Dulu, ketika dunia masih selebar daun kelor dan internet belum menjajah setiap sudut kehidupan, traveling itu ibarat ritual sakral. Orang-orang berbondong-bondong mencari pengalaman baru, bukan sekadar foto aesthetic buat pamer di feed. Salah satu rute yang populer adalah "hippie trail", dan Maroko jadi checkpoint wajib. Di sanalah, di tengah aroma eksotis dan janji spiritual enlightenment (dan tentu saja, hashish), lahir sebuah lagu legendaris: Marrakesh Express.

Perjalanan Spiritual Graham Nash dan Kereta Kelas Tiga yang Lebih Seru

Tahun 1966, Graham Nash, yang saat itu masih jadi pentolan The Hollies, memutuskan untuk kabur sejenak dari rutinitas. Bukan kabur ke Bali atau Labuan Bajo, tapi ke Marrakesh. Naik kereta dari Casablanca, Nash awalnya duduk manis di kelas satu, dikelilingi tante-tante Amerika tajir yang rambutnya dicat biru. Tapi, namanya juga jiwa petualang, Nash nggak betah. Dia pindah ke kelas tiga, tempat "all the magic happened".

Di kelas tiga, Nash menemukan dunia yang jauh lebih berwarna: orang-orang masak makanan aneh di atas kompor kayu, ayam, babi, kambing berkeliaran bebas. Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasinya untuk menulis Marrakesh Express, lagu yang liriknya penuh dengan gambaran eksotis tentang Marrakesh: "animal carpet wall-to-wall", "coloured cottons", dan "charming cobras in the square". Tapi, di balik lirik yang ceria, ada juga semacam kegelisahan, kerinduan untuk mencari sesuatu yang lebih.

Ketika The Hollies Nggak Sefrekuensi: Nggak Semua Orang Suka Kebun Binatang Berjalan

Marrakesh Express ditulis saat The Hollies tur Yugoslavia tahun 1967. Sebenarnya, Nash punya beberapa lagu baru yang menunjukkan perkembangan dirinya sebagai songwriter. Dia ingin membawa The Hollies keluar dari zona nyaman singles market dan masuk ke wilayah yang lebih eksperimental, seperti The Beatles atau The Byrds. Tapi, sayangnya, nggak semua personel The Hollies punya visi yang sama. Mereka enggan merekam Marrakesh Express, dan hanya sempat bikin backing track di Abbey Road tahun 1968.

Menurut Nash, hasilnya "not very good". Dia juga menulis lagu-lagu lain seperti Lady Of The Island dan Right Between The Eyes, tapi The Hollies tetap nggak tertarik. Padahal, kalau dipikir-pikir, The Hollies ini kayak lagi nolak rezeki nomplok. Mungkin mereka lebih suka main aman, daripada mencoba sesuatu yang baru dan berisiko.

Marrakesh Express: Lebih dari Sekadar Lagu Pop Psychedelic

Marrakesh Express bukan cuma sekadar lagu pop psychedelic yang enak didengar. Lagu ini juga jadi semacam simbol perubahan dalam diri Nash. Dia mulai tertarik dengan counterculture dan gaya hidup yang lebih bebas. Dia satu-satunya personel The Hollies yang berani mencoba LSD dan mariyuana. Ditambah lagi, King Midas In Reverse, salah satu komposisi terbaiknya, nggak terlalu sukses di pasaran. Nash merasa sudah saatnya untuk pindah haluan.

Kepindahan Nash ke California juga nggak terjadi begitu saja. Saat The Hollies pertama kali ke LA tahun 1966, dia dikenalkan ke Cass Elliot (Mamas & The Papas), salah satu tokoh penting di kancah musik California. Cass kemudian mengenalkannya ke David Crosby (The Byrds), seorang penyanyi dan songwriter handal.

David Crosby: Ketika Pertemanan Mengalahkan Showbiz

"Gue udah lama berkecimpung di dunia showbiz bareng The Hollies," kata Nash. "Tapi, Crosby dan The Byrds beda. Mungkin ada perbedaan budaya, tapi nggak ada perbedaan musik di antara kita. Gue tahu dia serius banget soal musik, The Byrds adalah band yang hebat, dan modal stuff yang gue suka di musik mereka sebagian besar karena David. Pas Cass ngenalin kita, langsung jadi teman akrab."

Crosby dan Nash sering bertemu dalam beberapa tahun berikutnya. Musim panas 1968, keduanya berada di persimpangan jalan dalam karier mereka. Crosby baru saja dipecat dari The Byrds, sementara Nash sudah memutuskan untuk keluar dari The Hollies. Di saat yang sama, Stephen Stills juga baru saja mengakhiri kariernya di Buffalo Springfield. Singkat cerita, Stills dan Crosby sudah sering jamming bareng sebelum Nash diajak bergabung. Hasilnya? Sensasional. Crosby, Stills & Nash lahir sebagai sebuah kekuatan baru.

Ketika Marrakesh Express Mendapatkan Rumah Baru di CSN

November 1968, Nash resmi keluar dari The Hollies dan terbang ke California. Dia numpang tinggal di rumah Crosby. Ketika tiba saatnya memilih lagu untuk album debut mereka, Nash mengajukan Marrakesh Express. Lagu ini direkam di studio Wally Heider's LA pada Februari 1969.

Gitar Stills melaju kencang, menggambarkan perjalanan kereta Nash dari Casablanca. Ada optimisme yang terpancar dari lagu ini. Liriknya mungkin agak nggak masuk akal, tapi Nash bernyanyi dengan penuh semangat, mengajak semua orang untuk ikut naik kereta. Kita bisa merasakan matahari terbenam dari balik jendela.

Supergroup dan Soundtrack Counterculture: Sebuah Kombinasi Mematikan

Dirilis pada Mei 1969, album Crosby, Stills & Nash menandai kelahiran supergroup pertama Amerika dan menjadi soundtrack definitif bagi counterculture. Marrakesh Express dirilis sebagai single utama dan masuk Top 30 Billboard. Di Inggris, lagu ini mencapai No.17 dan menjadi satu-satunya lagu CSN yang masuk Top 20. Sampai sekarang, lagu ini tetap jadi favorit Nash.

“Gue pikir lagu ini lucu pas gue nulis,” kata Nash. “Ini bukan lagu terbaik di dunia, tapi orang-orang masih suka banget setiap kita nyanyiin live. Setiap kita butuh sesuatu yang ringan dan uptempo, kita pasti milih lagu ini.”

Warisan Abadi Sebuah Perjalanan Kereta dan Sebuah Lagu yang Bikin Bahagia

Marrakesh Express adalah bukti bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari perjalanan kereta kelas tiga yang penuh dengan ayam dan kambing. Lagu ini juga menunjukkan bahwa perubahan itu perlu, bahkan jika itu berarti harus keluar dari zona nyaman dan mencari teman baru. Dan yang terpenting, lagu ini adalah pengingat bahwa musik yang bagus bisa bikin kita bahagia, sesederhana itu.