Dunia ini memang penuh kejutan, termasuk bagaimana batu dan nada bisa akur. Dari Run DMC yang mendobrak bersama Aerosmith di "Walk This Way," sampai Anthrax dan Public Enemy yang bikin geger dengan "Bring The Noise," kolaborasi rock dan hip hop ini seperti reuni keluarga yang awalnya nggak saling kenal. Tapi, tunggu dulu, ada satu album soundtrack film yang sering dilupakan, padahal jasanya besar dalam meruntuhkan tembok pemisah dan memicu booming rap-metal. Mari kita kulik, kenapa album ini layak dapat gelar pahlawan yang terlupakan?

"Judgment Night": Film Zonk, Soundtrack Moncer?

Mari kita lupakan sejenak film "Judgment Night" (1993) yang dibintangi Emilio Estevez, Cuba Gooding Jr., dan Dennis Leary. Film ini seperti mantan yang sudah kita blokir dari semua media sosial - antara nggak pernah lihat atau sudah lupa total. Skornya di Rotten Tomatoes cuma 39%, dan Everlast dari House Of Pain (yang ikut main film) menyebutnya sebagai "sampah" dan "film paling konyol yang pernah ada." Tapi, hei, bahkan dari film yang zonk pun bisa lahir soundtrack yang moncer!

Soundtrack "Judgment Night OST" adalah tonggak penting dalam perkembangan rap-rock di era 90an. Bukan kolaborasi pertama antara rock dan rap, tapi yang paling signifikan saat itu. Lahirnya album ini mendahului kesuksesan global Rage Against The Machine, dan membuktikan bahwa dua dunia yang tampak berbeda ini sebenarnya lebih dekat dari yang kita kira. Seperti dua teman lama yang baru sadar punya selera musik yang sama.

DMC: "Album Ini Itu Nabi Industri Musik!"

"Judgment Night itu nabi industri musik," kata Darryl 'DMC' McDaniels dari Run DMC, yang berkolaborasi dengan Living Colour di lagu "Me, Myself & My Microphone." Setelah album ini meledak, muncul Limp Bizkit dan band-band lain yang melakukan hal serupa. Bahkan Fall Out Boy dan P.O.D. pun, menurut DMC, punya nuansa rap-rock di musik mereka. Jadi, bisa dibilang, "Judgment Night" adalah cetak biru untuk rap-rock modern.

Happy Walters, otak di balik soundtrack ini, adalah co-founder label Immortal Records dan manajer Cypress Hill, Wu-Tang Clan, dan House Of Pain. Ide gila ini muncul ketika DJ Muggs dari Cypress Hill ingin membuat lagu rap/rock dengan Pearl Jam setelah tur Lollapalooza 1992. Walters melihat potensi besar di ide ini, dan memutuskan untuk membuat sesuatu yang lebih besar dari sekadar one-off.

"Banyak artis alternatif suka hip-hop, dan banyak artis hip-hop suka alternatif," kata Walters kepada majalah Rolling Stone. "Jadi, masuk akal untuk menyatukan dua genre ini." Walters melihat film "Judgment Night" sebagai kendaraan yang tepat untuk idenya. Ia pun mulai menawarkan konsep soundtrack kolaborasi rock dan rap ke manajer artis lain yang ia kenal.

Bagaimana Para Dewa Rock dan Rap Bersatu?

Awalnya, tentu saja, banyak yang skeptis. Rage Against The Machine belum merilis album debut mereka, dan menggabungkan rap dan rock masih dianggap sebagai gimmick belaka. Tapi, Walters berhasil meyakinkan beberapa nama besar untuk ikut serta. Sonic Youth, Helmet, dan Faith No More adalah yang pertama-tama tertarik dengan ide ini. Kehadiran mereka membantu meyakinkan artis lain untuk bergabung.

Billy Gould, bassist Faith No More, ingat betul bagaimana antusiasnya mereka dengan ide ini. "Saat itu kami cukup populer," kata Gould, yang berkolaborasi dengan Boo-Yaa T.R.I.B.E di lagu "Another Body Murdered." "Kami dapat banyak tawaran kompilasi setelah album 'Angel Dust,' tapi belum ada yang benar-benar mengolaborasikan band hip-hop dan rock. Kami pikir, 'Ini bisa jadi sesuatu yang keren.'"

