial yang juga perlu diadopsi.
Peningkatan kualitas nutrisi juga berperan besar. Pola makan masyarakat Jepang bergeser dari dominasi beras dan sereal menjadi lebih beragam, mencakup daging, seafood, dan buah-buahan. Hal ini meningkatkan asupan mikronutrien penting dan protein berkualitas. Bantuan pangan dari Amerika Serikat pasca-perang juga berkontribusi pada diversifikasi diet ini, memperkenalkan susu dan roti sebagai makanan pokok baru.
Prioritas pemerintah Jepang pada nutrisi anak pasca-perang dibuktikan dengan program makan siang sekolah yang masif. Dari sebagian kecil anak yang mendapat makan siang parsial pada 1948, hampir semua anak menerima makan siang lengkap pada 1960-an. Dampaknya, nutrisi anak dan ibu meningkat pesat. Berat badan bayi lahir di Jepang naik signifikan, mengurangi risiko stunting sejak dalam kandungan.
Bagi negara-negara seperti India, di mana lebih dari seperempat bayi lahir dengan berat badan rendah, perbaikan kesehatan ibu adalah kunci untuk memastikan anak tidak tertinggal sejak awal. Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa investasi pada kesehatan ibu dan anak adalah fondasi penting.
Perlu dicatat, kemajuan pesat Jepang ini bukanlah anomali. Negara-negara seperti Ethiopia, Nepal, dan Peru dalam beberapa dekade terakhir juga menunjukkan penurunan stunting yang secepat transformasi Jepang pasca-perang. Ini menegaskan bahwa perubahan drastis memang mungkin terjadi, melintasi benua dan budaya.
Namun, realitasnya, banyak negara seperti Burundi dan India saat ini berada pada posisi Jepang puluhan tahun lalu. Kisah Jepang membuktikan bahwa transformasi itu mungkin, namun menuntut aksi simultan dan berkelanjutan pada pengendalian penyakit, peningkatan gizi, dan pembangunan infrastruktur selama satu generasi. Investasi sebesar itu, dengan masa depan jutaan anak yang dipertaruhkan, jelas sangat layak diperjuangkan.
