Bagi siapa saja yang menghabiskan separuh hidupnya di balik meja kubikel berpendingin udara di gedung perkantoran ibu kota, melangkah keluar pintu lobi saat jam makan siang sering kali memicu kepanikan kecil yang ganjil. Begitu hawa panas jalanan menyapa kulit, refleks spontan kita bukan lagi buru-buru mencari naungan pohon rindang atau warung es teh terdekat.
Jari-jemari kita justru sibuk merogoh saku celana, membuka kunci smartphone, lalu menatap layar kaca demi memeriksa aplikasi cuaca. Kita butuh kepastian algoritma untuk meyakinkan diri sendiri bahwa udara di luar memang terasa terik. Jika indikator ponsel belum menampilkan angka indeks ekstrem berwarna merah menyala, kita seolah belum merasa berhak untuk mengeluh gerah.
Ketergantungan kronis pada layar kaca ini rupanya belum cukup memuaskan nafsu industri perangkat keras modern. Mengapa repot-repot melirik ponsel jika Anda bisa menggantungkan komputer kecil di leher Anda seharian penuh?

Absurditas teknologi mutakhir tersebut resmi menemukan wujud fisiknya pekan ini. Sebagaimana dicatat dalam laporan pengujian gadget oleh jurnalis Sheena Vasani di The Verge, sebuah perangkat sandang mutakhir berbentuk kalung pintar bernama The Gem resmi diperkenalkan ke pasar komersial. Dihargai sebesar 90 dolar Amerika Serikat atau berkisar di angka 1,4 juta rupiah di luar biaya pajak impor, kalung mungil ini dibekali sensor khusus untuk memantau akumulasi radiasi sinar ultraviolet (UV) yang mengenai tubuh pemakainya secara langsung.
Cara kerjanya dibuat seringkas mungkin untuk memanjakan generasi serba instan. Perangkat ini tidak memiliki layar penampil apa pun demi menjaga estetika perhiasan minimalis. Sensor optik di kalung tersebut terus-menerus mengukur intensitas cahaya sekitar, lalu mengirimkan datanya lewat sambungan nirkabel Bluetooth ke aplikasi ponsel cerdas. Begitu paparan sinar matahari dinilai telah melampaui ambang batas aman bagi kesehatan kulit, aplikasi akan memunculkan alarm peringatan berbunyi nyaring: menyuruh pengguna segera menepi ke tempat teduh atau mengoleskan ulang krim tabir surya.
Pemandangan ini menyuguhkan ironi yang menggelikan di tengah kancah teknologi konsumen hari ini. Nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu—bahkan para petani dan buruh pelabuhan di pesisir Pantura hari ini—tidak pernah membutuhkan sambungan internet atau sensor silikon berdaya baterai koin untuk menyadari bahwa sengatan matahari jam satu siang sanggup memanggang kulit punggung. Manusia telah dibekali ratusan ribu reseptor saraf biologis di sekujur kulit yang bertugas mengirimkan sinyal rasa panas ke otak secara instan tanpa perlu menunggu pembaruan firmware.
Namun di tangan para insinyur lembah silikon dan pemodal ventura, kemampuan alami tubuh manusia tersebut berhasil dipreteli lalu dijual kembali sebagai solusi revolusioner. Kita sengaja dibuat tidak percaya pada sinyal biologis tubuh sendiri demi melanggengkan kultus kuantifikasi diri (quantified self).
Semua hal wajib diukur, dicatat, dan diubah menjadi diagram batang berwarna-warni di layar ponsel. Mulai dari berapa langkah kaki yang kita ayunkan, berapa mililiter air yang kita teguk, berapa denyut nadi saat tidur, hingga kini urusan merasakan hangatnya sinar matahari pun harus diserahkan kepada izin aplikasi.
Bagi kelas pekerja urban yang gajinya kerap terkuras untuk membeli ragam gadget pintar pelacak kesehatan, tren ini sejatinya adalah ilusi kenyamanan yang rapuh. Fenomena ini terasa sangat akrab dengan kebiasaan buruk masyarakat modern, mengulang kebiasaan buruk memaksakan fisik saat push rank hingga sendi kaku di mana tubuh sudah merintih kelelahan namun terus diabaikan demi skor virtual. Begitu pula derita pekerja digital saat bodi laptop panas membakar paha saat dipaksa lembur, kita lebih memilih membeli kipas tambahan ketimbang menutup laptop dan beristirahat.
Para perancang teknologi sengaja menanamkan kecemasan medis berlebihan (health anxiety) ke benak konsumen. Kita dibuat cemas bahwa melangkah tanpa kalung sensor akan membuat kulit kita rusak seketika. Padahal, masalah kesehatan masyarakat perkotaan hari ini bukan karena ketiadaan sensor radiasi di leher, melainkan pola kerja eksploitatif yang memaksa orang terkurung sepuluh jam di ruangan ber-AC tanpa pernah melihat cahaya fajar secara wajar.
Membeli kalung sensor seharga satu setengah juta rupiah demi menerima peringatan bahwa matahari di luar sedang panas terik barangkali adalah cara paling boros untuk membuktikan bahwa kita masih berstatus manusia hidup. Jika suatu hari baterai kalung tersebut habis dan Anda kebingungan menentukan apakah Anda sedang kepanasan atau tidak, barangkali yang eror sejak awal memang bukan sensor radionya, melainkan akal sehat kita sendiri.