Slayer dan Ice-T: Ketika Metalhead Rasis Kena Mental

Dengan tiga band besar sudah setuju, proyek ini mulai bergulir seperti bola salju. Pearl Jam, Living Colour, Mudhoney, Biohazard, Teenage Fanclub, dan Dinosaur Jr. pun ikut bergabung. Para rapper juga tak kalah antusias. House Of Pain dan Cypress Hill sudah ada di bawah manajemen Walters, sementara Run DMC punya pengalaman kolaborasi dengan Aerosmith. Ice-T pun ikut serta, dan menyebut kesempatan berkolaborasi dengan Slayer di lagu "Disorder" sebagai kesempatan bekerja dengan "idola"-nya.

"Saya tahu Slayer," kata Ice-T. "Saya tahu mereka itu band paling badass saat itu. Saya nggak tahu lagu apa yang akan kami bawakan sampai tiba di studio. Mereka memasukkan kami ke lagu The Exploited, tiga lagu sekaligus." Ice-T dan Tom Araya (vokalis/bassist Slayer) merekam vokal mereka bersamaan, memilih bagian lagu yang akan mereka nyanyikan, dan langsung blasting it out!

Ice-T juga bercerita tentang pengalamannya di studio, "Saya nggak akan lupa malam itu, ada berita rasis di TV. Ada anak-anak kulit putih yang rasis, dan mereka pakai kaos Slayer. Kerry [King, gitaris Slayer] berpikir bahwa kolaborasi ini akan bikin mereka kena mental." Kolaborasi ini bukan hanya soal musik, tapi juga soal menjungkirbalikkan persepsi dan melawan rasisme.

Kolaborasi Aneh Tapi Nikmat: Dari Mudhoney Sampai Sir Mix-A-Lot

Album "Judgment Night" benar-benar mewujudkan visi Happy Walters untuk menjembatani dua dunia. "Another Body Murdered" adalah highlight yang menyeramkan, kolaborasi Slayer dan Ice-T di "Disorder" sangat agresif, sementara Biohazard dan Onyx berusaha saling unjuk gigi di lagu tema. Tentu saja, ada banyak nuansa alt-rock di album ini. Helmet dan House Of Pain berkolaborasi di "Just Another Victim," Cypress Hill menggandeng Sonic Youth dan Pearl Jam di "I Love You Mary Jane" dan "Real Thing," dan Del The Funky Homosapien berkolaborasi dengan Dinosaur Jr. di "Missing Link." Yang paling aneh adalah kolaborasi Mudhoney dan Sir Mix-A-Lot (yang terkenal dengan lagu "Baby Got Back") di lagu "Freak Momma."

Sayangnya, ada juga beberapa kolaborasi impian yang gagal terwujud. Happy Walters mendekati Metallica untuk berkolaborasi dengan Cypress Hill, tapi ditolak oleh manajemen band metal tersebut. Walters juga mencoba mengolaborasikan Rage Against The Machine dan Tool di lagu "Can't Kill The Revolution," tapi gagal karena masalah internal label. Padahal, kalau saja kolaborasi ini terwujud, mungkin sejarah musik akan sedikit berbeda.

"Judgment Night": Warisan yang Terlupakan

Film "Judgment Night" dirilis pada Oktober 1993 dan langsung menghilang ditelan bumi. Soundtrack-nya dirilis sebulan sebelumnya dan mendapat sambutan yang lebih baik. Kesuksesan album debut Rage Against The Machine (dirilis pada akhir 1992) membantu mendorong soundtrack ini ke posisi 17 di tangga lagu AS. Lagu "Just Another Victim" dan "Another Body Murdered" sering diputar di MTV.

Happy Walters mencoba mengulangi kesuksesan ini dengan soundtrack film "Spawn" (1997), yang melibatkan Korn, Metallica, Incubus, Henry Rollins, dan Tom Morello, serta artis EDM seperti The Prodigy, The Crystal Method, Moby, Orbital, dan Goldie. Tapi, soundtrack "Spawn" tidak memiliki dampak musik dan budaya yang sama dengan "Judgment Night." Walaupun filmnya lebih sukses, soundtrack-nya kurang begitu menggigit. Namun, cross-pollination yang diinspirasi oleh Walters dan batasan-batasan yang berhasil dihancurkannya sudah lebih dari cukup untuk menjadi warisan yang tak terlupakan.