Pernahkah Anda sedang asyik mengetik pesan singkat di aplikasi perpesanan menggunakan usapan jempol (swipe-typing), lalu mendadak kata yang Anda maksudkan menolak muncul di barisan prediksi atas keyboard? Biasanya, reaksi spontan kita adalah menyalahkan kondisi fisik: mengira layar smartphone sedang berminyak sehabis memegang gorengan, atau merasa jempol kita sendiri yang kurang presisi bermanuver di atas kaca. Kita jarang sekali curiga bahwa di balik layar bening itu, ada barisan algoritma yang sengaja menahan kata tersebut agar tidak meluncur bebas.

Kecurigaan itulah yang akhirnya terjawab secara gamblang baru-baru ini. Sebagaimana dicatat dalam laporan The Verge dan kantor berita Reuters pekan ini, seorang peneliti keamanan perangkat lunak bernama Derik Kauffman membongkar berkas konfigurasi tersembunyi di dalam sistem operasi iOS milik Apple. Temuannya cukup bikin dahi berkerut: pabrikan yang bermarkas di Cupertino itu ternyata menanamkan daftar hitam rahasia berisi lebih dari seratus ribu kata dan frasa dalam berbagai bahasa dunia yang sengaja dipasung dari fitur autocomplete dan pengetikan berbasis usap.

Daftar sensor tersebut merentang sangat luas dan sarat muatan politis. Mulai dari istilah makian vulgar, teori konspirasi kesehatan seputar pandemi, hingga sindiran politik tajam terhadap tokoh-tokoh negara adidaya. Apple memang tidak mematikan kata-kata itu secara total. Pengguna tetap bisa mengetikkan istilah terlarang tersebut, asalkan mau bersusah payah menekan abjadnya satu demi satu secara manual seperti murid sekolah dasar yang baru belajar membaca.

Tampilan keyboard virtual di layar smartphone iPhone
Tampilan keyboard virtual di layar smartphone iPhone

Namun bagi siapa pun yang terbiasa menelaah polah tingkah korporasi teknologi dengan kacamata sysadmin warkop yang kritis, argumen pembiaran tersebut adalah bentuk pembelaan yang naif. Di zaman komunikasi kilat di mana kecepatan respons menjadi segalanya, mencabut sebuah kata dari fitur saran otomatis adalah bentuk sensor halus yang sangat efektif (subtle friction). Dengan menambahkan rasa malas bagi pengguna untuk mengeja kata tertentu, perusahaan raksasa ini secara sadar tengah mengarahkan kosakata publik ke zona nyaman yang steril dan ramah pengiklan.

Di panggung peluncuran tahunan dengan sorotan tata cahaya megah, Apple selalu gemar memposisikan dirinya sebagai pelindung suci hak-hak individu. Segala fitur dirancang dengan embel-embel menjaga keamanan data dan menghormati kebebasan pengguna. Namun temuan daftar hitam keyboard ini membuktikan bahwa batas antara moderasi konten yang bertanggung jawab dan campur tangan moral korporat sering kali sangat tipis. Tanpa pernah meminta persetujuan pemilik perangkat, para insinyur perangkat lunak di Silicon Valley merasa berhak menentukan diksi mana yang pantas meluncur mulus dan diksi mana yang harus dipersulit perjalanannya.

Bagi masyarakat pengguna gadget di tanah air yang sehari-hari bergantung pada gadget modern, fenomena ini memperlihatkan rapuhnya kedaulatan kita sebagai konsumen. Kita merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah untuk membeli gadget premium, namun di dalam genggaman tangan, perangkat itu tetap beroperasi di bawah kendali ideologis sang pembuat mesin. Diskusi seputar pengawasan ruang privat digital selama ini sering kali hanya berkutat pada ancaman pencurian data oleh peretas jahat, sembari kita menutup mata bahwa korporasi penyedia platform itu sendirilah yang setiap hari mengontrol cara kita berbicara di ruang digital.

Melihat kelakuan korporasi Silicon Valley yang gemar bertindak layaknya orang tua protektif ini, warganet di tanah air sebenarnya punya siasat tandingan yang sudah teruji zaman: kelihaian berbahasa gaul dan humor pelesetan. Sejak era forum internet lawas hingga linimasa media sosial modern, sensor algoritma kaku semacam ini selalu kedodoran membendung kegembiraan obrolan warga. Ketika sebuah kata resmi dilarang atau dipersulit kemunculannya, jemari anak muda kita dengan lincah melahirkan ratusan variasi ejaan baru, singkatan akronim, hingga pelesetan fonetik yang jauh lebih tajam dan mengocok perut. Sensor korporat yang dirancang di ruang rapat dingin di California mendadak terlihat kikuk begitu berhadapan dengan keliaran bahasa tongkrongan warkop kita.

Ada ironi yang cukup getir ketika melihat perusahaan yang dulu mendobrak industri komputer lewat slogan legendaris Think Different kini justru menyetel mesinnya agar jutaan orang mengetik dengan cara yang seragam. Lain kali jika keyboard ponsel pintar Anda mendadak mogok melengkapi kalimat satir yang ingin Anda kirimkan ke grup obrolan, tidak perlu buru-buru mengelap layar. Nikmati saja momen itu sebagai tanda bahwa Anda sedang dibimbing dengan santun oleh korporasi triliunan dolar.