Bayangkan begini: Riset medis itu kayak level up di game. Tapi selama bertahun-tahun, banyak developer (baca: ilmuwan) yang lebih fokus nguji coba senjata dan strategi buat karakter cowok doang. Makanya nggak heran kalau saat karakter cewek perlu pakai jurus baru, tiba-tiba ada efek samping yang nggak ketahuan, dosisnya ngaco, atau bahkan senjatanya nggak cocok sama sekali. Ini bukan sekadar anekdot lucu, tapi kenyataan pahit yang bikin kesehatan perempuan jadi bahan eksperimen setengah hati selama dekade.
WINCEE (Women in Nutraceuticals Central and Eastern Europe) baru aja nyuarain ini di NutraFood Poland. Ewa Hudson dan Agnieszka Anielska, petinggi di komite regional ini, udah keliling menyuarakan satu pesan penting: investasi di riset kesehatan perempuan itu bukan cuma perkara 'baik hati', tapi langkah strategis buat ngungkit ekonomi global. Gimana nggak? Satu dari empat perempuan ngelaporin masalah kesehatan yang bikin aktivitas harian, produktivitas, dan pendapatan terganggu. Kalo gap kesehatan perempuan ini ditutup, konon bisa nambah triliunan dolar ke ekonomi dunia tiap tahunnya. Lumayan, kan, buat beli skin legendary baru buat peradaban?
Intinya, ketika kesehatan perempuan membaik, dampaknya menjalar ke keluarga, lalu ke masyarakat luas. Hudson sendiri menekankan, 'Investasi di kesehatan perempuan adalah investasi terbaik untuk masyarakat dan ekonomi.' Pernyataan ini bukan tanpa data pendukung. Coba lihat National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat, yang tahun 2025 diperkirakan ngeluarin $5 miliar buat riset kesehatan perempuan, bandingkan dengan $50 miliar buat area lain. Kesenjangan yang mencolok, kan? Terutama di fase awal uji coba (phase one trials), cuma sekitar 29-34% partisipan perempuan. Padahal, fase ini krusial banget buat nentuin keamanan, tolerabilitas, dan dosis—pondasi utama riset selanjutnya.
Masalahnya, data yang dikumpulin seringkali nggak dipecah berdasarkan jenis kelamin. Hudson ngomong, "Ketika hasil nggak diurai berdasarkan gender, kita nggak bisa lihat apakah pengobatan bekerja berbeda pada perempuan versus laki-laki, apakah efek samping lebih umum atau parah pada perempuan, atau apakah dosis, efikasi, atau keamanan bervariasi berdasarkan jenis kelamin." Lantas, bagaimana kita mau ngertiin kebutuhan pasar kalau datanya nggak detailed?
Lebih parah lagi, kesehatan perempuan seringkali disempitkan jadi isu seksualitas dan reproduksi semata. Padahal, banyak kondisi serius yang bisa diobati tapi lebih banyak menyerang perempuan, kayak depresi, penyakit autoimun, osteoartritis, osteoporosis, reumatoid artritis, sampai serangan jantung (penyebab kematian nomor 1 pada 37% perempuan berbanding 32% laki-laki). Penyakit seperti kanker usus dan fibrilasi atrial juga berdampak berbeda pada perempuan, namun risetnya masih minim.
Minimnya pengetahuan ini berujung pada diagnosis yang salah, pengobatan yang nggak efektif atau malah berbahaya, dan efek samping yang sebenarnya bisa dihindari. Nggak heran, perempuan dilaporkan mengalami sekitar 52% lebih banyak reaksi obat yang merugikan dibandingkan laki-laki. Ini bukan masalah sepele, tapi urgensi yang perlu segera disikapi.
Kenapa Kesenjangan Ini Bisa Terjadi?
Hudson menjelaskan, selama puluhan tahun, studi klinis mengandalkan laki-laki dewasa sebagai populasi standar untuk menguji efikasi dan keamanan. Alasannya macam-macam: peneliti mencari sampel yang lebih homogen, menghindari fluktuasi hormon dan variabilitas biologis yang dianggap merepotkan. Ditambah lagi, studi khusus laki-laki dianggap lebih murah dan butuh partisipan lebih sedikit. Sebuah alasan yang terdengar efisien, tapi mengabaikan separuh populasi.
Contoh paling tragis terjadi di akhir 1950-an dan awal 1960-an dengan obat talidomid. Obat ini banyak diresepkan untuk ibu hamil guna mengatasi mual, kecemasan, dan insomnia, padahal belum pernah diuji coba pada populasi tersebut. Hasilnya? Lebih dari 10.000 bayi lahir dengan cacat fisik, dan sekitar 40% meninggal tak lama setelah lahir. Tragedi ini menimbulkan ketakutan luas untuk memasukkan perempuan—terutama yang berpotensi hamil—dalam uji coba klinis.
Akibatnya, selama beberapa dekade, terjadi pengecualian sistematis terhadap perempuan dalam studi fase awal. Model pengembangan obat yang berfokus pada laki-laki menjadi standar, menciptakan data gap yang terus berdampak pada dosis, keamanan, dan pemahaman efek samping hingga kini. Ibaratnya, membangun rumah tapi lupa merancang kamar buat penghuni yang paling banyak.
WIN sendiri punya misi yang jelas: menjadi organisasi nirlaba yang didirikan oleh para pemimpin global di industri nutrasetikal. Tujuannya, membangun dukungan bagi perempuan di bidang ini. Lewat penyediaan alat, jejaring, visibilitas, dan mentoring, WIN berupaya menciptakan lingkungan di mana perempuan memiliki tempat yang setara dalam kepemimpinan dan evolusi industri nutrasetikal global. Sebuah langkah konkret untuk mengatasi ketidakseimbangan.
Hudson juga menyoroti kurangnya keterwakilan perempuan sebagai pemimpin uji coba klinis. Riset dari Bharat Rawlley dkk. (2023) dan Celina Yong dkk. (2023) menunjukkan bahwa gender kepala investigator bisa sangat memengaruhi desain dan interpretasi uji coba. Investigator perempuan dilaporkan berhasil merekrut sekitar 7% lebih banyak pasien perempuan dibandingkan studi tanpa investigator perempuan. Meskipun jumlah kepala investigator perempuan meningkat, representasi keseluruhan masih tergolong rendah, di kisaran 14-22%.
Perubahan status quo memang nggak instan, tapi bukan berarti nggak mungkin. Sejak 1993, sudah ada hukum di AS yang mewajibkan inklusi laki-laki dan perempuan dalam studi klinis. Di Eropa pun, produk harus diuji pada populasi yang akan menggunakannya. Beberapa jurnal ilmiah bahkan menolak menerima studi yang hanya melibatkan laki-laki, kecuali ada alasan kuat untuk pembatasan desain tersebut. Tapi, kemajuan berjalan lambat. Saat ini, hanya sekitar 40% partisipan uji coba klinis yang perempuan.
Alasan partisipasi perempuan yang lebih rendah ini beragam: kekhawatiran akan bahaya yang dirasakan, kurangnya minat, keterbatasan waktu, kondisi kesehatan yang kurang prima, hingga beban perjalanan. Semua alasan ini perlu diatasi secara tuntas untuk memastikan representasi yang setara. Tanpa itu, riset akan terus menghasilkan solusi yang nggak optimal bagi separuh populasi dunia.
