Judi bola basket perguruan tinggi dan olahraga lainnya memang lagi booming banget di Amerika Serikat. Nah, pas March Madness alias kompetisi bola basket mahasiswa paling bergengsi ini tiba, menarik nih buat ngulik gimana sih pandangan orang Amerika soal judi kalau dibanding sama negara-negara lain di dunia. Ternyata, kita lumayan unik dalam hal ini.
Survei Pew Research Center tahun 2025 yang ngelibatin 25 negara nunjukkin fakta menarik: Amerika Serikat punya porsi orang dewasa yang nganggap judi itu salah secara moral relatif kecil, cuma 29%. Bandingin sama negara lain, di mana setengah atau bahkan lebih banyak orang dewasa nganggep judi itu nggak etis. Contohnya, di Indonesia ada 89% yang bilang begitu, India 83%, Italia 71%, dan Brazil 61%. Jauh banget kan bedanya?
Metode surveinya simpel: responden dikasih tiga pilihan. Mau bilang judi itu morally acceptable (dapat diterima secara moral), morally unacceptable (tidak dapat diterima secara moral), atau not a moral issue (bukan isu moral). Di Amerika Serikat, ada 20% orang dewasa yang bilang judi itu bisa diterima secara moral. Tapi yang paling bikin ngiler adalah, separuh responden di Amerika nganggap judi itu bukan isu moral sama sekali. Nggak ada negara lain dalam survei ini yang punya proporsi segede itu yang ngambil posisi kayak gitu.
Meskipun jumlah orang Amerika yang melihat judi secara moral itu salah nggak banyak, trennya sedikit meningkat lho. Kalau mundur ke tahun 2013, pas survei ini pertama kali dilakuin, persentasenya cuma 24%.
Perbedaan pandangan soal moralitas judi ini ternyata punya kaitan sama demografi dan agama. Cowok dan cewek di Amerika Serikat punya pandangan yang hampir sama soal judi itu salah secara moral. Tapi, cowok sedikit lebih condong nganggap judi itu bisa diterima secara moral, di semua kelompok usia. Contohnya, 24% cowok di bawah 30 tahun punya pandangan ini, bandingin sama 16% cewek di usia yang sama. Hal serupa juga keliatan di kelompok usia 65 tahun ke atas (26% cowok vs 19% cewek).

Perbedaan Demografis dan Religius dalam Memandang Judi
Ada juga perbedaan demografis yang mencolok dalam pandangan tentang judi sebagai sesuatu yang morally unacceptable. Orang Amerika keturunan Asia (45%), Hispanik (38%), dan Afrika-Amerika (37%) jauh lebih mungkin menyatakan keberatan moral terhadap judi dibandingkan orang Amerika kulit putih (23%).
Selain itu, orang Amerika dengan pendapatan keluarga yang lebih rendah lebih cenderung mengatakan judi itu salah dibanding mereka yang berpenghasilan lebih tinggi. Ini mengindikasikan adanya korelasi antara stabilitas finansial dan persepsi moral terhadap aktivitas berisiko seperti judi.
Hal serupa juga terlihat pada perbedaan pandangan berdasarkan agama. Orang Amerika yang beragama Kristen (33%) lebih mungkin menyatakan judi itu salah secara moral dibandingkan orang Yahudi Amerika dan mereka yang tidak berafiliasi agama (masing-masing 25% dan 19%). Survei ini tidak memiliki cukup responden dari agama non-Kristen lainnya untuk membuat perbandingan spesifik.
Menariknya lagi, orang Amerika yang mengaku berdoa setiap hari lebih mungkin menolak judi atas dasar moral dibandingkan mereka yang jarang berdoa (37% berbanding 23%). Ini bisa jadi indikasi adanya pengaruh keyakinan spiritual dalam membentuk sikap terhadap aktivitas yang sering dianggap sebagai 'ujian' ketekunan atau godaan.
Dilihat dari kacamata demografis dan religius, pandangan orang Amerika tentang moralitas judi memang punya nuansa yang cukup beragam. Sekitar setengah dari populasi Amerika Serikat tampaknya memandang judi bukan sebagai masalah moral, melainkan sebagai pilihan gaya hidup atau bentuk hiburan yang netral. Sikap ini kontras tajam dengan banyak negara lain yang masih memegang teguh pandangan konservatif atau tradisional mengenai judi.
