Bagi generasi gamer yang sempat mencicipi masa-masa keemasan rental komputer dan warnet di awal era milenium, suara desing kipas casing tebal dan bunyi putaran keping cakram CD-ROM berkecepatan 52x adalah musik pengantar tidur yang paling menenangkan. Kala itu, menginstal game di komputer berbasis Windows 98 atau Windows ME ibarat memainkan rolet Rusia: kita tak pernah benar-benar tahu apakah game tersebut bakal berjalan lancar, memicu layar biru kematian (blue screen of death), atau menuntut driver kartu grafis baru yang harus diunduh berjam-jam lewat modem dial-up bersuara cempreng.

Namun dari sekian banyak judul game bermasalah yang pernah dilahirkan industri hiburan interaktif, tidak ada satu pun yang mampu menandingi reputasi horor milik Pool of Radiance: Ruins of Myth Drannor.

Game bermain peran (role-playing game) garapan Stormfront Studios dan penerbit SSI yang meluncur pada tahun 2001 itu bukan cuma dipenuhi kutukan bug teknis biasa. Game adaptasi lisensi resmi Dungeons & Dragons (D&D) tersebut mencatatkan dosa paling legendaris dalam sejarah komputasi: jika Anda kecewa memainkannya lalu memutuskan untuk menghapus game itu menggunakan program uninstaller bawaannya, skrip pembersih tersebut dengan dingin akan ikut menyapu bersih seluruh berkas sistem di direktori C:\Windows atau folder utama Program Files. Alih-alih mendapatkan kembali ruang hard disk, gamer era itu malah dihadiahi komputer yang mogok total dan terpaksa diinstal ulang dari nol.

Tangkapan layar pembaruan visual game RPG klasik Pool of Radiance Ruins of Myth Drannor yang dirilis ulang
Tangkapan layar pembaruan visual game RPG klasik Pool of Radiance Ruins of Myth Drannor yang dirilis ulang

Dua puluh lima tahun setelah skandal memalukan tersebut mereda, kabar mengejutkan mendadak datang dari jagat distribusi digital. Sebagaimana dicatat dalam laporan PC Gamer pekan ini, penerbit spesialis game retro SNEG resmi merilis ulang Pool of Radiance: Ruins of Myth Drannor di etalase Steam dan platform GOG yang membuka pintu bagi pencinta game klasik tanpa DRM.

Hebatnya, versi modern ini bukan sekadar berkas emulator lawas yang dijejalkan sembarangan. SNEG melakukan pembenahan teknis menyeluruh: menambahkan dukungan resolusi layar lebar (widescreen), kompatibilitas penuh dengan kontroler modern, fitur pengaturan kecepatan pertarungan, bilah aksi cepat, hingga perbaikan tekstur visual. Dan yang paling melegakan hati siapa saja yang sempat trauma di masa remaja: program pembersihnya dipastikan sudah dijinakkan, sehingga Anda tidak perlu takut partisi sistem operasi Anda terhapus saat hendak mencopot game ini dari komputer.

Mendengar kabar kembalinya sang legenda terkutuk ini, sebagian komunitas gamer purba mungkin tergoda untuk bernostalgia sembari mengagumi keberanian penerbit yang mau repot-repot memulihkan game yang dulunya diejek habis-habisan. Apalagi di tengah lesunya industri game modern yang kerap meluncurkan karya setengah matang berharga jutaan rupiah, kehadiran kembali peninggalan era aturan D&D Edisi Ketiga terdengar seperti hiburan alternatif yang menggoda.

Namun mari kita jujur pada diri sendiri dan menanggalkan kacamata nostalgia yang sering kali menipu. Mengangkat kembali Ruins of Myth Drannor ke permukaan sesungguhnya membuktikan satu hal: game yang pada dasarnya membosankan tidak akan mendadak berubah menjadi mahakarya hanya karena bug penghancur hard disk-nya sudah diperbaiki.

Di balik reputasi bug-nya yang menghebohkan, gameplay inti game ini sejatinya adalah penjelajahan ruang bawah tanah (dungeon crawl) berbasis giliran yang luar biasa lambat dan repetitif. Menggerakkan karakter dari satu lorong batu ke lorong batu lainnya terasa seperti menyeret karung beras basah. Setiap pertempuran melawan sekelompok goblin rendahan bisa memakan waktu belasan menit hanya untuk menunggu giliran animasi berjalan. Game ini tidak memiliki kedalaman narasi emosional atau dinamika pilihan moral yang memukau seperti waralaba RPG legendaris lainnya.

Bagi gamer Indonesia yang saat ini sudah cukup pusing menghadapi masalah ukuran instalasi raksasa yang menyiksa penyimpanan komputer, bernostalgia dengan game seberat beberapa ratus megabita memang terasa menyegarkan. Kita setidaknya bisa mengapresiasi upaya pengarsipan digital (video game preservation) yang dilakukan SNEG. Membiarkan game cacat tetap bisa diakses secara legal adalah bagian penting dari edukasi sejarah agar pengembang generasi sekarang paham betapa berbahayanya meremehkan pengujian kualitas (quality assurance).

Kendati demikian, menghabiskan waktu puluhan jam menyusuri labirin Myth Drannor yang monoton di tahun 2026 jelas membutuhkan tingkat kesabaran setara pertapa gua. Gamer modern sudah terbiasa dengan ritme aksi yang tanggap dan desain antar-muka yang memanjakan kenyamanan pemain. Memaksa diri menatap layar statis selama berjam-jam demi membuktikan bahwa diri kita adalah gamer garis keras sejati sering kali berakhir dengan rasa kantuk yang tak tertahankan di depan monitor.

Merayakan kembalinya Pool of Radiance hari ini pada akhirnya lebih mirip seperti reuni dengan teman lama yang dulu pernah meminjam uang jajan lalu kabur tanpa kabar. Kita senang melihatnya masih hidup dan tampak jauh lebih rapi, tetapi untuk mengajaknya nongkrong berlama-lama sampai larut malam, rasanya tabungan waktu kita masih terlalu berharga untuk disia-siakan.