Bayangkan begini: Rolling Stones lagi bikin album yang, jujur aja, agak-agak nyeleneh di satu studio. Nah, di studio yang sama, tapi di waktu yang berbeda, Jimi Hendrix Experience lagi ngegodok sesuatu yang jauh lebih legendaris. Ibaratnya, satu studio, dua nasib. Yang satu lagi bikin eksperimen yang mungkin cuma dimengerti sama mereka sendiri, yang satu lagi lagi bikin sejarah yang bakal diingat selamanya.
Jimi Hendrix: Antara Blues Rock dan Teknologi Canggih
Setelah Are You Experienced meledak di pasaran pada Mei 1967, Jimi Hendrix nggak berhenti di situ. Sesi-sesi rekaman yang padat menghasilkan The Wind Cries Mary dan Burning Of The Midnight Lamp, yang nunjukkin kalau Jimi pengen keluar dari zona nyaman blues rock yang pyrotechnic itu. Di album Axis: Bold As Love, Jimi bener-bener matang di studio. Dia mulai merangkul teknologi, tapi justru ini yang bikin produser Chas Chandler cabut karena nggak tahan sama perfeksionismenya Jimi.
Dengan bantuan engineer Eddie Kramer dan Roger Mayer yang nyediain gizmo inovatif, album ini akhirnya kelar di Olympic Studios. Waktu itu, Rolling Stones lagi sibuk-sibuknya ninggalin akar blues mereka di Their Satanic Majesties Request. Tapi, Jimi tetep napak di bumi dengan lagu-lagu kayak If Six Was Nine, yang jadi anthem buat kaum counterculture, dan Little Miss Lover yang funky abis.
Album ini dibuka dengan EXP, semacam wawancara radio alien yang bikin kita serasa naik pesawat UFO, sebelum akhirnya dihajar sama Up From The Skies yang cool abis ala Mose Allison. Tapi, jujur aja, cuma Spanish Castle Magic, Ain’t No Telling, dan You’ve Got Me Floating yang bener-bener quintessential Jimi Hendrix Experience. Sisanya? Lumayan, tapi nggak terlalu nendang.
Evolusi Musikal: Lebih dari Sekadar Gitar Meledak
Meskipun ada She’s So Fine dan Wait Until Tomorrow dari Noel Redding yang agak-agak ringan, lagu-lagu slow di album ini nunjukkin kalau Jimi pengen berkembang. Ada One Rainy Wish dengan liquid guitar starbursts yang bikin merinding, Little Wing yang megah, atau Castles Made Of Sand yang nyentuh ala Curtis Mayfield. Dan jangan lupakan title track yang klimaksnya bikin kita serasa melayang di angkasa.
Upgrade album ini dikasih embel-embel bells-’n’-whistles, termasuk versi mono dan stereo, plus 40 bonus outtakes, versi alternatif, penampilan di TV dan radio. Tapi, jujur aja, ini cuma secuil dari gunung es. Ada Mr Bad Luck (alias Look Over Yonder), instrumental yang nggak dikasih judul, backwards guitar track dari Castles…, dan demo Little Miss Lover dan Ain’t No Telling yang nunjukkin kejeniusan polyrhythmic jazz Mitch Mitchell. Sayangnya, If 6 Was 9 nggak ikut masuk.
Empat inkarnasi Burning Of The Midnight Lamp nunjukkin kalau lagu ini sebenernya udah direncanain buat Axis, sebelum akhirnya jadi single keempat di bulan Agustus. Penampilan di Dee Time juga ada di sini. Siaran radio Swedia dari bulan September juga dimasukkin, yang dibuka dengan Sgt. Pepper-nya The Beatles.
Cover Album: Dari Bencana Jadi Karya Seni
Untungnya, cover album yang dulu bencana banget (gara-gara desainer salah paham sama permintaan Jimi yang pengen tema ‘Indian’ dan malah nempelin kepala band di poster Hindu) diganti sama lukisan naga masa kecilnya Jimi. Jauh lebih eye-catching dan nggak bikin sakit mata.
Deluxe Edition ini nawarin lebih dari sekadar remastering; ini adalah penggalian mendalam ke dalam proses kreatif seorang genius. Materi bonusnya, meskipun nggak komprehensif, ngasih kita intipan berharga ke dalam evolusi lagu-lagu yang kita kenal dan cintai. Dengerin demo yang mentah, outtakes yang belum dipoles, dan penampilan live yang penuh energi, dan kita bisa ngedapetin apresiasi yang lebih besar buat visi musik Jimi Hendrix yang nggak tertandingi.
Apakah *Axis: Bold As Love* Masih Relevan?
Pertanyaan yang muncul adalah, apakah Axis: Bold As Love masih relevan di era digital ini? Jawabannya jelas: iya. Musik Jimi Hendrix itu timeless. Gitar yang melengking, lirik yang puitis, dan eksplorasi suara yang nggak ada matinya tetep menginspirasi musisi dan penggemar dari semua generasi. Album ini bukan cuma sekadar artefak dari masa lalu; ini adalah cetak biru buat inovasi musik di masa depan.
Jadi, apakah worth buat nanya ke Axis sekali lagi? Jelas worth banget. Album ini adalah bukti dari kejeniusan seorang Jimi Hendrix, dan upgrade ini adalah cara yang bagus buat ngedengerinnya dengan cara yang baru. Meskipun ada beberapa kekurangan, secara keseluruhan, Axis: Bold As Love (Deluxe Edition) adalah tambahan yang bagus buat koleksi penggemar Jimi Hendrix atau siapa aja yang pengen menjelajahi salah satu album paling berpengaruh dalam sejarah musik rock. Siapa tahu, setelah ngedengerin album ini, kita jadi lebih berani buat keluar dari zona nyaman dan merangkul hal-hal baru dalam hidup.