Perbedaan ini bukan sekadar angka statistik belaka; ini mencerminkan dinamika budaya, nilai-nilai yang dianut, dan bagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia mengategorikan tindakan tertentu. Amerika Serikat, dengan semangat individualisme dan kebebasan pribadinya, tampaknya lebih permisif terhadap aktivitas yang mungkin dianggap tabu di tempat lain. Namun, perlu diingat, ini tidak berarti judi tanpa risiko. Angka 29% yang melihatnya salah secara moral tetap signifikan dan patut diperhatikan, terutama jika dikaitkan dengan potensi masalah kecanduan judi yang terus menghantui.
Fenomena ini juga menyoroti bagaimana norma sosial bisa bergeser seiring waktu dan pengaruh ekonomi. Dengan maraknya legalisasi taruhan olahraga dan kasino di berbagai negara bagian AS, persepsi publik pun ikut berevolusi. Apa yang dulu dianggap gelap mata kini bisa jadi sorotan utama dalam acara olahraga mingguan. Ini adalah contoh klasik bagaimana aktivitas yang dulunya dianggap eksklusif atau 'underground' bisa naik statusnya menjadi bagian dari mainstream, lengkap dengan segala pro dan kontranya.
Perbandingan internasional ini bukan sekadar latihan akademis. Ia membuka jendela untuk memahami perbedaan nilai dan norma global. Sifat unik Amerika dalam memandang judi sebagai 'bukan isu moral' bagi sebagian besar populasinya memberikan perspektif tentang bagaimana identitas budaya dan kemajuan teknologi memengaruhi pandangan masyarakat terhadap praktik yang memiliki sejarah panjang terkait keberuntungan, risiko, dan kesengsaraan.
Pada akhirnya, perbedaan pandangan ini menunjukkan betapa kompleksnya moralitas. Apa yang dianggap benar atau salah seringkali sangat bergantung pada konteks budaya, keyakinan pribadi, dan bahkan kondisi ekonomi. Amerika Serikat mungkin terlihat lebih santai soal judi, tapi itu tidak mengurangi fakta bahwa aktivitas ini tetap memiliki dampak nyata bagi individu dan masyarakat. Jadi, meskipun taruhan bola basket mungkin menyenangkan, kesadaran akan implikasi moral dan sosialnya tetap penting, terlepas dari apakah seseorang menganggapnya sebagai masalah moral atau tidak.
Tentang Riset Ini
Analisis ini mengupas pandangan orang Amerika tentang moralitas judi dan membandingkannya dengan opini publik di 24 negara lain.
Mengapa Riset Ini Dilakukan?
Pew Research Center melakukan riset berkualitas tinggi untuk menginformasikan publik, jurnalis, dan para pemimpin. Mempelajari agama dan topik terkait, seperti moralitas, telah lama menjadi bagian dari riset Center di seluruh dunia. Pelajari lebih lanjut tentang Pew Research Center dan riset Center lainnya tentang agama.
Bagaimana Riset Ini Dilakukan?
Untuk data di luar Amerika Serikat, analisis ini menggunakan survei representatif nasional terhadap 28.333 orang dewasa yang dilakukan dari 8 Januari hingga 26 April 2025. Survei ini dilakukan:
- Melalui telepon di Kanada, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Italia, Jepang, Belanda, Polandia, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, dan Inggris Raya
- Tatap muka di Argentina, Brazil, India, Indonesia, Israel, Kenya, Meksiko, Nigeria, Afrika Selatan, dan Turki
- Menggunakan panel online berbasis probabilitas mixed-mode di Australia

Di AS, survei dilakukan terhadap 3.605 orang dewasa dari 24 hingga 30 Maret 2025. Semua yang berpartisipasi dalam survei AS adalah anggota American Trends Panel (ATP) Center.
Berikut adalah pertanyaan yang digunakan untuk analisis ini, beserta jawabannya, dan metodologi survei.
